Tekno Solution

Tekno Solution
Tampilkan postingan dengan label ASKEP SISTEM MUSCULOSCELETAL. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label ASKEP SISTEM MUSCULOSCELETAL. Tampilkan semua postingan

Rabu, 29 Juni 2011

ASKEP KLIEN DENGAN AMPUTASI

  1. PENGERTIAN
Amputasi berasal dari kata “amputare“ yang kurang lebih diartikan “pancung“. Amputasi dapat diartikan sebagai tindakan memisahkan bagian tubuh sebagian atau seluruh bagian ekstremitas.
Tindakan ini merupakan tindakan yang dilakukan dalam kondisi pilihan terakhir manakala masalah organ yang terjadi pada ekstremitas sudah tidak mungkin dapat diperbaiki dengan menggunakan tekhnik lain atau manakala kondisi organ dapat membahayakan keselamatan tubuh klien secara utuh atau merusak organ tubuh yang lain seperti dapat menimbulkan komplikasi infeksi.

  1. ETIOLOGI / FAKTOR PREDISPOSISI
Tindakan amputasi dapat dilakukan pada kondisi :
1.      Fraktur multiple organ tubuh yang tidak mungkin dapat diperbaiki
2.      Kehancuran jaringan kulit yang tidak mungkin diperbaiki
3.      Gangguan vaskuler/sirkulasi pada ekstremitas yang berat
4.      Infeksi yang berat atau beresiko tinggi menyebar ke anggota tubuh lainnya
5.      Adanya tumor pada organ yang tidak mungkin diterapi secara konservatif
6.      Deformitas organ
7.      Trauma

  1. TIPE AMPUTASI
1.      Amputasi Terbuka
Dilakukan pada kondisi yang berat dimana pemotongan pada tulang dan otot pada tingkat yang sama. Yang memerlukan tekhnik aseptik ketat dan revisi lanjut.
2.      Amputasi Tertutup
Dilakukan dalam kondisi yang lebih memungkinkan dimana dibuat skait kulit untuk menutup luka yang dibuat dengan memotong kurang lebih 5cm di bawah potongan otot dan tulang.
Berdasarkan pelaksanaan amputasi, dibedakan menjadi :
o   Amputasi selektif / rencana
Amputasi jenis ini dilakukan pada penyakit yang terdiagnosis dan mendapat penanganan yang baik serta terpantau secra terus-menerus. Amputasi dilakukan sebagai salah satu tindakan alternatif terakhir.
o   Amputasi akibat trauma
Merupakan amputasi yang terjadi sebagai akibat trauma dan tidak direncanakan. Kegiatan tim kesehatan adalah memperbaiki kondisi lokasi amputasi serta memperbaiki kondisi umum klien.
o   Amputasi darurat
Kegiatan amputasi dilakukan secara darurat oleh tim kesehatan. Biasanya merupakan tindakan yang memerlukan kerja yang cepat seperti pada trauma dengan patah tulang multiple dan kerusakan/kehilangan kulit yang luas.

  1. PEMERIKSAAN DIAGNOSTIK
Pemeriksaan tergantung pada kondisi dasar perlunya amputasi dan digunakan untuk menentukan tingkat yang tepat untuk amputasi.
©      Foto ronsen : mengidentifikasi abnormalitas tulang
©      CT Skan : mengidentifikasi lesi neoplastik, osteomielitis, pembentukan hematoma.
©      Angiografi dan pemeriksaan aliran darah : mengevaluasi perubahan sirkulasi/perfusi jaringan dan membantu memperkirakan potensial penyembuhan jaringan setelah amputasi.
©      Ultrasound Doppler, flowmetri doppller laser : dilakukan untuk mengkaji dan mengukur aliran darah.
©      Tekanan O2 transkutaneus : memberi peta area perfusi paling besar dan paling kecil dalam keterlibatab ekstremitas.
©      Termografi : mengukur perbedaan suhu pada tungkai iskemik pada dua sisi dari jaringan kutaneus ke tengah tulang. Perbedaan yang rendah antara dua pembacaan, makin besar kesempatan untuk sembuh.
©      Pletismografi : mengukur TD segmental bawah terhadap ekstremitas bawah mengevaluasi aliran darah arterial.
©      LED : peninggian mengindikasikan respon inflamasi
©      Kultur luka : mengidentifikasi adanya infeksi dan organisme penyebab.
©      Biopsi : mengkonfirmasi diagnosa massa benigna/maligna.
©      Hitung darah lengkap/diferensial : peninggian dan ”perpindahan ke kiri” diduga proses infeksi.

  1. PENATALAKSANAAN
ü  Tingkat Amputasi
Amputasi dilakukan pada titik paling distal yang masih dapat mencapai penyembuhan dengan baik. Tempat amputasi ditentukan berdasar dua faktor : peredaran darah pada bagian itu dan kegunaan fungsional.
Tujuan pembedahan adalah mempertahankan sebanyak mungkin panjang ekstremitas konsisten dengan pembasmian proses penyakit. Mempertahankan lutut dan siku adalah pilihan yang diinginkan. Hampir pada semua tingkat amputasi dapat dipasangi protesis.
ü  Sisa Tungkai
·      Tujuan bedah utama adalah mencapai penyembuhan luka amputasi, menghasilkan sisa tungkai (puntung) yang tidak nyeri tekan dengan kulit yang sehat untuk penggunaan protesis.
·      Balutan Rigid Tertutup. Balutan Rigid Tertutup sering digunakan untuk mendapatkan kompresi yang merata, menyangga jaringan lunak, mengontrol nyeri, dan mencegah kontraktur.
·      Balutan lunak. Balutan lunak dengan atau tanpa kompresi dapat digunakan bila diperlukan inspeksi berkala puntung sesuai kebutuhan. Bidal imobilisasi dapat dibalutkan dengan balutan. Hematoma (luka) puntung dikontrol dengan alat drainase luka untuk meminimalkan infeksi.
·      Amputasi Bertahap. Amputasi bertahap bisa dilakukan bila ada gangren atau infeksi.

  1. KOMPLIKASI
Komplikasi amputasi meliputi perdarahan, infeksi, dan kerusakan kulit. Karena ada pembuluh darah besar yang dipotong, dapat terjadi perdarahan masif. Infeksi merupakan infeksi pada semua pembedahan; dengan peredaran darah buruk atau kontaminasi luka setelah amputasi traumatika, risiko infeksi meningkat. Penyembuhan luka yang buruk dan iritasi akibat protesis dapat menyebabkan kerusakan kulit.
  

BAB II
KONSEP KEPERAWATAN

  1. PENGKAJIAN
  Aktivitas/Istirahat
Gejala : Keterbatasan aktual/antisipasi yang dimungkinkan oleh kondisi/amputasi
  Integritas Ego
Gejala        : Masalah tentang antisipasi perubahan pola hidup, situasi finansial, reaksi orang lain. Perasaan putus asa, tidak berdaya.
Tanda        : Ansietas, ketakutan, peka, marah, ketakutan, menarik diri, keceriaan semu.
  Seksualitas
Gejala        : Masalah tentang keintiman hubungan
  Interaksi sosial
Gejala        : Masalah sehubungan dengan penyakit/kondisi. Masalah tentang peran fungsi, reaksi orang lain

  1. DIAGNOSA KEPERAWATAN
1.      Nyeri b/d amputasi
2.      Resiko tinggi terhadap komplikasi b/d amputasi
3.      Resiko tinggi terhadap infeksi b/d ketidakadekuatan jaringan primer
4.      Gangguan mobilisasi b/d amputasi
5.      Gangguan citra diri b/d kehilangan bagian tubuh

  1. RENCANA KEPERAWATAN
  NDX 1
Tindakan :
1.      Catat lokasi dan intensitas nyeri. Selidiki perubahan karakteristik nyeri, contoh kebas, kesemutan.
R/ : Perubahan dapat mengidentifikasi terjadinya komplikasi.
2.      Tinggikan bagian yang sakit dengan dengan meninggikan kaki tempat tidur.
R/ : Menurunkan kelelahan otot dan tekanan kulit/karingan.
3.      Berikan tindakan kenyamanan (contoh ubah posisi sering, pijatan punggung).
R/ : Meningkatkan relaksasi.
4.       
R/ :
5.      Beri analgesik.
R/ : Klien sering bingung membedakan nyeri insisi dengan nyeri panthom.

  NDX 2
Tindakan :
1.      Bantu latihan rentang gerak khusus untuk area yang sakit dan yang tak sakit mulai secara dini.
R/ : Mencegah kontraktur, perubahan bentuk, yang dapat terjadi dengan cepat dan dapat memperlambat penggunaan protesis.
2.      Dorong latihan aktif untuk paha atas dan lengan atas.
R/ : Meningkatakan kekuatan otot untuk pemindahan.
3.      Bantu tekhnik pemindahan dan penggunaan alat mobilitas.
R/ : Membantu perawatan diri dan kemandirian pasien.
4.      Bantu dengan ambulasi.
R/ : Menurunkan potensial untuk cedera.

  NDX 3
1.      Kaji/pertimbangan persiapan pasien dan pandangan terhadap amputasi.
R/ : Pasien yang memandang amputasi sebagai pemotongan hidup atau rekonstruksi akan menerima diri yang baru lebih cepat.
2.      Dorong ekspresi ketakutan, perasaan negatif, dan kehilangan bagian tubuh.
R/ : Ekspresi emosi membantu pasien mulai menerima kenyataan dan realitas hidup tanpa tungkai.
3.      Diskusikan persepsi pasien tentang diri dan hubungannya dengan perubahan dan bagaimana pasien melihat dirinya dalam pola/peran fungsi yang biasanya.
R/ : Membantu pemecahan masalah sehubungan dengan pola hidup sebelumnya.
4.      Dorong partisipasi dalam aktivitas sehari-hari.
R/ : Meningkatkan kemandirian dan meningkatkan harga diri.
5.      Berikan kunjungan oleh orang yang telah diamputasi, khusunya seseorang yang berhasil dalam rehabilitasi.
R/ : Dapat membagi pengalaman.

  NDX 4
Tindakan :
1.      Awasi tanda vital. Palpasi nadi perifer, perhatikan kekuatan dan kesamaan.
R/ : Indikator umum status sirkulasi dan keadekuatan perfusi.
2.      Lakukan pengkajian neurovaskuler periodik, contoh sensasi, gerakan, nadi, warna kulit dan suhu.
R/ : Edema jaringan pascaoperasi, pembentukan hematoma atau balutan terlalu ketat dapat mengganggu sirkulasi puntung, mengakibatkan nekrosis jaringan.
3.      Inspeksi alat balutan/drainese, perhatikan jumlah dan karakteristik balutan.
R/ : Kehilangan darah terus-menerus mengindikasikan kebutuhan untuk tambahan             penggatian cairan dan evaluasi untuk gangguan koagulasi.
4.      Berikan antikoagulan dosis rendah sesuai indikasi.
R/ : Berguna dalam mencegah pembentukan trombus.

  NDX 5
Tindakan :
1.      Awasi tanda vital.
R/ : Peningkatan suhu dapat menunjukkan terjadinya sepsis.
2.      Pertahankan tekhnik antiseptik bila mengganti balutan/merawat luka.
R/ : Meminimalkan kesempatan introduksi mikroorganisme.
3.      Inspeksi balutan dan luka, pethatikan karakteristik drainase.
R/ : Deteksi dini terjadinya infeksi dan mencegah komplikasi lebih serius .
4.      Tutup balutan dengan plastik bila menggunakan pispot.
R/ : Mencegah kontaminasi pada tungkai bawah.
5.      Berikan antibiotik sesuai indikasi.
R/ : Antibiotik spektrum luas dapat digunakan secara profilaksis 



Kamis, 02 Juni 2011

ASUHAN KEPERAWATAN OSTEOMILITIS




BAB I
KONSEP MEDIK
A. PENGERTIAN
            Osteomielitis adalah infeksi tulang. Infeksi tulang lebih sulit disembuhkan daripada infeksi jaringan lunak karena terbatasnya asupan darah, respons jaringan terhadap inflamasi, tingginya tekanan jaringan dan pembentukan involukrum (pembentukan tulang baru di sekelilig jaringan tulang mati). Ostemielitis dapat menjadi masalah kronis yang akan mempengaruhi kualitas hidup atau mengakibatkan kehilangan ekstremitas. Beberapa ahli memberikan defenisi terhadap osteomylitis sebagai berikut :
v  Osteomyelitis adalah infeksi Bone marrow pada tulang-tulang panjang yang disebabkan oleh staphylococcus areus dan kadang-kadang Haemophylus influensae (Depkes RI,1995).
v  Osteomyelitis adalah infeksi tulang (Carpenito, 1990).
v  Osteomyelitis adalah suatu infeksi yang disebarkan oleh darah yang disebabkan oleh staphylococcus Aureus dan kadang-kadang haemophylus infleunzae, infeksi yang hampir selal disebabkan oleh staphylococcus aureus. Tetapi juga Haemophylus influenzae, streptococcus da organisme lain dapat juga menyebabkannya osteomyelitis adlah infeksi lain.
v  Osteomielitis adalah infeksi tulang yang biasanya disebabkan oleh bakteri, tetapi kadang-kadang disebabkan oleh jamur. Jika tulang terinfeksi, bagian dalam tulang yang lunak (sumsum tulang) sering membengkak. Karena pembengkakan jaringan ini menekan dinding sebelah luar tulang yang kaku, maka pembuluh darah di dalam sumsum bisa tertekan, menyebabkan berkurangnya aliran darah ke tulang. Tanpa pasokan darah yang memadai, bagian dari tulang bisa mati. Infeksi juga bisa menyebar keluar dari tulang dan membentuk abses(pengumpulan nanah) di jaringan lunak di sekitarnya, misalnya di otot.
Klasifikasi Osteomyellitis
Menurut kejadiannya terbagi 2 yaitu :
1. Osteomyelitis Primer        kuman-kuman mencapai secara langsung melalui luka.
2. Osteomyelitis Sekunder        adalah kuman-kuman mencapai tulang melalui aliran darah dari suatu focus primer ditempat lain (misalnya infeksi saluran napas, genitourinaria furunkel).
Sedangkan menurut perlangsungnya dibedakan atas :
a. Steomyelitis akut
v  Nyeri daerah lesi
v  Deman, menggigil, malaise, pembesaran kelenjar limfe regional
v  Sering ada riwayat infeksi sebelumnya atau ada luka
v  Pembengkakan lokal
v  Kemerahan
v  Suhu raba hangat
v  Gangguan fungsi
v  Lab: anemia, leukositosis
b. Steomyelitis kronis
v  Ada luka, bernanag, berabu busuk, nyeri
v  Gejala-gejala umum tidak ada
v  Gangguan fungsi kadang-kadang kontraktur
v  Lab: LED meningkat
Osteomyelitis menurut penyebabnya adalah osteomyelitis biogenik yang paling sering :
v  Staphylococcus (orang dewasa)
v  Streplococcus (anak-anak)
v  Pneumococcus dan Gonococcus

B. ETIOLOGI
            Tulang, yang biasanya terlindung dengan baik dari infeksi, bisa mengalami infeksi melalui 3 cara:
  • Aliran darah
  • Penyebaran langsung
  • Infeksi dari jaringan lunak di dekatnya.
Aliran darah bisa membawa suatu infeksi dari bagian tubuh yang lain ke tulang. Infeksi biasanya terjadi di ujung tulang tungkai dan lengan (pada anak-anak) dan di tulang belakang (pada dewasa).
Orang yang menjalani dialisa ginjal dan penyalahguna obat suntik ilegal, rentan terhadap infeksi tulang belakang (osteomielitis vertebral). Infeksi juga bisa terjadi jika sepotong logam telah ditempelkan pada tulang, seperti yang terjadi pada perbaikan panggul atau patah tulang lainnya. Bakteri yang menyebabkan tuberkulosis juga bisa menginfeksi tulang belakang (penyakit Pott).
Organisme bisa memasuki tulang secara langsung melalui patah tulang terbuka, selama pembedahan tulang atau dari benda yang tercemar yang menembus tulang.
Infeksi ada sendi buatan, biasanya didapat selama pembedahan dan bisa menyebar ke tulang di dekatnya.
Infeksi pada jaringan lunak di sekitar tulang bisa menyebar ke tulang setelah beberapa hari atau minggu. Infeksi jaringan lunak bisa timbul di daerah yang mengalami kerusakan karena cedera, terapi penyinaran atau kanker, atau ulkus di kulit yang disebabkan oleh jeleknya pasokan darah atau diabetes (kencing manis). Suatu infeksi pada sinus, rahang atau gigi, bisa menyebar ke tulang tengkorak.
Pasien yang berisiko tinggi mengalami osteomyelitis adalah mereka yang nutrisinya buruk, lansia, kegemukan atau penderita diabetes. Selain itu, pasien yang menderita atritisbreumatoid, telah di rawat lama di rumah sakit, mendapat terapi kortikostiroid jangka panjang, menjalani pembedahan sendi sebelum operasi sekarang atau sedang mengalami sepsis rentan, begitu pula yang menjalani pembedahan ortopedi lama, mengalami infeksi luka mengeluarkan pus, mengalami nekrosis insisi marginal atau dehisensi luka, atau memerlukan evakuasi hematoma pascaoperasi.

C. PATOFISIOLOGI
            Staphylococcus aureus merupakan penyebab 70% sampai 80% ingeksi tulang. Organisme patogenik lainnya sering dijumpai pada osteomyelitis meliputi proteus, pseudomonas dan ecerichia coli.
Respon inisial terhadap infeksi adalah salah satu dari inflamasi, peningkatan vaskularisasi dan edema. Setelah 2 atau 3 hari , trobosis pada pembuluh darah terjadi pada tempat tersebut, mengakibatkan iskemia dengan nekrosis tulang sehubungan dengan peningkatan dan dapat menyebar ke jaringan lunak atau sendi di sekitarnya, kecuali bila proses infeksi dapat dikontrol awal, kemudian akan terbentuk abses tulang.
Pada perjalanan alamiahnya, abses dapat keluar spontan; namun yang lebih sering hars dilakukan insisi dan drainase oleh ahli bedah. Abses yang terbentuk dalam dindingnya terbentuk daerah jaringan mati, namun seperti pada rongga abses pada umumnya, jaringan tulang mati (sequestrum) tidak mudah mencair dan mengalir keluar. Rongga tidak dapat mengempis dan menyembuh, seperti yang terjadi pada jaringan lunak. Teradi pertumbuhan tulang baru (involukrum) dan mengelilingi sequestrum. Jadi meskipun tampak terjadi proses penyembuhan, namun sequestrum infeksis kronis yang tetap rentan mengeluarkan abses kembuhan sepanjang hidup pasien. Dinamakan osteomyelitis tipe kronik.

D. MANIFESTASI KLINIK
Pada anak-anak, infeksi tulang yang didapat melalui aliran darah, menyebabkan demam dan kadang-kadang di kemudian hari, menyebabkan nyeri pada tulang yang terinfeksi. Daerah diatas tulang bisa mengalami luka dan membengkak, dan pergerakan akan menimbulkan nyeri.
Infeksi tulang belakang biasanya timbul secara bertahap, menyebabkan nyeri punggung dan nyeri tumpul jika disentuh. Nyeri akan memburuk bila penderita bergerak dan tidak berkurang dengan istirahat, pemanasan atau minum obat pereda nyeri. Demam, yang merupakan tanda suatu infeksi, sering tidak terjadi.
Infeksi tulang yang disebabkan oleh infeksi jaringan lunak di dekatnya atau yang berasal dari penyebaran langsung, menyebabkan nyeri dan pembengkakan di daerah diatas tulang, dan abses bisa terbentuk di jaringan sekitarnya. Infeksi ini tidak menyebabkan demam, dan pemeriksaan darah menunjukkan hasil yang normal. Penderita yang mengalami infeksi pada sendi buatan atau anggota gerak, biasanya memiliki nyeri yang menetap di daerah tersebut.
Jika suatu infeksi tulang tidak berhasil diobati, bisa terjadi osteomielitis menahun (osteomielitis kronis). Kadang-kadang infeksi ini tidak terdeteksi selama bertahun-tahun dan tidak menimbulkan gejala selama beberapa bulan atau beberapa tahun.
Osteomielitis menahun sering menyebabkan nyeri tulang, infeksi jaringan lunak diatas tulang yang berulang dan pengeluaran nanah yang menetap atau hilang timbul dari kulit. Pengeluaran nanah terjadi jika nanah dari tulang yang terinfeksi menembus permukaan kulit dan suatu saluran (saluran sinus) terbentuk.
E. Evaluasi Diagnostik
Diagnosis berdasarkan gejala-gejala dan hasil pemeriksaan fisik. Pada skening tulang dengan teknetium, area yang terinfeksi menunjukkan kelainan, kecuali pada anak-anak. Tetapi hal ini tidak akan muncul pada foto rontgen sampai lebih dari 3 minggu setelah gejala pertama timbul.
CT scan dan MRI juga bisa menunjukkan daerah yang terinfeksi. Tetapi pemeriksaan ini tidak selalu dapat membedakan infeksi dari kelainan tulang lainnya. Untuk mendiagnosa infeksi tulang dan menentukan bakteri penyebabnya, harus diambil contoh dari darah, nanah, cairan sendi atau tulangnya sendiri. Biasanya untuk infeksi tulang belakang,diambil contoh jaringan tulang melalui sebuah jarum atau melalui pembedahan.

F. Pencegahan
Sasaran utamanya adalah pencegahan osteomyelitis. Penanganan infeksi local dapat menurunkan angka penyebaran hematogen. Penanganan infeksi jaringan lunak pada mengontrol erosi tulang. Pemilihan pasien dengan teliti dan perhatian terhadap lingkungan operasi dan teknik pembedahan dapat menurunkan insiden osteomyelitis pascaoperasi.
Antibiotika profilaksis, diberikan untuk mencapai kadar jaringan yang memadai saat pembedahan dan selama 24 jam sampai 48 jam setelah operasi akan sangat membantu. Teknik perawatan luka pascaoperasi aseptic akan menurunkan insiden infeksi superficial dan potensial terjadinya osteomyelitis.

G. Penatalaksanaan
       Daerah yang terkena harus dimobilisasi untuk mengurangi ketidaknyamanan dan mencegah terjadinya fraktur. Dapat dilakukan rendaman salin hangat selama 20 menit beberapa kali per hari untuk meningkatkan aliran darah.
       Sasaran awal terapi adalah mengontrol dan menghentikan proses infeksi, kultur darah dan kultur abses dilakukan untuk mengidentifkasi organisme dan memilih antibiotika yang terbaik. Kadang, infeksi disebabkan oleh dari satu patogen.
       Begitu spesimen kultur telah diperoleh, dimulai pemberian terapi antibiotika intravena, dengan asumsi bahwa dengan infeksi staphylococcus yang peka terhadap penisilin semi sintetik atau sefalosporin. Tujuannya adalah mengontrol infeksi sbelum aliran darah ke darah tersebut menurun akibat terjadinya trombosis. Pemberian dosis antibiotika terus-menerus sesuai waktu sangat penting untuk mencapai kadar antibiotika dalam darah yang terus menerus tinggi. Antibiotika yang paling sensitif terhadap organisme penyebab yang diberikan bila telah diketahui biakan dan sensitivitasnya. Bila infeksi tampak telah terkontrol, antibiotika dapat diberikan per oral dan dilanjutkan sampai 3 bulan. Untuk meningkatkan absorpsi antibiotika oral, jangan diminum bersama makanan.
       Bila pasien tidak menunjukkan respon terhadap terapi antibiotika, tulang yang terkena harus dilakukan pembedahan, jaringan purulen dan nekrotik diangkat dan daerah itu diiringi secara langsung dengan larutan salin fisiologi steril. Tetapi antibiotika dianjurkan.
       Pada osteomyelitis kronik, antibiotika merupakan ajuran terhadap debridemen bedah. Dilakukan sequestrektomi (pengangkatan involukrum secukupnya supaya ahli bedah dapat mengangkat sequestrum). Kadang harus dilakukan pengangkatan tulang untuk memajankan rongga yang dalam menjadi cekungan yang dangkal (saucerization). Semua tulang dan kartilago yang terinfeksi dan mati diangkat supaya dapat terjadi penyembuhan yang permanen.
       Luka dapat ditutup rapat untuk menutup rongga mati (dead spance) atau dipasang tampon agar dapat diisi oleh jaringan granulasi atau dilakukan grafing dikemudian hari. Dapat dipasang drainase berpengisap untuk mengontrol hematoma dan membuanng debris. Dapat diberikan irigasi larutan salin normal selama 7 sampai8 hari. Dapat terjadi infeksi samping dengan pemberian irigasi ini.
       Rongga yang dibedridemen dapat diisi dengan graft tulang konselus untuk merangsang penyembuhan. Pada defek yang sangat besar, rongga dapat diisi dengan transfer tulang berpembuluh darah atau flup otot (dimana suatu otot diambil dari jaringan sekitarnya namun dengan pembuluh darah yang utuh). Teknik bedah mikro ini akan meningkatkan asun darah; perbaikan asupan darah kemudian akan memungkinkan penyembuhan tulang da eradikasi infeksi. Prosedur bedah ini dapat dilakukan secara bertahap untuk menyakinkan penyembuhan. Debridemen bedah dapat melemahkan tulang, kemudian memerlukan stabilisasi atau penyokong dengan fiksasi interna atau alat penyokong eksterna untuk mencegah terjadinya patah tulang.





PENYIMPANGAN KDM

Bakteri staphylococcus areus

                                                       Invasif kedalam tulang                   kurang pengetahuan

                                                                                                                   Tentang penyakitnya
Reaksi Imunologis
                                                                                                                   Stressor meningkat
Tindakan invasif                                    Osteomyelitis
                                                                                                                               koping
Pintu masuknya                Merangsang pengeluaran zat bradikinin,          tdk adekuat
Agen infeksi                                  cherotin dan prostaglandin
                                                                                                                            Kecemasan
Fungsi proteksi                             Merangsang saraf efferent
kulit hilang
                                                                        thalamus

Resiko tinggi terhadap                             corteks serebri                  Sakit/ketidaknyamanan

Penyebaran infeksi                                                                                   pd waktu bergerak
                                                                                                  Nyeri                                       (immobilisasi)

                                    Ketidakmampuan turun
                                          Dari tempat tidur
                                                                                                                                   
Tertekannya permukaan kulit terlalu lama

                                                                                                            Gangguan intergritas kulit





BAB II
KONSEP KEPERAWATAN
A.    PENGKAJIAN
v Pasien yang datang dengan awitan gejala akut (misal, nyeri lokal, pembengkakan, eritema, demam) atau kambuhan keluarnya pus dari sinus disetai nyeri, pembengkakan dan demam sedang.
v Kaji adanya faktor risiko (misalnya lansia, diabetes, terapi kortikosteroid jangka panjang) dan cedera, infeksi atau bedah ortopesi sebelumnya.
v Pasien selalu menghindar dari tekanan didaerah tersebut dan melakukan gerakan perlindungan.
v Pada osteomyelitis akut, pasien akan mengalami kelemahan umum akibat reaksi sistemik infeksi.
v Pemeriksaan fisik memperlihatkan adanya daerah inflamasi, pembengkakan nyata, cairan purulen dapat terlihat.
v Pasien akan mengalami peningkatan suhu tubuh.
v Pada osteomyelitis kronik, peningkatan suhu mungkin minimal, yang terjadi pada sore dan malam hari.

B.     DIAGNOSA KEPERAWATAN
1.   Nyeri b/d inflamasi dan pembengkakan
2.   Kerusakan mobilitas fisik b/d nyeri/ketidaknyamanan
3.   Resiko terhadap penyebaran infeksi b/d fungsi proteksi kulit hilang
4.   Kerusakan intergritas kulit b/d pengeluaran nanah dari kulit
5.   Ansietas b/d kurangnya pengetahuan tentang kondisi dan kebutuhan pengobatan.
C.     RENCANA TINDAKAN KEPERAWATAN
1.   Nyeri b/d inflamasi dan pembengkakan
INTERVENSI
RASIONAL
1. Observasi dan catat lokasi, beratnya (skala 0-10) dan karakter nyeri (menetap, hilang timbul).




1.  Membantu membedakan penyebab nyeri dan memberikan informasi tentang kemajuan/perbaikan penyakit, terjadinya komplikasi, dan keefektifan intervensi.
2.catat terhadap respon obat, dan laporkan pada dokter bila nyeri hilang.


2.  Nyeri berat yang tidak hilang dengan tindakan rutin dapat menunjukkan terjadinya komplikasi/kebutuhan terhadap intervensi lebih lanjut.
3. pantau tanda vital, catat peninggian suhu.

3.  peninggian frekuensi jantung dapat menunjukkan peningkatan nyeri/ketidaknyamanan atau terjadi respons trhadap demam dan proses inflamasi.

4. Kalaborasi. Berikan obat antipiretik, contoh asetaminofen.
4.Menurunkan demam dan inflamasi.

2.   Kerusakan mobilitas fisik b/d nyeri/ketidaknyamanan
INTERVENSI
RASIONAL
1.   Instruksian pasien untuk/bantu dalam rentang gerak pasien/aktif pada ekstremitas yang sakit dan yang tak sakit
1. Meningkatkan aliran darah ke otot dan tulang untuk meningkatkan tonus otot, mempertahankan gerak sendi; kontrakturatrofi, dan resorpsi kalsium karena tidak digunakan.
2.   Bantu/dorong perawatan diri/kebersihan (contoh mandi)
2.Meningkatkan kekuatan otot dan sirkulasi, meningkatkan kontrol pasien dalam situasi, dan meningkatkan kesehetan diri langsung.
3.   Awasi TD dengan melakukan aktivitas. Perhatikan keluhan pusing.
3. Hipotensi postural adalah masalah umum menyertai tirah baring lama dan dapat memerlukan intervensi khusus (contoh kemiringan meja dengan peninggian secara bertahap sampai posisi tegak).
4.   Ubah posisi secara periodik dan dorong untuk latihan batuk/napas dalam.
4. Menjega/menurunkan insiden komplikasi kulit/pernapasan (contoh dekubitus, atelektasis pneumonia).

3.   Resiko terhadap penyebaran infeksi b/d fungsi proteksi kulit hilang
INTERVENSI
RASIONAL
1.    Observasi tanda-tanda infeksi peradangan, seperti demam. Kemerahan, adanya pus pada luka, sputum purulen.
1.   Pasien mungkin masuk dengan infeksi yang biasanya telah mencentuskan keadaan ketoasidosis atau dapat mengalami infeksi nosokomial.
2.    Tingkatkan upaya pencegahan dengan melakukan cuci tangan yang baik pada semua orang yang berhubungan dengan pasien termasuk pasiennya sendiri.
2.   Mencegah timbulnya infeksi silang (infeksi nosokomial).
3.    dorong  keseimbangan antara aktivitas dan istirahat .
3.   menurunkan komsumsi/ kebutuhan keseimbangan oksigen dan memperbaiki pertahanan pasien terhadap infeksi, meningkatkan penyembuhan.
4.    diskusikan kebutuhan masukan nutrisi adekuat.
4.   malnutrisi dapat mempengaruhi kesehatan umum dan menurunkan tahanan terhadap infeksi.
5.    berikan antibiotik sesuai indikasi
5.   Dapat diberikan secara profilaksis bila dicurigai terjadinya infeksi atau kontaminasi

4.   Kerusakan intergritas kulit b/d pengeluaran nanah dari kulit
INTERVENSI
RASIONAL
1. Kaji kulit setiap hari. Catat warna, turgor, sirkulasi, dan sensasi. Gambarkan lesi dan amati perubahannya
1.Menentukan garis dasar dimana perubahan pada status dapat dibandingkan dan melakukan intervensi yang tepat.
2. Tutupi dan bersihkan luka dengan pembalut steril atau barier protektif, misalnya DuoDerm, sesuai petunjuk.
2. Dapat mengurangi kontaminasi bakteri, meningkatkan proses penyembuhan.
3. Irigasi lika; bantu denga melakukan debridemen sesuai kebutuhan.
3. Membuang jaringan nekrotik/luka eksudat umtuk meningkatkan penyembuhan.
4. Ingatkan pasien untuk tidak menyentuh daerah luka.
4. Mencegah kontaminasi luka.

5.   Ansietas b/d kurangnya pengetahuan tentang kondisi dan kebutuhan pengobatan
INTERVENSI
RASIONAL
1. Tinjau proses peyakit prognosis, dan harapan masa depan.

1. Memberikan pengetahuan dimana pasien dapat membuat pilihan berdasarkan informasi.
2. Tekankan pentingnya melanjutkan farmakoterapeutik.
2. Keuntungan dari terapi obat-obatan tergantung pada ketetapan dosis, misalnya aspirin harus diberikan secara reguler untuk mendukung kadar terapeutik darah 18-25 mg.
3. Dorong dan berikan kesempatan untuk pasien/orang terdekat untuk mengajukan pertanyaan dan menyatakan masalah.
3. Membuat perasaan terbuka dan bekerja sama dan menghilangkan takut bahwa pasien kehilangan kontrol.
4. Dorong orang terdekat berpartisipasi dalam asuhan, sesuai indikasi.
4. Keterlibatan meningkatkan perasaan berbagi, menguatkan perasaan berguna, memberikan kesempatan untuk mengakui kemampuan individu dan dapat memperkecil tahut karena ketidaktahuan.
5.Tunjukkan indikator positif pengobatan, contoh perbaikan dalam nilai laboratorium, TD stabbil, berkurangnya kelelahan.
5. Meningkatkan perasaan berhasil/maju.

D.    EVALUASI
Hasil yang diharapkan
1. Mengalami peredaan nyeri
a. Melaporkan berkurang nyeri    
b. Tidak mengalami nyeri tekan di tempat terjadinya infeksi
c. Tidak mengalami ketindaknyamanan bila bergerak

            2. Peningkatan mobilitas fisik
    1. Berpartisipasi dalam aktivitas perawatan diri
    2. Mempertahankan fungsi penuh ekstremitas yang sehat
    3. Memperlihatkan pengguanaan alat imobilisasi dan alat bantu dengan aman.
3.  Tidak adanya penyebaran infeksi
a.       Memakai antibiotika sesuai resep
b.      Suhu badan normal
c.       Tidak adanya pembengkakan
d.      Tidak adanya pus
e.       angka leukosit dan laju endap darah kembalai normal
4.  Menunjukkan tingkah laku/teknik untuk mencegah kerusakan kulit/meningkatkan kesembuhan
5.  - Menyatakan pemahaman kondisi, prognosis, dan pengobatan
- Melakukan dengan benar prosedur yang diperlukan dan menjelaskan alasan tindakan




























BAB III

PENUTUP

A.    KESIMPULAN
Osteomielitis adalah infeksi tulang. Infeksi tulang lebih sulit disembuhkan daripada infeksi jaringan lunak karena terbatasnya asupan darah, respons jaringan terhadap inflamasi, tingginya tekanan jaringan dan pembentukan involukrum (pembentukan tulang baru di sekeliling jaringan tulang mati).
Klasifikasi Osteomyellitis
Menurut kejadiannya terbagi 2 yaitu :
1. Osteomyelitis Primer        kuman-kuman mencapai secara langsung melalui luka.
2. Osteomyelitis Sekunder        adalah kuman-kuman mencapai tulang melalui aliran darah dari suatu focus primer ditempat lain (misalnya infeksi saluran napas, genitourinaria furunkel).
Sedangkan menurut perlangsungnya dibedakan atas :
a. Steomyelitis akut
b. Steomyelitis kronis
Osteomyelitis menurut penyebabnya adalah osteomyelitis biogenik yang paling sering :
v  Staphylococcus (orang dewasa)
v  Streplococcus (anak-anak)
v  Pneumococcus dan Gonococcus
Pada anak-anak, infeksi tulang yang didapat melalui aliran darah, menyebabkan demam dan kadang-kadang di kemudian hari, menyebabkan nyeri pada tulang yang terinfeksi. Daerah diatas tulang bisa mengalami luka dan membengkak, dan pergerakan akan menimbulkan nyeri.

B.     SARAN

Sebagai perawat kita harus mengerti apa itu Osteomyelitis, apa penyebab, bagaimana gejalanya dan yang terpenting kita harus tahu tindakan apa yang harus kita berikan untuk membantu proses penyembuhan klien.



DAFTAR PUSTAKA
Doengoes, Marilynn E. Rencana asuhan keperawatan: pedoman untuk perencanaan & pendokumentasian perawatan pasien, Edisi 3, Jakarta :EGC,1999
Smeltzer, Suzanna C. Buku ajar keperawatan medikal bedah Brunner & Saddarth, Editor edisi 8, Jakarta : EGC,2001.


























                                                          




KATA PENGANTAR

Puji syukur kita panjatkan kehadirat Allah SWT karena dengan Rahmat dan Hidayat-Nya makalah kami yang berjudul ”SKOLIOSIS & OSTEOMYELITIS”, dapat kami selesaikan dalam waktu yang singkat.

Terima kasih kami ucapkan kepada teman-teman yang telah membantu meluangkan waktunya guna membantu menyelesaikan makalah ini.

Kami sebagai penulis mengharapkan makalah ini dapat membantu pembaca dan teman-teman dalam memahami tentang isinya dan menambah pengetahuan teman-teman karena ini kami buat dengan menggunakan bahasa yang sederhana dan mudah dipahami.




                                                                              Makassar,  Mei 2008

Komentar dengan akun facebook

link

SEO Stats powered by MyPagerank.Net
Google PageRank Checker Powered by  MyPagerank.Net Yahoo bot last visit powered by MyPagerank.Net

 
Design by Alamsyah Aris | Bloggerized by Alamsyah design | Maros Indonesia