Tekno Solution

Tekno Solution
Tampilkan postingan dengan label ASKEP JIWA DAN PERSARAFAN. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label ASKEP JIWA DAN PERSARAFAN. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 14 April 2012

EPILEPSI




A.    Pengertian
            Epilepsi adalah gejala kompleks dari banyak gangguan fungsi otak berat yang dikarakteristikkan oleh kejang berulang. Keadaan ini dapat dihubungkan dengan kehilangan kesadaran, gerakan berlebihan atau hilangnya tonus otot atau gerakan dan gangguan perilaku, alam perasaan, sensasi dan presepsi, sehingga epilepsi bukan suatu penyakit tetapi suatu gejala. Masalah dasarnya diperkirakan dari gangguan listrik (disritmia) pada sel saraf pada sala satu bagian otak, yang menyebabkan sel ini mengeluarkan muatan listrik abnormal, berulang dan tidak terkontrol. Karakteristik kejang epileptie adalah suatu manifestasi muatan neuron berlebihan ini. ( KMB 8 Vol.3, halaman 2203 ).
B.    Anatomi dan Fisiologi
            Otak dibagi menjadi 3 bagian, yakni otak depan, otak tengah, dan otak belakang.
            Otak depan merupakan bagian terbesar yang disebut sereblum, yang dibagi dalam dua hemister, yaitu hemister kanan dan hemister kiri oleh fisura longitudional. Pemisahan kompleks di bagian depan, dan bagian belakang, tetapi di bagian tengah hemister dihubungkan oleh serabut pita lebar yang disebut korpus kalosum. Lapisan luar sereblum disebut korteks serebri yang tersusun atas badan abu – abu (badan sel) yang berlipat – lipat yang disebut qeri yang dipisahkan pisura yang disebut sulci. Ini memungkinkan permukaan otak menjadi luas. Pola umum qeri dan sulci sama pada setiap individu. Tiga sulci utama membagi tiap hemister menjadi 4 lobus. Sulkus sentral membentang dari bawa ke atas, dari puncak hemister ke suatu tempat bawah suklus lateral. Suklus lateral membentang ke belakang dari bagian bawah otak depan dan suklus parieto – oksipital membentang ke depan dan kebelakang dalam jalur pendek dari bagian posterior atas hemister. Lobus hemisfer terdiri dari lobus frontal melintasi didepan sulcus sentral dan diatas parieto eksipitalis dan di atas garis sulkus lateral temporal terletak di bawah sulkus lateral dan meluas kebelakang lobus eksipital.
            Rongga dalam otak disebut ventrikal. Ada dua ventrikal lateral, satu buah ventrikel tengah ( ventrikel ketingga di tengah ) dan keempat  semua berisi cairan serebiospinal.
            Otak tengah terletak di antara otak depan dan otak belakang, panjang kira – kira 2 cm dan terdiri atas dua buah pita seperti tangkai dari bahan – bahan putih, yang disebut pedunkulus serebli yang membawa implus melewati dan berasal dari otak dan medula spinalis dan empat tonjolan kecil, yang disebut badan kuadrigiminali, yang berperan dalam mafuk pengelihatan dan pendengaran. Badan pineal terletak diantara dua badan kuadrigeminal, yang berperan dalam refleks pengelihatan dan pendengaran. Badan pineal terletak diantara dua badan kuadrigeminal bagian atas.
Otak belakang terdiri atas 3 bagian
1)    Poros yang terletak di antara otak tenga bagian atas dan medulla oblongata bagian bawah. Pons mengandung serabut saraf yang membawa impuls saraf ke atas dan ke bawah dan beberapa serabut yang menyatu dengan sereblum.
2)    Medula oblongata terletak di antara bagian atas dan medulla spinalis di bagian bawah. Struktur ini berisi pusat jantung dan pusat pernapasan dan juga diketahui sebagai pusat vital yang mengontrol jantung dan pernapasan.
3)    Serebrum bertanggungjawab terhadap aktifitas otot, kontrol tonus otot dan upaya mempertahankan postur tubuh secara terus – menerus. Sereblum menerima impuls sensori tentang derajad ketegangan otot, posisi sendi, dan informasi dari korteks serebri.
            Otak tengah, ponsi dan medulla memiliki beberapa fungsi yang sama dan secara keseluruhan sering disebut sebagai batang otak. Area ini juga mengandung nukleus yang berasal dari saraf krania ( Anatomi dan Fisiologi untuk Perawat, hal.73 – 79 ).

C.    Insidens
            Kira – kira 1 % populasi ( lebih dari 2 juta orang di Amerika Serikat mengalami epilepsi, dengan 100.000 kasus baru terdiagnosis setiap tahun. Telah ada penimgkatan insiden gangguan ini, kemungkinan karena sejumlah faktor. Perbaikan perawatan secara obstertik dan neonatalmenyebabkan bayi yang mengalamigawat nafas, sirkulasi dan kegawatan lainnya selama  persalinan, bayi ini dapat dipredisposisikan pada kejang intermiten. Perbaikan penatalaksanaan medis, bedah dan keperawatan terhadap pasien dengan cedra kepala, tumor otak, meningitis dan ensepalitis, menyelamatkan pasien dengan kondisi ini dapat menimbulkan perubahan serebral erebral dengan kejang resultan. Demikian juga elektroensetalografi (EEG) dapat membantu dalam mengidentifikasi pasien dengan epilepsi. Pendidikan telah memberi informasi kepada masyarakat dan telah mengurangi stigma yang berhubungan dengan kondisi ini, sehingga makin banyak orang akan mengakui bahwa mereka mangalami epilepsy.(KMB, edisi 8, vol.31, halaman 2203).
D.    Patofisiologi
            Aktifitas serangan epilepsy apat terjadi sesudah suatu gangguan. Pada otak dan sebagian ditentukan oleh derajat dan lokasi dari lesi, lesi pada mesansefalon, thalamus dan korteks serebrikemungkinan besar bersifat epileptogenetik sedangkan lesi pada sereblum dan batang otak biasanya tidak menimbulkan serangan epilepsy.
            Pada membran sel, neuron epileptik ditandai oleh fenomena biokimia tertentu, beberapa diantaranya adalah,
1.     Ketidak stabilan membrane sel saraf sehingga sel mudah diaktifkan
2.     Neuron hipersensitif dengan ambang yang menurun sehingga mudah terangsang secara berlebihan.
3.     Mungkin terjadi polarisasi yang abnormal (polarisasi berlebihan, hiperpolarisasi, atau terhentinya polarisasi )
4.     Keseimbangan ion yang mengubah lingkungan kimia dari neuron paa waktu serangan, keseimbangan elektrolit pada tingkat neuronal mengalami perubahan, ketidakseimbangan ini akan menyebabkan membrane neuron akan mengalami depolarisasi.
            Perubahan –perubahan metabolisme yang terjadi selama serangan dan segera sesudah serangan antra lain disebabkan juga oleh peringatan kebutuhan energi akibat hiperaktifitas neuron. Kebutuhan metabolisme meningkat secara drastic selama serangan kejang. Pengeluaran energi listrik oleh sel-sel syaraf motorik dapat meningkat sampaI 100/Detik. Aliran darah serebral meningkat , demikian juga pernapasan jaringan dan glikolisis. Selama dan sesudah serangan, cairan serebrospinal mengandung asetilkoling, sedangkan kadar asam glutamate mungkin menurun selama serangan.
            Pada waktu diadakan otopsi tidak ditemukan perubahan makroskopis, Bukti histopathologis menyokong hipotesis bahwa lesi sesungguhnya bersifat neurokimia dan bukan structural. Tidak ditemukan adanya faktor patologis yang konsisten. Diantara serangan ditemukan kelainan lokal pada metabolisme kalium dan asetilkolin. Agaknya tempat yang mengalami serangan: Sangat peka peka terhadap asetilkolin, yaitu suatu transmitter fasilitator.Pembuangan dan penguikatan asetilkolin berlangsung lamban. ( Patofisiologi, edisi 2, 2002, hal 278- 279)

E.    Penyebab
            Penyabab kejang  pada banyak orang tidak diketahui. Para ahli peneliti, menimbulkan kejang dalam percobaan binatang melalui cedera pembedahan atau kimia stimulus elektrik. Epilepsi sering terjadi akibat trauma lahir, Asphyxsia neonatorum, cedera kepala, beberapa penyakit infeksi, ( Bakteri,Virus,Parasit ), keracunan (Karbon monoksida dan menunjukan keracunan ), masalah-masalah sirkulasi, demam, gangguan metabolisme dan nutrisi/Gizi dan intoksikasi obat-obatan atau alcohol juga dapat dihubungkan dengan adanya tumor otak, Abses, dan kelainan bentuk bawaan  Dalam banmyak ksus epilepsy tidak diketahui penyebabnya (Idiopatik ). Keadaan yang menyebabkan kelemahan un tuk beberapa tipe dapat diwariskan. Epilepsi yang menyerang sebelum usia 20 tahun merupakan kelompok terbesar yaitu 75% dari jumlah pasien epilepsy seluruhnya.
            Pada banyak kasus epilepsy sedikit memopengaruhi inteligensi. Indivudu epiolepsi yang tidak mengalami kerusakan otak atau sitem syaraf lainnya mempunyai tingkat inteligensia seperti populasi lainnya. Epilepsi tidak sama dengan retardsi atau penyakit mental. Kadang-kadang beberapa orang yang mengalami epilepsy sebenarnya mereka mengalami penurunan karena kerusakan neurologis yang serius, sehingga rata-rata IQ untuk emua penderita epilepsi ini dibawah tingkat  IQ normal (KMB, vol 8, edisi 3, 2002, hal 2204).

F.    Pencegahan
            Upaya sosial luas yang menggabungkan tindakan luas harus ditingkankan untuk pencegahan epilepsy. Resiko epilepsy muncul pada bayi dari ibu yang menggunakan obat anti kobnfulsi yang digunakan selama kehamilan.Ibu-ibu yang mempunyai resiko tinggi (Tenaga kerja wanita dengan latar belakang sukar melahirkan, Penggunaan obat-obatan,Diabetes, Atau hipertensi) harus diidentifikasi dan dipantau ketat selama hamil karena lesi pada otak atau cedera akhirnya menyebabkan kejang yang terjadi pada janin selama kehamilan dan persalinan.
            Infeksi pada masa kanak-kanak (campak,penyakit gondongan,meningitis bakteri ) harus dikontrol dengan vaksinasi yang benar. Keracunan timbale adalah penyebab lain dari epilepsi yangt dapat dicegah.orang tua dan anak yang pernah mengalami kejang demam harus diinstruksikan tentang metode untuk mengontrol demam (kompres dingin, obat anti piretika ).
            Cedera kepala merupakan salah satu penyebab utama yang dapat dicegah melalui program yang memberi keamanan yang tinggi dan tindakan pencegahan yang aman, tetapi juga mengembangkan pencegahan epilepsy akibat cedera kepala.
            Program skrining untuk mengidentifikasi anak gangguan kejang pada usia dini, dan program p[encegahan kejang dilakukan dengan penggunaan obat-obatan anti konfulsan secara bijaksana dan modifikasi gaya hidup merupakan bagian dari rencana pencegahan ini.( KMB, vol 8, edisi 3, 2002, hal 2204

G.   Manifestasi Klinis
            Bergantung pada lokasi muatan neuron – neuron, kejang dapat direntang dari serangan awal sederhana sampai gerakan konvulsif memanjang dengan hilangnya kesadaran. Variasi kejang diklasifikasikan secara internasional sesuai daerah otak yang terkena dan telah diidentifikasi sebagai kejang parsial, umum dan tidak diklasifikasikan. Kejang persial asalnya fokal dan hanya mengenai sebagian otak. Kejang umum asalnya tidak spesifik dan mengenai seluruh otak secara silmutan. Kejang yang tidak diklasifikasikan disebut demikian karena data – data yang tidak lengkap.
            Pola awal kejang menunjukan daerah otak dimana kejang tersebut berasal. Juga penting untuk menunjukan jika pasien mengalami aura, suatu sensai tanda sebelum kejang epileptik, yang dapat menunjukkan asal kejang ( mis. Melihat kilatan sinars dapat menunjukkan kejang berasal dari lobus oksipital ).
            Pada kejang parsial sederhana, hanya satu jari atau tangan yang bergetar, atau mulut dapat tersentak tak terkontrol, individu ini bicara yang tak dapat dipahami, pusing, dan mengalami sinar, bunyi, bau atau rasa yang tidak umum dan tidak nyaman.
            Pada kejang persial kompleks, individu tetap tidak bergerak atau bergerak secara automatis tetapi tidak tepat dengan waktu dan tempat, atau mengalami emosi berlebihan, yaitu takut, marah, kegirangan, atau peka terhadap rangsagan. Apapun manifestasinya, individu tidak ingat episode tersebutketika telah lewat.
            Kejang umum, lebih umum disebut sebagai kejang grand mal, melibatkan kedua hemisfer otak, yang menyebabkan kedua sisi tubuh bereaksi. Mungkin ada kekakuan intens pada seleruh tubuh yang diikuti dengan kejang yang bergantian dengan relaksasi dan kontraksi otot, (kontraksi tonik klonik umum). Kontraksi simultan diafragma dan otot dda dapat menimbulkan menangis epileptik karakteristik. Sering lida tertekan dan pasien mengalami inkontinen urine dan fases. Setelah satu atau dua menit, gerakan konvulsif mulai hilang, pasien rileks dan mengalami koma dalam, bunyi nafas bising. Pada keadaan postikal (setelah kejang) pasie sering konfusi dan sulit bangun, dan tidur selama berjam – jam, banyak pasien mengeluh sakit kepala atau sakit otot.
            Klasifikasi internasional terhadap kejang,
Kejang persial (kejang yang dimulai setempat)
a.     Kejang persial (kejang yang dimulai setempat)
·       Dengan gejala - gejala motorik
·       Dengan gejala – gejala sensorik khusus atau sematosensori
·       Dengan gejala – gejala otonom
·       Bentuk – bentuk campuran
b.     Kejang parsial kompleks (dengan gejala kompleks umum umumnya dengan gangguan kesadaran)
·       Dengan hanya gangguan kesadaran
·       Dengan gejala – gejala kognitif
·       Dengan gejala – gejala arektif
·       Dengan gejala – gejala psikosensori
·       Dengan gejala – gejala psikomotor (automatis)
·       Bentuk – bentuk tambahan
c.     Kejang persial sekunder menyeluruh
Kejang umum  (simetrik bilateral, tanpa awitan lokal)
·       Kejang tonok klonok
·       Kejang tonik
·       Tidak ada kejang
·       Kejang atonik
·       Kejang mioklonik (epilepsi bilateral yang luas)
·       Spasme kelumpuhan(KMB, vol 8, edisi 3,2002, hal 2204)

H.    Diagnosis Penunjang
            Pengkajian diagnostik bertujuan dalam menentukan tipe kejang, frekuensi dan beratnya dan faktor – faktor pencetus. Riwayat perkembangan yang mencakup kejadia kehamilan dan kelahiran, untuk mencari kejadian cedra sebelum kejang. Sebelum penelitian dibuat untuk penyakit atau cedra kepala yang dapat mempengruhi otak. Selain itu dilakukan pengkajian fisik dan neurologik, hematologik, dan pemeriksaan serologik. Pencitraan CT digunakan untuk mendeteksi lesi pada otak, fokal abnormal, serebrovaskuler abnormal dan perubahan degeneratif serebral.
            Elektroensefalogram (EEG) melengkapi bukti diagnosis dalam proporsi substansial dari pasien epilepsi dan membantu dalam mengklasifikasikan tipe kejang. Keadaan abnormal pada EEG selalu terus – menerus mungkin akibat dari hiperventilasi atau selama tidur. Ditambah lagi mikroelektroda dapat dimasukkan kedalam otak untuk memeriksa aksi dari sel otak tunggal. Ini perlu dicatat kadang – kadang beberapa orang mengalami kajang dengan nilai EEG yang normal. Telemetri dan alat komputer digunakan untuk mengambil dan sebagai pusat pembacaan EEG dalam pita komputer sambil pasien melakukan aktifitas mereka. Rekaman video kejang dilakukan secara simultan dengan telemetri EEG bermanfaat dalam penentuan tipe kejang secara durasi san besarnya. Tipe pemantauan insentif ini sedang mengubah tindakan terhadap epilepsi  berat ( di Amerika Serikat ).(KMB, vol 8, edis 3, 2002, hal 2205).

I.       Penatalaksanan
            Piñatalaksanaan epilepsi dilakukan secara individual untuk memenuhi kebutuhan khususnya masing – masing pasien dantidak hanya untuk mengatasi tetapi juga untuk mencegah kejang. Penatalaksanaan dari satu pasien dengan pasien lainya karena beberapa epilepsi yang muncul akibat kerusakan otak dan selain itu bergantung pada perubahan kimia otak.
            Farmakoterapi, beberapa obat antikonvulsi diberikan untuk mengontrol kejang, walaupun mekanisme kerja zat kimia dari obat – obatan terebut tetap masih tidak diketahui. Tujuan dari pengobatan adalah untuk mencapai pengontrolan kejang dengan efek samping minimal.  Tetapi medikasi lebih untuk mengontrol daripada untuk mengobati kejang. Obat diseleksi sesuai tipe kejang yang akan diobati dan keefektifkan secara keamanan medikasi. Jika obat ditentukan dan digunakan, maka obat – obatan mengontrol kejang 50% sampai 60% pasien mengalami kejang berulang, dan memberikan control persial 15% sampai 35%. Kondisi dari 15% sampai 35% pasien tidak membaik dengan medikasi yang ada.
            Biasanya pengobatan dimulai dengan medikasi tunggal. Dosis awal dan kecepatan dimana dosis ditingkatkan bergantung pada ada tidaknya efek samping yang terjadi. Kadar medikasi dalam dipantau, karena percepatan arbsobsi obat bervariasi untuk setiap orang.
            Pengubahan obat – obatan lainya mungkin diperlukan jika kontrol kejang tidak tercapai atau bila peningkatan dosis memungkinkan terjadi toksitas. Pemberian obat membutuhkan pengaturan karena disesuaikan dengan penyakit yang terjadi, perubahan berat badan dan peningkatan stres .menghentikan obat antikolvusan dengan tibah – tibah dapat menyebabkan kejang lebih sering terjadi atau dapat menimbulkan status epileptik
            Efek samping dari medikasi ini dapat dibagi menjadi tiga kelompok : pertama, gangguan idiosinkratik atau alergik, yang muncul dalam bentuk reaksi kulit primer, kedua, toksisitas akut yang terjadi bila obat – obatan dimulai, ketiga, toksisitas kronik, yang terjadi pada akhir pemberian terapi obat.
            Manivestasi toksisitas obat bervariasi, dan system organ tertentu dapat terkena. Pengkajian fisik periodik dan tes laboratorium dilakukan untuk pasien yang mendapat pengobatan yang diketahui mengalami efek hematopoietik, genitourinarius, atau efek pada hepar.
            Melalui hygiene oral setelah setiap makan, perawatan gigi teratur dan pemijitan gusi secara teratur penting untuk pasien yang menggunakan fenitoin (dilantin) untuk mencegah dan mengontrol hyperplasia pada gusi
            Pembedahan untuk epilepsi, pembedahan diindikasikan untuk pasien yang mengalami epilepsi akibat tumor intracranial, abses, kista, atau adanya anomaly vascular.


Sabtu, 02 Juli 2011

ASKEP RETARDASI MENTAL

BAB I
PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang
             Retardasi mental merupakan masalah dunia dengan implikasi yang besar terutama bagi Negara berkembang. Diperkirakan angka kejadian retardasi mental berat sekitar 0.3% dari seluruh populasi dan hamper 3% mempunyai IQ dibawah 70.Sebagai sumber daya manusia tentunya mereka tidak bias dimanfaatkan karena 0.1% dari anak-anak ini memerlukan perawatan, bimbingan serta pengawasan sepanjang hidupnya. Sehingga retardasi mental masih merupakan dilema, sumber kecemasan bagi keluarga dan masyarakat.Demikian pula dengan diagnosis, pengobatan dan pencegahannya masih merupakan masalah yang tidak kecil.

            Hal inilah yang melatar belakangi kami untuk mengangkat masalah Retardasi mental dalam makalah kami. Selain itu, makalah ini juga merupakan salah satu tugas yang diberikan oleh dosen yang bersangkutan untuk melengkapi nilai di semester genap ini.

B.     TUJUAN
Adapun tujuan umum yang hendak dicapai dari penulisan makalah ini antara lain :
1. Memberikan pengetahuan kepada masyarakat mengenai retardasi mental.
2. Menjadikan masyarakat lebih mewaspadai dan menanggulangi adanya retardasi mental terhadap anak dan anggota keluarga mereka.
3. Memberikan wawasan kepada masyarakat mengenai penanggulangan dan pengobatan serta perawatan terhadap para penderita retardasi mental.



BAB II
PEMBAHASAN
RETARDASI MENTAL
A.    Definisi
Terdapat berbagai macam definisi mengenai retardasi mental,menurut:
Ø  WHO
Retardasi mental yaitu kemampuan mental yang tidak mencukupi.
Ø  Carter CH
Retardasi mental yaitu suatu kondisi yang ditandai oleh intelegensi yang rendah yang menyebabkan ketidak mampuan individu untuk belajar dan beradaptasi terhadap tuntutan masyarakat atas kemampuan yang di anggap normal.
Ø  Crocker AC
Retardasi mental yaitu apabila jelas terdapat fungsi intelegensi yang rendah,yang di sertai adanya kendala dalam penyesuaian perilaku,dan gejalanya timbul pada masa perkembangan.
Ø  Melly Budhiman
Seseorang di katakan retardasi mental bila memenuhi criteria sebagai berikut:
a.       Fungsi intelektual umum di bawah normal
b.      Terdapat kendala dalam perilaku adaptif social
c.       Gejalanya timbul dalam masa perkembangan yaitu di bawah usia 18 tahun.


Fungsi intelektual dapat diketahui dengan test fungsi kecerdasan  atau IQ (Intelegence Quotient).
IQ adalah MA/CA x 100%
M.A =Mental Age,umur mental yang di dapat dari hasil tets
C.A =Chronological Age,umur berdasarkan perhitungan tanggal lahir.
Yang dimaksud dengan intulektual di bawah normal,yaitu apabila IQ dibawah 70.Anak ini tidak dapat mengikuti pendidikan sekolah biasa, karena cara berpikirnya yang terlalu sederhana,daya tangkap dan daya ingatnya lemah,demikian pula dengan pengertian bahasa dan berhitungnya juga sangat lemah.
Sedangkan yang dimaksud dengan perilaku adaptif sosial adalah kemampuan seseorang untuk mandiri,menyesuaikan diri dan mempunyai tanggung jawab sosial yang sesuai dengan kelompok umur dan budayanya.Pada penderita retardasi mental gangguan perilaku adaptif yang paling menonjol adalah kesulitan menyesuaikan diri dengan masyarakat sekitarnya. Biasanya tingkah lakunya kekanak-kanakan tidak sesuia denagn umurnya.
Gejala harus tersebut harus timbul pada masa perkembangan, yaitu dibawah umur 18 tahun. Karena kalau gejala tersebut timbul setelah umur 18 tahun,bukan lagi disebut retardasi mental tetapi penyakit lain sesuai dengan gejala klinisnya.
B.     Klasifikasi
Menurut nilai IQ-nya,maka intelegensi seseorang dapat digolongkan sebagai berikut:

                                                                                Nilai IQ
                      Sangat Superior                                                          130 atau lebih
Superior                                                                         120 - 129
Diatas rata-rata                                                               110 - 119
Rata-rata                                                                         90 - 110
Dibawah rata-rata                                                             80 - 89
Retardasi mental borderline                                             70 - 79
Retardasi mental ringan (mampu didik)                           52 - 69
Retardasi mental sedang (mampu latih)                            36 - 51
Retardasi mental berat                                                      20 - 35
Retardasi mental sangat berat                                       dibawah 20

Yang sisebut retardasi mental apabila IQ dibawah 70,retardasi mental tipe ringan masih mampu didik, retardasi mental tipe sedang mampuh latih, sedangkan retardasi mental tipe berat dan sangat berat memerlukan pengawasan dan bimbingan seumur hidupnya. Bila ditinjau dari gejalanya,maka Melly Budhiman membagi:
1)      Tipe klinik
2)      Tipe sosio budaya
1 Tipe klinik
Pada retardasi mental tipe klinik ini mudah di deteksi sejak dini, karena kelainan fisis maupun mentalnya cukup berat. Penyebabnya sering kelainan organik. Kebanyakan anak ini perlu perawatan yang terus menerus dan kelainan ini dapat terjadi pada kelas sosial tinggi ataupun yang rendah. Orang tua dari anak yang menderita retardasi mental tipe klinik ini cepat mencari pertolongan oleh karena mereka melihat sendiri kelainan pada anaknya.
2 Tipe sosio budaya
Biasanya baru diketahui setelah anak masuk sekolah dan ternyata tidak dapat mengikuti pelajaran. Penampilannya seperti anak normal, sehingga disebut juga retardasi enam jam. Karena begitu mereka keluar sekolah, mereka dapat bermain seperti anak-anak yang normal lainnya. Tipe ini kebanyakan berasal dari golongan sosial ekonomi rendah. Para orang tua dari anak tipe ini tidak melihat adanya kelainan pada anaknya,mereka mengetahui kalau anaknya gagal beberapa tidak naik kelas. Pada umumnya anak tipe ini mempunyai taraf IQ golongan borderline dan retardasi mental ringan.

C.    Etiologi
Penyebab dari retardasi mental sangat kompleks dan multifaktorial. Walaupun begitu terdapat beberapa faktor yang potensial berperanan dalam terjadinya retardasi mental seperti yang dinyatakan oleh Taft LT dan Shonkoff JP dibawah ini.
Faktor-faktor yang potensial sebagai penyebab retardasi mental :

1.               Non-organik
·         Kemiskinan dan keluarga yang tidak harmonis
·         Faktor sosiokultural
·         Interaksi anak-pengasuh yang tidak baik
·         Penelantaran anak

2.               Organik
Ø  Faktor prakonsepsi
·         Abnormalitas single gene (penyakit-penyakit metabolik, kelainan neurocutaneos, dll.)
·         Kelainan kromosom ( X-linked, translokasi, fragile-X) – syndrome polygenic familial.
Ø  Faktor prenatal
·         Ganguan pertumbuhan otak trimester I
ü  Kelainan kromosom (trisomi,mosaik,dll)
ü  Infeksi intrauterin,misalnya TORCH,HIV (Human immunodeficiency virus)
ü  Zat-zat teratogen (alcohol,radiasi dll)
ü  Disfungsi plasenta
ü  Kelainan congenital dari otak (idiopatik)
·         Gangguan pertumbuhan otak trimester II dan III
ü  Infeksi intrauterin, misalnya TORCH,HIV
ü  Zat-zat teratogen (alcohol, kokain, logam berat, dll)
ü  Ibu: diabetes militus,PKU (Phenylketonuria)
ü  Toksemia gravidarum
ü  Disfungsi plasenta
ü  Ibu malnutrisi
Ø  Faktor perinatal
·         Sangat premature
·         Asfiksia neonatorum
·         Trauma lahir: pendarahan intra cranial
·         Meningitis
·         Kelainan metabolik : hipoglikemia, hiperbilirubinemia
Ø  Faktor post natal
·         Trauma berat pada kepala/susunan saraf pusat
·         Neuro toksin, misalnya logam berat
·         CVA (Cerebrovascular accident)
·         Anoksia, misalnya tenggelam
·         Metabolik
ü  Gizi buruk
ü  Kelainan hormonal, misalnya hipotiroid, pseudohipoparatiroid
ü  Aminoaciduria, misalnya PKU (Phenyl ketonuria)
ü  Kelainan metabolisme karbohidrat, galaktosemia, dll
·         Infeksi
Kebanyakan anak yang menderita retardasi mental ini berasal dari golongan social ekonomi rendah, akibat kurangnya stimulasi dari lingkungannya sehingga secara bertahap menurunkan IQ yang bersamaan dengan terjadinya mutasi. Demikian pula pada keadaan social ekonomi  yang rendah dapat sebagai penyebab organik dari retardasi mental,

D.    Diagnosis dan Gejala klinis
Dengan melakukan skrining secara rutin misalnya dengan menggunankan DDST (Denver Developmental Screening Test), maka diagnosis dini dapat segera dibuat. Demikian pula anamnesis yang baik dari orang tuanya, pengasuh atau gurunya, sangat membantu dalam diagnosis kelainan ini. Setelah anak berumur 6 tahun dapat dilakukan test IQ. Sering kali hasil evaluasi medis tidak khas dan tidak dapat diambl kesimpulan. Pada kasusu seperti ini, apabila tidak ada kelainan pada system susunan saraf pusat, perlu, anamnesis yang teliti apakah ada keluarga yang cacat, mencari masalah lingkungan/factor nonorganic lainnya dimana diperkirakan mempengaruhi kelainan pada otak anak.
            Gejala klinis retardasi mental terutama yang berat sering disertai beberapa kelainan fisik yang merupakan stigmata kongenita, yang kadang-kadang gambaran stigmata mengarah kesuatu sindrom penyakit tertentu. Dibawah ini beberapa kelainan fisik dan gejala yang sering disertai retardasi mental, yaitu :
1.      Kelainan pada mata :
Ø  Katarak
Ø  Bintik cherry-merah pada daerah macula
Ø  Kornea keruh
2.      Kejang :
Ø  Kejang umum tonik klonik
Ø  Kejang pada masa neonatal
3.      Kelainan pada kulit :
Ø  Bintik-café-au-lait
4.      Kelainan rambut :
Ø  Rambut rontok
Ø  Rambut cepat memutih
Ø  Rambut halus
5.      Kepala :
Ø  Mikrosefali
Ø  Makrosefali
6.      Perawakan pendek :
Ø  Kretin
Ø  Sindrom prader-willi
7.      Distonia :
Ø  Sindrom hallervorden
Sedangkan gejala dari retardasi mental tergantung dari tipenya, adalah sebagai berikut :
1.      Retardasi mental ringan
Kelompok ini merupakan bagian terbesar dari retardasi mental. Kebanyakan dari kelompok ini termasuk dalam tipe social budaya, dan diagnosis dibuat setelah anak beberapa kali tidak naik kelas. Golongan ini termasuk mampu didik, artinya selain dapat diajar baca tulis bahkan sampai kelas 4-6 SD, juga bias silatih keterampilan tertentu sebagai bekal hidupnya kelak dan mampu mandiri seperti orang dewasa yang normal. Tetapi pada umumnya mereka ini kurang mampu menghadapi stress sehingga tetap membutuhkan bimbingan dari keluarganya.
2.      Retardasi mental sedang
Kelompok ini kira-kira 12% dari seluruh penderita retardasi mental, mereka ini mampu latih tetapi tidak mampu didik. Taraf kemampuan intelektualnya hanya dapat sampai kelas 2 SD saja, tetapai dapat dilatih menguasai suatu keterampilan tertentu misalnya pertukangan,pertanian dll. Dan apabila bekerja nanti mereka ini perlu pengawasan.Mereka juga perlu dilatih bagaimana mengurus diri sendiri.Kelompok ini juga kurang mampu menghadapi stress dan kurang dapat mandiri,sehingga memerlukan bimbingan dan pengawasan.
3.      Retardasi mental berat
Sekitar 7% dari seluruh penderita retardasi mental masuk kelompok ini.Diagnosis mudah ditegakkan secara dini,karena selain adanya gejala fisik yang menyertai juga berdasarkan keluhan dari orang tua dimana anak sejak awal sudah tedapat keterlambatan perkembangan motorik dan bahasa.Kelompok ini termasuk tipe klinik.Mereka dapat dilatih hygiene dasar saja dan kemampuan berbicara yang sederhana,tidak dapat dilatih keterampilan kerja,dan memerlukan pengawasan dan bimbingan sepanjang hidupnya.
4.      Retardasi mental sangat berat
Kelompok ini sekitar 1% dan termasuk dalam tipe klinik.Diagnosa ini mudah dibuat karena gejala baik mental dan fisik sangat jelas.Kemampuan berbahasanya sangat minimal.Mereka ini seluruh hidupnya tergantung pada orang di sekitarnya

E.     Pemeriksaan Penunjang
Beberapa pemeriksaan penunjang perlu dilakukan pada anak yang menderita retardasi mental,yaitu:
1.      Kromosom kariotipe
2.      EEG (Elektro Ensefalogram)
3.      CT (Cranial Computed Tomography) atau MRI (Magnetic Resonance Imaging)
4.      Titer virus untuk infeksi congenital
5.      Serum asam urat (Uric acid serum)
6.      Laktat dan piruvat
7.      Plasma asam lemak rantai sangat panjang
8.      Serum seng (Zn)
9.      Logam berat dalam darah
10.  Serum tembaga (Cu) dan ceruloplasmin
11.  Serum asam amino atau asam organik
12.  Plasma ammonia
13.  Analisa enzim lisozom pada lekosit atau biopsy kulit:
14.  Urin mukopolisakarida
15.  Urin reducing substance’
16.  Urin ketoacid
17.  Urin asam vanililmandelik

F.     Penatalaksanaan
Penatalaksanaan anak dengan retardasi mental adalah multidimensi dan sangat individual. Tetapi perlu diingat bahwa tidak semua anak penanganan multidisiplin merupakan jalan yang baik. Sebaiknya dibuat rancangan suatu strategi pendekatan bagi setiap anak secara individual untuk mengembangkan potensi anak tersebut seoptimal mungkin. Untuk itu perlu melibatakn psikolog untuk menilai perkembangan mental anak terutama kemampuan kognitifnya,dokter anak untuk memeriksa fisik anak,menganalisis penyebab,dan mengobati penyakit atau kelainan yang mungkin ada. Juga kehadiran pekerja social kadang-kadanng diperlukan untuk menilai situasi keluarganya. Atas dasar itu maka buatlah strategi terapi. Seringkali melibatkan lebih banyak ahli lagi,misalnya ahli saraf bila anka juga menderita epilepsi,palsiserebral,dll. Psikiater,bila anaknya menunjukkan kelainan tingkah laku atau bila orang tuanya membutuhkan dukungan terapi keluarga. Ahli rehabilitasi,bila diperlukan untuk merangsang perkembangan motorik dan sensoriknya. Ahli terapi wicara,untuk memperbaiki gangguan bicaranya atau untuk merangsang perkembangan bicarnya. Serta diperlukan buruh pendidikan luar biasa untuk anak-anak yang retardasi mental ini.
Pada orang tuanya perlu diberi penerangan yang jelas mengenai keadaan anaknya, dan apa yang dapat diharapkan dari terapi yang diberikan. kadang-kadang diperlukan waktu yang lama untuk meyakinkan orang tua mengenai keadaan anaknya, maka perlu konsultasi pula dengan psikolog dan psikiater. Disamping itu diperlukan kerja sama yang baik antara guru dengan orang tuanya,agar tidak terjadi kesimpang siurandalam strategi penanganan anak disekolah dan dirumah. Anggota keluarga lainnya juga harus diberi pengertian. Disamping itu masyarakat perlu diberikan penerangan tenteng retardasi mental,agar mereka dapat menerima anak
Sekolah khusus untuk anak retardasi mental ini adalah SLB-C.Di sekolah ini diajarkan keterampilan-keterampilan dengan harapan mereka dapat mandiri dikemudian hari. Diajarkan pula tentang baik buruknya suatu tindakan tertentu,sehingga mereka diharapkan tidak melakukan tindakan yang tidak terpuji,seperti mencuri,merampas,kejahatan seksual,dll.
Semua anak yang retardasi mental ini juga memerlukan perawatan seperti pemeriksaan kesehatan yang rutin,imunisasi,dan monitoring terhadap tumbuh kembangnya. Anak-anak ini sering juga disertai dengan kelainan fisik yang memerlukan penanganan khusus.

G.    Pencegahan
Dengan memberikan perlindungan terhadap penyakit-penyakit yang potensial dapat mengakibatkan retardasi mental, misalnya melalui imunisasi. Konseling perkawinan, pemeriksaan kehamilan yang rutin, nutrisi yang baik selama kehamilan, dan bersaling pada tenaga kesehatan yang berwenang maka dapat membantu menurunkan angka kejadian rfetardasi mental. Demikian pula dengan mengentaskan kemiskinan dengan membuka lapangan kerja, memberikan pendidikan yang baik, memperbaiki senitasi lingkungan, meningkatkan gizi keluarga, akan meningkatkan ketahanan terhadap penyakit. Dengan adanya program BKB (Bina Keluarga dan Balita)yang merupakan stimulasi mental dini dan bisa dikembangkan dan juga deteksi dini, maka dapat mengoptimalkan perkembangan anak.
Diagnosis ini sangat penting, dengan melakukan skrining sedini mungkin, terutama pada tahun pertama, maka dapat dilakukan intervensi yang dini pula. Misalnya diagnosis dini dan terapi dini hipotiroid, dapat memperkecil kemungkinan retardasi mnetal. Detaksi dan intervensi dini pada retardasi mental sangat membantu memperkecil retardasi yang terjadi.


BAB III
KONSEP ASKEP


A.Pengakajian.

Pengakjian dapat dilakukan melalui:
1. Neuroradiologi dapat menemukan kelainan dalam struktur kranium, misalnya klasifikasi atau peningkatan tekanan intrakranial.
2. Ekoesefalografi dapat memperlihatkan tumor dan hamatoma.
3. Biopsi otak hanya berguna pada sejumlah kecil anak retardasii mental. Juga tidak mudah bagi orang tua untuk menerima pengambilan jaringan otak dalan jumlah kecil sekalipun karena dianggap menambah kerusakan otak yang memang tidak adekuat.
4. Penelitian bio kimia menentukan tingkat dari berbagai bahan metabolik yang diketahui mempengaruhi jaringan otak jika tidak ditemukan dalam jumlah besar atau kecil, misalnya hipeglekimia pada neonatus prematur, penumpukan glikogen pada otot dan neuron, deposit lemak dalam otak dan kadar fenilalanin yang tinggi.

Atau dapat melakukan pengkajian sebagai berikut:
·         Lakukan pengkajian fisik.
·         Lakukan pengkajian perkembangan.
·          Dapatkan riwayat keluarga, teruma mengenai retardasi mental dan gangguan herediter dimana retardasi mental adalah salah satu jenisnya yang utama.
·         Dapatkan riwayat kesehatan unutk mendapatkan bukti-bukti adanya trauma prenatal, perinatal, pascanatal, atau cedera fisik.
·          Infeksi maternal prenatal (misalnya, rubella), alkoholisme, konsumsi obat.
·          Nutrisi tidak adekuat.
·          Penyimpangan lingkungan.
·          Gangguan psikiatrik (misalnya, Autisme).
·          Infeksi, teruma yang melibatkan otak (misalnya, meningitis, ensefalitis, campak) atau
·         suhu tubuh tinggi.
·          Abnormalitas kromosom.
Bantu dengan tes diagnostik misalnya: analis kromosom, disfungsimetabolik, radiografi, tomografi, elektro ersafalografi.
·         Lakukan atau bantu dengan tes intelegensia. Stanford, binet, Wechsler Intellence, Scale, American Assiciation of Mental Retardation Adaptif Behavior Scale.
·          Observasi adanya manifestasi dini dari retardasi mental:
 -  Tidak responsive terhadap kontak.
 -  Kontak mata buruk selama menyusui.
 -  Penurunan aktivitas spontan.
 -  Penurunan kesadaran terhadap suara getaran.
-   Peka rangsang.
-   Menyusui lambat.
B. Diagnosa
1. Perubahan pertumbuhan dan perkembangan berhubungan dengan kerusakan fungsi kognitf.
2. Perubahan proses keluarga berhubungan dengan mempunyai anak yang menderita retardasi mental.

C. Intervensi
1. Perubahan pertumbuhan dan perkembangan berhubungan dengan kerusakan fungsi kognitf.
hasil yang ingin dicapai
          Anak dan keluarga aktif terlibat dalam program stimulai bayi.
          Keluarga menerapkan konsep-konsep dan melanjutkan aktivitas perawatan anak di rumah.
          Anak melakukan aktivitas hidup sehari-hari pada kapasitas optimal.
 Keluarga~ mencari tahu tentang program pendidikan.

Intervensi keperawatan.
          Libatkan anak dan keluarga dalam program stimulasi dini pada bayii
Rasional : untuk membantu memaksimalkan perkembangan anak.~
         Kaji kemajuan perkembangan anak dengan interval regular, buat catatan yang terperinci untuk membedakan perubahan fungsi samar
Rasional : sehingga rencana perawatan dapat diperbaiki sesuai kebutuhan.
         Bantu keluarga menyusun tujuan yang realitas untuk anak,
Rasional : untuk mendorong keberhasilan pencapaian sasaran dan harga diri.
          Berikan penguatan positif / tugas-tugas khusus untuk perilaku anak
Rasional : karena hal ini dapat memperbaiki motivasi dan pembelajaran.
         Berikan pada remaja informasi praktik sosial dan kode prilaku yang kongkrit dan terdefinisi dengan baik,
Rasional : karena kemudahan persuasi anak dan kurangnya penilaian dapat membuat anak nerada pada resiko berbahaya.
2.. Perubahan proses keluarga berhubungan dengan mempunyai anak yang menderita retardasi mental.
Hasil yang diharapkan
         Keluarga mengekspresikan perasaan dan kekhawatiran mengenai kelahiran anak dengan retardasi mental dan impikasinya.
          Anggota keluarga membuat keputusan yang realistik berdasarkan kebutuhan dan kemampuan mereka.
          Anggota keluarga menunjukan penerimaan terhadap anak.

Intervensi Keperawatan
·         Berikan informasi pada keluarga sesegera mungkin pada saat atau setelah kelahiran.
Rasional ; Agar keluarga mampu menerima keadaan yang sesungguhnya.
          Ajak kedua orang tua untuk hadir pada konferensi pemberian informasi.
Rasional : Agar orang tua mendapatkan banyak informasi tentang retardasi mental.
          Diskusikan dengan anggota keluarga tentang manfaat dari perawatan dirumah, beri kesempatan pada mereka untuk menyelidiki semua alternatif residensial sebelum membuat keputusan.
Rasional : Agar mereka dapat mengambil keputusan yang terbaik bagi mereka dan anaknya.
 Dorong keluarga untuk~ bertemu dengan keluarga lain yang mempunyai masalah yang sama
Rasional : sehingga mereka dapat menerima dukungan tambahan..
D.    Evaluasi
v  Pasien mencapai potensi pertumbuhan dan perkembangan yang optimal.
v  Keluarga mampu menerima keadaan yang anaknya yang retardasi mental.
BAB IV
PENUTUP

A.                Kesimpulan
Retardasi mental adalah bentuk gangguan atau kekacauan fungsi mental atau kesehatan mental yang disebabkan oleh kegagalan mereaksinya mekanisme adaptasi dari fungsi-fungsi kejiwaan terhadap stimulus eksteren dan ketegangan-ketegangan sehingga muncul gangguan fungsi atau gangguan struktur dari suatu bagian, satu organ, atau sistem kejiwaanmental.
Retardasi mental bisa saja terjadi pada setiap individu / manusia karena adanya faktor-faktor dari dalam maupun dari luar, gejala yang ditimbulkan pada penderita retardasi mental umumnya rasa cemas, takut, halusinasi serta delusi yang besar.
B.        Saran
a) Disarankan kepada para ibu agar memperhatikan kesehatan dirinya seperti memperhatikan gizi, hati-hati mengkonsumsi obat-obatan dan mengurangi kebiasaan buruk seperti: minum-minuman keras dan merokok.
b) Pemerintah dalam hal ini Departemen Kesehatan perlu melakukan langkah prepentif guna menanggulangi gangguan mental yang dapat membahayakan kesehatan anak dan remaja caranya yaitu dengan menggalakkan penyuluhan tentang retardasi mental kepada masyarakat.


DAFTAR PUSTAKA


WWW.PELITA Or.id mental Retadasi.
dr. Soetjiningsih, SpAk.1995.Tumbuh Kembang Anak.EGC.Jakarta. 


yang lainnya :

·                              Beranda
·                              I LOVE YOU DALAM 99 BAHASA
·                              DOWNLOAD LAGU MARS PPNI
·                              SEJARAH KEPERAWATAN ISLAM
·                              VIDEO ZONE
·        
KONSEP BERMAIN PADA ANAK,ASKEP HIDROSEFALUS/HIDROCEFALUS,ASUHAN KEPERAWATAN KLIEN TRAUMA KAPITIS,ASKEP KLIEN DENGAN AMPUTASI,Omron Blood Pressure Monitor,TEORI STRESS DAN ADAPTASI,RENTANG RESPON KONSEP DIRI KLIEN
Hubungan/komunikasi Terapeutik Perawat dan Klien,ASKEP FARINGITIS,ASUHAN KEPERAWATAN (ASKEP) OSTEOSARCOMA,KESEHATAN REPRODUKSI MASA REMAJA,MENGGUGURKAN KANDUNGAN ( ABORSI),KANKER PAYUDARA ( CA. MAMMAE),KELUH - KESAH PERAWAT DI INDONESIA,MENJADI PERAWAT YANG LEBIH BAIK,PERAWATAN LUKA
ASKEP HARGA DIRI RENDAH (JIWA),ASKEP INFEKSI SALURAN KEMIH,ASKEP EFUSI PLEURA
ASKEP ASFIKSIA NEONATORUM,KELEBIHAN PERAWAT DARI DOKTER,MENJADIKAN PEKERJAAN SEBAGAI REKREASI,ASKEP TUMOR INTRACRANIAL (TUMOR OTAK)
ASKEP SINDROM CUSHING,ASUHAN KEPERAWATAN(ASKEP) PERILAKU BUNUH DIRI
ASUHAN KEPERAWATAN (ASKEP) TRAUMA ESOFAGUS,ASUHAN KEPERAWATAN OSTEOMILITIS
asuhan keperawatan dengan kanker serviks,ASUHAN KEPERAWATAN(ASKEP) HERNIA
ASUHAN KEPERAWATAN PADA PASIEN DENGAN “ LUKA BAKAR ‘’,ASUHAN KEPERAWATAN PADA KLIEN HIPERPARATIROIDISME.ASUHAN KEPERAWATAN DERMATITIS KONTAK
ASUHAN KEPERAWATAN PADA KLIEN dg Gangguan Kelenjar Adrenal
STANDAR ASUHAN KEPERAWATAN PADA BAYI DENGAN KELAINAN JANTUNG KONGENITAL
ASKEP PENYAKIT HIRSCPRUNG,ASUHAN KEPERAWATAN ENCEPHALITIS
ASUHAN KEPERAWATAN GLAUKOMA,askep pnemonia
INFARK MIOKARD AKUT,ASUHAN KEPERAWATAN DENGAN “ HERPES ZOSTER “(cacar air)
askep diare,kebutuhan cairan IWL dan SWL,askep hemoroid
makalah hiv / aids,askep meningitis,askep hipertensi
· 

Komentar dengan akun facebook

link

SEO Stats powered by MyPagerank.Net
Google PageRank Checker Powered by  MyPagerank.Net Yahoo bot last visit powered by MyPagerank.Net

 
Design by Alamsyah Aris | Bloggerized by Alamsyah design | Maros Indonesia