Sabtu, 04 Juni 2011

ASKEP TUMOR INTRACRANIAL (TUMOR OTAK)

BAB I
KONSEP MEDIK
A. PENGERTIAN
Tumor otak adalah ‘lesi’ intrakranial setempat yang menempati ruang di dalam tulang tengkorak. Tumor otak dapt terjadi pada setiap usia; dapat terjadi pada anak usia kuran dari 10 tahun tetapi paling sering terjadi pada dewasa usia dekade ke lima dan enam.
Klasifikasi tumor otak memiliki banyak klasifikasi. Klasifikasi tumor otak berdasarkan nama sel yang terserang :
-       Giloma
-       Tumor maningeal
-       Tumor hipofisis
-       Neurilemoma / neuroma akustik
-       Tumor metastasis
-       Tumor pembuluh darah
-       Tumor gangguan perkembangan (congenital)
-       Pinealoma / tumor adneksa


B.   ETIOLOGI
1.      Glioma
Glioma disebabkan oleh sel-sel glia (mikroglia, oligodenrogilia dan astrosit) yang berkumpul membentuk parul sikatriks padat di bagian otak di mana neuron mengilang.
2.  Tumor meningeal / meningloma
Berasal dari meningeal, sel-sel niesiotieel dan sel-sel penyembung aradnoid dan dura.
3.  Tumor hipofisis
berasal dari sel-sel kromofog, iopsinofil atau basofil dan hiofoisis anterior.
4.  Neuroma akustik
tumor yang berasal dari sel-sel scwann selubung saraf yang menyebabkan serabut-serabut saraf otak ke VIII menjadi rusak.
5.  Tumor metastasis
berasal dari tumor atau kanker sistemik dari daerah lain yang bermetastase ke otak.


6.  Tumor pembuluh darah
Angioma disebabkan malformasi arteriovenosa konginetal. Hemangioblastoma merupakan neoplasma yang terdiri dari unsur-unsur vaskular embriosis yang paling sering din serebellum. Sindrom von hippellindau merupakan gabungan antara hemangioblasioma serebellum, angio matosis retina dan kista ginjal dan prankeas.
7.  Tumor gangguan perkembangan (konginetal )
kordoma terdiri dari sel-sel yang berasal dari sisa-sisa notokorda embrional dan dijumpai pada dasar tengkorak. Teratoma akibat sumbatan pada ventrikel III akueduktus. Karaniofaringeoma berasal dari sisa-sisa duktus kraniofaringeal embrional (kantung rathke) dan umumnya terletak di posterior sela tursila.
C.   Manifestasi klinik
Trias klasik tumor otak adalah nyeri kepala, muntah dan papiledema.
Nyeri kepala
         Nyeri dapat digambarkan bersifat dalam, terus-menerus kumpul dan kadang-kadang hebat seklali. Nyeri ini paling hebat waktu pagi hari dan menjadi lebih hebat oleh aktifitas yang biasanya meningkatkan tekanan intrakranial seperti pada saat membungkuk, batuk atau mengejan pada waktu buang air besar.
         Nyeri kepala yang dihubungkan dengan tumor otak disebabkakn oleh traksi dan pergeseran struktur peka nyeri dalam rongga intrakranial. Struktur peka nyeri ini termasuk arteri vena, sinus-sinus vena dan saraf otak.
         Lokasi nyeri kepala sepertiga terjadi pada tempat tumor dan sepertiga lainnya terjadi di dekat atau di atas tumor. Nyeri kepala oksipital merupakan gejala utama pada tumor ossa posterior. Kira-kira sepertiga lesi supratentorial menyebabkan nyeri kepala fronatal.
Mual dan Muntah
         Mual dan muntah terjadi akibat rangsangan pusat muntah di medula oblongata. Muntah poaling sering terjadi pada anak-anak dan berhubungan peningkatan ICP disertai pergeseran batang otak. Muntah dapat terjadi tanpa didahului mual dan dapat bersifat proyektif.


Papiledema
         Disebabkan oleh stasis vena yang menimbulkan pembengkakan dan pembesaran discus optikus. Bila terlihat pada pemeriksaan endoskopi tanda ini mengisyaratkan peningkatan ICP. Namun sulit menggunakan tanda ini untuk mendiagnosis. Menyertai papiledema dapat terjadi gangguan penglihatan. Gangguan ini adalah pembesaran bintik dan amaurosis fugaks (ketika penglihatan berkurang).
Lokalisasi gejala
Gejala dan tanda lain tumoir otak cenderung makin dapat menentukan lokasinya.
v  Tumor lobus frontalis membri gejala perubahan mental, hemiparesis, ataksia, dan gangguan bicara. Perubahan menntal bermanifestasi sebagai perubahan ringan dalam kepribadian. Beberapa penderita mengalami periode depresi, bingung atau preode ketika tingkah laku penderita mediane.
v  Tumor lobus occipitalis dapat menimbulkan kejang konvulsif yang didahului oleh aura. Dapat terjadi agnosia kesulitan dalam memperkirakan jarak, dan kecenderuangan untuk tersesat dalam lingkungan yang sudah dikenalnya.
v  Tumor lobus temporalis menyebabkan tinitus dan halusinasi pendengaran yang mungkin terjadi akibat iritasi korteks pendengaran temporaklis atau kortreks yang berbatasan. Sering timbul gejala mentalm yang menyerupai tumor lobus frontalias. Kelumpuhan wajah terjadi karena tekanan tumor yang tumbuh dim korteks frontalis. Lesi pada kutub temporalis anterior menyebabkan anoksia kuadran superior yang dapat berkembang menjadi hemiaanoksia sempurna,.
v  Tumor dalam korteks sensorik lobus parietalis mengakibatkan hilangnya fun gsi sensorik korteks, gangguan lokalisasi sensorik, diskriminasi dua titik, grafestesia, kesan posisi, dan stereognosis.
v  Tumor serebellum menyebabkan papiledema dini dan sering menimbulkan nyeri kepala nyucal. Lesi serebellum juga menyebakan gangguan gerak yang bervariasi sesuai dengan u8kuran dan likasi spesifik tumor dalam serebellum. Ciri khas cerebellum yang kurang menyolok tapi sama adalah hipotonia (tidak ada resistensi normal untuk mereghangkan / menggeser ekstremitas dari posisi tertentu ) dan hiperekstensibilitas. Saat berbicara, pasien cenderungh memecah kata menjadi suku-suku kata yang terpisah dan diucapkan dalam irama stakato yang disebut bicara sekilas (scanning speech).
v  Tumor ventrikel dan hipotalamus mengakibatkan gangguan. Lesi invasi ventrikel ke III dan hipotaklamus menyebabkan somnolen, diabetes insipidus, obesitas, dan gangguan pengaturan suhu. Sebaliknya, tumor kecil pada ventriklel ke III mengakibatkan nyeri kepala terus menerus dan papiledema dan beberapa tanda lokal. Tumor 2 yang mengenai ventrikel ke IV menyebabkan peningkatan ICP yang cepat disertai gejala-gejala papiledema dan serebellum.
D.  PEMERIKSAAN DIAGNOSTIK
         Setiap pasien yang dicurigai menderita lesi intrakranial harus menjalani evaluasi medis secara lengkap dengan perhatian khusus pada pemeriksaan neurologik. Pemeriksaan diagnostik dilakukian setelah pemeriksaan neurologik dan dimulai dari tindakan non-invasif yang menimbulkan resiko terkecil sampai tindakan yang mempergunakan teknik invasif dan lebih berbahaya.
v  Pencitraan CT (CT Scan) untuk memberikan informasi spesifik yang menyangkut jumlah, ukuran, dan kepadatan jejas tumor dan meluasnya edema serebral sekunder, juga memberi informasi tentang sistem ventrikuler.
v  MRI untuk menghasilkan deteksi jejas yang kecil. Umumnya untuk mendeteksi tumor didalam batang otak di daerah hipofisis.
v  Biopsi stereotaktik bantuan komputer (tiga dimensi) untuk mendiagnosis kedudukan tumor yang dalam dan untuk memberikan dasar-dasar pengobatan dan informasi prognosis.
v  Angiografi otak merupakan suatu tindakan invasif yang membantu menentukan dioagnosis akhir dan membantu dokter dalam menentukan pengobatan yang sesuai.
v  Elektroensefalogram (EEG) untuk mendeteksi gelombang otak abnormal pada daearah yang ditempati tumor dan dapat memungkinkan untuk mengevaluasi lobus temperol pada waktu kejang.
v  Penelitian sitologis pada cairan serebrospinal (CSF) dapat dilakukan untuk mendekteksi sel-sel ganas, karena tumor-tumor pada SSP mampu menggusur sel-sel ke dalam cairan serebrospinal.
E.   PENATALAKSANAAN
     Tumor otak yang tidak terobati menunjukkan arah kematian, salah satu akibat dari peningkatan ICP  atau dari kerusakan otak yang disebabkan tumor. Tujuannya adalah mengangkatkan dan memusnahkan semua tumor atau banyak kemungkinan tanpa meningkatnya penurunan neurologik (paralisi, kebutahan) atau tercapainya gejala-gejala dengan mengangkat sebagian (dekompresi).
     Salah satu variasi pengobatan dapat digunakan;pendekatan spesifik bergantung pada tipe tumor, lokasinya dan kemampuan yang dicapai dengan mudah antara lain:
v  Pendekatan pembedahan konvensional memerlukan insisi tulang (kraniotomi). Pendekatan ini digunakan umum mengobati pasien meningioma, neuroma akustik, astrositoma kistik pada serebelum, kista koloid pada ventrikel ketiga, tumor konginetal seperti kista dermoid dan beberapa glanuloma.
v  Pendekatan stereotaktik meliputi penggunaan kerangka tiga dimensi yang mengikuti lokasi tumor yang sangat tepat, kerangka stereotaktik dan studi pencintraan multipel (sinar-x, CT).
v  Pengggunaan pisau gamma dilakukan pada “bedah radio” sampai dalam, untuk tumor yang tidak dapat dimasukkan obat, tindakan tersebut sering dilakukan sendiri. Dosis yang sangat tinggi radiasi akan dilepaskan pada luas bagian yang kecil. Keuntungan metode ini adalah tidak membutuhkan insisi pembedahan, kerugiannya adalah waktu yang lambat diantara pengobatan dan hasil yang diharapkan.
v  Modalitas tindakan lain terdiri dari kemotrapi dan terapi sinar radiasi eksternal, di mana digunakan hanya salah satu model atau dikombinasi dengan pendekatan yang lain. Terapi radiasi, merupakan dasar pada pengobatan beberapa tumor otak, juga menurunkan timbulnya kembali tumor yang tidak lengkap.
Transplantasi sumsum tulang autolog intravene digunakan pada beberapa pasien yang akan menerima kemoterapi atau terapi radiasi, karena keadaan ini penting sekali untuk “menolong” pasien terhadap adanya keracunan pada sumsum tulang  pasien diaspirasi sedikit, biasanya menerima dosis kemoterapi dan terapi radiasi yang banyak, akan menghancurkan sejumlah besar sel-sel keganasan (maligna).
v Penelitian genetik akan memberi informasi genetik pada dokter yang akan diubah menjadi identifikasi target potensial untuk perkembangan obat  antitumor.














BAB II
KONSEP KEPERAWATAN
A. PENGKAJIAN
  1. Aktivitas / istirahat
Gejala       : Keterbatasan akibat keadaan.
               Ketegangan mata, sakit kepala yang hebat pada saat perubahan postur tubuh, aktivitas (kerja) atau karena perubahan cuaca.
Tanda          : Gangguan tonus otak dan terjadi kelemahan umum.
               Gangguan penglihatan, ataksia, dan masalah berjalan.
  1. Integritas Ego
Gejala       : Faktor-faktor sters emosional/lingkungan tertentu.
                Perasaan ketidakmampuan, keputusasaan, ketidakberdayaan, depresi.
Tanda       : Kekuatiran (takut akan sesuatu yang akan terjadi), ansietas, peka rangsang selama sakit kepala.
               Mekanisme represif/defensif (sakit kepala kronis).
  1. Makanan/cairan
Gejala       : Mual dan muntah
Tanda       : Penurunan berat badan
  1. Neurosensori
Gejala       : Pening, disorientasi (selama sakit kepala), tidak mampu berkonsentrasi.
               Riwayat kejang, cedera kepala yang baru terjadi, trauma, stroke, infeksi intrakranial, kraniotomi.
               Aura: visual, olfatorius, tinitus.
               Parestesia, kelemahan progresif/paralisis satu sisi temporer.
Tanda       : Perubahan dalam pola bicara/proses pikir
               Papiledema.
               Perubahan status mental
               Gangguan penginderaan : penglihatan, pendengaran dan ketidakseimbangan
               Atasia
  1. Nyeri/kenyamanan
Gejala       : Nyeri hebat, menetap, menyeluruh atau intermitten, seringkali membuat pasien terbangun. Mungkin terlokalisasi, pada posisi tertentu.
Tanda       : Nyeri, kemerahan, pucat pada daerah wajah.
                Fokus menyempit
               Respon emosional/prilaku takterarah, seperti menangis, gelisah
               Otot-otot daerah leher meregang, rigiditis nukal
  1. Keamanan
Gejala       : Riwayat alergi/reaksi alergi
Tanda        : Demam (sakit kepala meningeal).
               Gangguan cara berjalan, parastesia, paralisis.
  1. Interaksi Sosial
Gejala       : Perubahan dalam tanggung jawab peran/interaksi sosial yang berhubungan dengan penyakit.
Tanda        : Afasia motorik






B. DIAGNOSA KEPERAWATAN
1. Nyeri b/d peningkatan tekanan intrakranial
2. Perubahan nutrisi, kurang dari kebutuhan tubuh b/d kakeksia akibat pengobatan dan pengaruh tumor, penurunan asupan makanan dan malabsorbsi.
3. Kurang perawatan diri b/d kehilangan atau kerusakan fungsi motorik dan sensori serta penurunan kemampuan kognitif.
4. Ansietas b/d kemungkinan kematian, ketidakpastian, perubahan dalam penampilan, perubahan gaya hidup.
C. RENCANA KEPERAWATAN
   1. Nyeri b/d peningkatan tekanan intrakranial
     Tujuan : Klien akan menunjukkan nyeri berkurang/hilang
INTERVENSI
RASIONAL
-     Kaji keluhan nyeri, cacat intensitasnya (dengan skala 0-10), karakteristiknya (misal: berat, berdenyut, konstan), lokasinya, lamanya, faktor yang memperburuk atau meredakan.
-    
- Nyeri merupakan pengalaman subjektif dan harus dijelaskan oleh pasien. Identifikasi karakteristik nyeri dan faktor yang berhubungan merupakan suatu hal yang amat penting untuk memilih intervensi selangjutnya yang cocok dengan klien.
- Observasi adanya tanda-tanda nyeri nonverbal, seperti: eksperi wajah, posisi tubuh, gelisah, menangis/meringis, menarik diri.

- Anjurkan untuk beristirahat dalam ruangan yanng tenang

- Merupakan indikator/derajat nyeri yang tidak langsung dialami. Sakit kepala mungkin bersifat akut atau kronis, jadi manifestasi fisiologi bisa muncul/tidak.
- Menurunkan stimulus yang berlebihan yang dapat meningkatkan serangan.
- Masase daerah kepala/leher/lengan jika pasien dapat mentoleransi sentuhan.
- Menghilangkan ketegangan dan meningkatan relaksasi otot.
- Berikan obat sesuai dengan indikasi: Analgetik, seperti aseteminofrn, ponstan, dan sebagainya.
- Penanganan pertama dari sakit kepala secara umum hanya kadang-kadang bermanfaat pada sakit kepala karena gangguan vaskuler.

2. Perubahan nutrisi, kurang dari kebutuhan tubuh b/d kakeksia akibat pengobatan dan pengaruh tumor, penurunan asupan makanan dan malabsorbsi.
   Tujuan : Untuk mengetahui asupan diet dan obat klien.
INTERVENSI
RASIOANAL
- Kaji kemapuan klien untuk menguyah, menelan, batuk dan mengatasi sekresi
- Faktor ini menentukan pemilihan terhadap jenis makanan sehingga pasien harus terlindung dari aspirasi.
- Timbang berat badan sesuai indikasi
- Mengevaluasi keefektifan atau kebutuhan mengubah pemberian nutrisi
- Berikan makan dalam jumlah yang kecil dan dalam waktu yang sering dengan teratur.
- Meningkatkan proses pencernaan dan tolerans pasien tehadap nutrisi yang diberikan dan dapat meningkatkan kerjasama pasien saat makan.
- Kolaborasi dengan ahli gizi dengan cara konsultasi dengan ahli gizi.
- Merupakan sumber yang efektif untuk mengindentifikasi kebutuhan kalori/nutrisi tergantung pada usia, berat badan, ukuran tubuh, keadaan penyakit sekarang.

3. Kurang perawatan diri b/d kehilangan atau kerusakan fungsi          motorik dan sensori serta penurunan kemampuan kognitif.
Tujuan : Untuk membantu klien mendapatkan mekanisme koping, adaptasi dan konvensasi dalam meningkatkan pemecahan masalah-masalah.  
INTERVENSI
RASIONAL
- Kaji kemampuan dan tingkat kekurangan (dengan menggunakan skala 0-4) dalam melakukan kebutuhan sehari-hari
- Membantu dalam mengantisipasi atau merencanakan pemenuhan kebutuhan sehari-hari.
- Diskusikan mengenai pentingnya posisi/letak tubuh yang normal.
- Menurunkan regangan pada otot daerah leher dan lengan dan dapat menmghilangkan ketegangan dari tubuh dengan sangat berarti.
- Anjurkan pasien/orang yang terdekat untuk menyediakan waktu agar dapat relaksasi dan bersenang-senang.
- Perasaan yang terlalu berlebihan untuk memikirkan tugas-tugas dapat mengarahkan pada sikap yang lupa untuk memikirkan penerimaan/mencintai diri sendiri yang kemudian ditambah adanya ster dan menberikan kontribusi pada sakit kepala tersebut.

4. Ansietas b/d kemungkinan kematian, ketidakpastian, perubahan dalam penampilan, perubahan gaya hidup.
   Tujuannya : Mengetahui tingkat gelisah dan perubahan suasan hati.
INTERVENSI
RASIONAL
- Kaji status mental dan tingkat ansietas pasien/keluarga. Catat adanya tanda-tanda verbal dan nonverbal.
- Gangguan tingkat kesadaran dapat mempengaruhi ekspresi rasa takut tetapi tidak menyangkal keberadaanya. Derajat ansietas akan dipengaruhi bagaimana informasi tersebut di terima oleh individu.
- Berikan penjelasan hubungan antara proses penyakit dan gejala.
- Meningkatkan pemahaman, mengurangi rasa takut karena ketidaktahuan dan dapat membantu menurunkan ansietas.
- Berikan kesempatan pasien untuk mengungkapkan isi pikiran dan perasaan takutnya.
- Mengungkapkan rasa takut secara terbuka di mana rasa takut dapat ditujukan.

D. EVALUASI
    Hasil yang diharapkan
1.  Nyeri b/d peningkatan tekanan intrakranial
Kriteria hasil :
- Melaporkan nyeri hilang/terkontrol.
- Menunjukkaan postur rileks dan mampu tidur/ istirahat dengan   tepat.
2. Perubahan nutrisi, kurang dari kebutuhan tubuh b/d kakeksia akibat pengobatan dan pengaruh tumor, penurunan asupan makanan dan malabsorbsi.
   Kriteria hasil :
– Mendemonstrasikan pemeliharaan/kemajuan peningkatan berat badan.
- Tidak mengalami tanda-tanda malnutris, dengan nilai laboratorium dalam rentang normal.
3. Kurang perawatan diri b/d kehilangan atau kerusakan fungsi motorik dan sensori serta penurunan kemampuan kognitif.
   Kriteria hasil :
   - Mengungkapkan pemahaman tentang kondisi dan pengobatan.
- Mengidentifikasikan hubungan dari tanda-tanda/gejala terhadap kondisi.
       - Memulai perubahan gaya hidup/prilaku yang yang tepat
       - Mengidentifikasi sitasi stress dan metode khusus untuk menghadapinya.
4. Ansietas b/d kemungkinan kematian, ketidakpastian, perubahan dalam penampilan, perubahan gaya hidup.
   Kriteria hasil :
    – Melaporkan asientas berkurang.
   - Gelisah berkurang dan tidur lebih baik.
   - Mengungkapkan kekuatiran tentang kematian.
- Berpartisipasi dalam aktivitas pribadi yang penting selama  mungkin.









BAB III
PENUTUP
A.  KESIMPULAN
Tumor otak adalah ‘lesi’ intrakranial setempat yang menempati ruang di dalam tulang tengkorak. Tumor otak dapt terjadi pada setiap usia; dapat terjadi pada anak usia kuran dari 10 tahun tetapi paling sering terjadi pada dewasa usia dekade ke lima dan enam.
Klasifikasi tumor otak berdasarkan nama sel terserang :
·         Glioma
·         Tumor maningeal
·         Tumor hipofisis
·         Neurilemoma / neuroma akustik
·         Tumor metastasis
·         Tumor pembuluh darah
·         Tumor gangguan perkembangan (congenital)
·         Pinealoma / tumor adneksa
     Manifestasi klinik dari tumor otak dikenal dengan sebutan trias klasik tumor otak adalah nyeri kepala, muntah, dan papiledema.

B.  SARAN-SARAN
·         Setelah pasien diagnosa menderita penyakit tumor otak segera melakukakn tindakan karena jika terlambat akan merakibat fatal dan bisa menyebabkan kematian.
·         Jika sudah merasa gejala seperti yang disebut diatas yaitu  nyeri kepala, muntah dan mual, dan papiledema segera melakukan pemeriksaan, karena jika dibiarkan terus-menerus akan menambah parah dan bisa terkena tumor otak.











DAFTAR PUSTAKA

Doenges E Marilynn, Dkk, 1999, Rencana Asuhan keperawatan;pedoman untuk perencanaan dan pendokumetasian perawatan pasien.Ed.3, Jakarta:EGC
Engram Barbara, 1998, Rencana Asuhan Keperawatan Medikal Bedah ,Vol.1, Jakarta:EGC
Kapita Selekta Kedokteran,Ed.3, jilid 2, Jakarta:EGC
Price Anderson Sylvia, Dkk, 2005, Patofisiologi; konsep Klinik Proses-proses penyakit, Ed.6, Jakarta:EGC
Smeltzer.C. Keperawatan Medikal Bedah, Ed.8,Vol.2, Jakarta : EGC




















Komentar dengan akun facebook

link

 
Design by Alamsyah Aris | Bloggerized by Alamsyah design | Maros Indonesia