Kamis, 02 Juni 2011

ASUHAN KEPERAWATAN(ASKEP) HERNIA



BAB II
PEMBAHASAN
A. PENGERTIAN
Secara umum Hernia merupakan proskusi atau penonjolan isi suatu rongga dari berbagai organ internal melalui pembukaan abnormal atau kelemahan pada otot yang mengelilinginya dan kelemahan pada jaringan ikat suatu organ tersebut (Griffith, 1994).
Hernia adalah : tonjolan keluarnya organ atau jaringan melalui dincling rongga dimana organ tersebut seharusnya berada yang didalam keadaan normal tertutup.
Hernia atau usus turun adalah penonjolan abnormal suatu organ/ sebagian dari organ melalui lubang pada struktur disekitarnya.
Pengertian Hernia adalah menonjolnya suatu organ atau struktur organ dan tempatnya yang normal malalui sebuah defek konsenital atau yang didapat. (Long, 1996 : 246).
Herniaa adalah suatu keadaan menonjolnya isi usus suatu rongga melalui lubang (Oswari, 2000 : 216). Hernia adalah penonjolan sebuah organ, jaringan atau struktur melewati dinding rongga yang secara normal memang berisi bagian-bagian tersebut(Nettina, 2001 : 253).

B. KLASIFIKASI
Banyak sekali penjelasan mengenai klasifikasi hernia menurut macam, sifat dan proses terjadinya. Berikut ini penjelasannya :
Macam-macam hernia :
a . Macam-macam hernia ini di dasarkan menurut letaknya,seperti :
1.Inguinalis. Hernia inguinal ini dibagi lagi menjadi :
· Indirek / lateralis: Hernia ini terjadi melalui cincin inguinalis dan melewati korda spermatikus melalui kanalis inguinalis. Ini umumnya terjadi pada pria dari pada wanita. Insidennya tinggi pada bayi dan anak kecil. Hernia ini dapat menjadi sangat besar dan sering turun ke skrotum. Umumnya pasien mengatakan turun berok, burut atau kelingsir atau mengatakan adanya benjolan di selangkangan/kemaluan. Benjolan tersebut bisa mengecil atau menghilang pada waktu tidur dan bila menangis, mengejan atau mengangkat benda berate tau bila posisi pasien berdiri dapat timbul kembali.
· Direk / medialis: Hernia ini melewati dinding abdomen di area kelemahan otot, tidak melalui kanal seperti pada hernia inguinalis dan femoralis indirek. Ini lebih umum pada lansia. Hernia inguinalis direk secara bertahap terjadi pada area yang lemah ini karena defisiensi kongenital. Hernia ini disebut direkta karena langsung menuju anulus inguinalis eksterna sehingga meskipun anulus inguinalis interna ditekan bila pasien berdiri atau mengejan, tetap akan timbul benjolan. Bila hernia ini sampai ke skrotum, maka hanya akan sampai ke bagian atas skrotum, sedangkan testis dan funikulus spermatikus dapat dipisahkan dari masa hernia. Padapasien terlihat adanya massa bundar pada annulus inguinalis eksterna yang mudah mengecil bila pasien tidur. Karena besarnya defek pada dinding posterior maka hernia ini jarang sekali menjadi ireponibilis.
2. Femoralis : Hernia femoralis terjadi melalui cincin femoraldan lebih umum pada wanita dari pada  pria. Ini mulai sebagai penyumbat lemak di kanalis femoralis yang membesar dan secara bertahap menarik peritoneum dan hampir tidak dapat dihindari kandung kemih masuk kedalam kantung. Ada insiden yang tinggi dari inkarseratadan strangulasi dengan tipe hernia ini.
3. Umbilikal : Hernia umbilikalis pada orang dewasa lebih umum pada wanita dan karena  peningkatan tekanan abdominal. Ini biasanya terjadi pada klien gemuk dan wanita multipara. Tipe hernia ini terjadi pada sisi insisi bedah sebelumnya yang telah sembuh secara tidak adekuat karena  masalah pasca operasi seperti infeksi,nutrisi tidak adekuat, distensi ekstrem atau kegemukan.
4. Incisional : batang usus atau organ lain menonjol melalui jaringan parut yang lemah.

b . Berdasarkan terjadinya, hernia dibagi atas :
1.  Hernia bawaan atau kongenital
Patogenesa pada jenis hernia inguinalis lateralis (indirek):Kanalis inguinalis adalah kanal  yang normal pada fetus. Pada bulan ke-8 kehamilan, terjadi desensus testis melalui kanal tersebut. Penurunan testis tersebut akan menarik peritonium ke daerah skrotum sehingga terjadi penonjolan peritoneum yang disebut dengan prosesus vaginalisperitonei. Pada bayi yang sudah lahir, umumnya prosesusini telah mengalami obliterasi sehingga isi rongga peruttidak dapat melalui kanalis tersebut. Namun dalam beberapa hal, kanalis ini tidak menutup. Karena testis kiri turun terlebih dahulu, maka kanalis inguinalis kanan lebihsering terbuka. Bila kanalis kiri terbuka maka biasanya yang kanan juga terbuka. Dalam keadaan normal, kanalis yang terbuka ini akan menutup pada usia 2 bulan. Bila prosesus terbuka terus (karena tidak mengalami obliterasi) akan timbul hernia inguinalis lateralis kongenital. Pada orang tua kanalis tersebut telah menutup. Namun karena merupakan lokus minoris resistensie, maka pada keadaan yang menyebabkan tekanan intra-abdominal meningkat, kanal tersebut dapat terbuka kembali dan timbul hernia inguinalis lateralis akuisita.
2. Hernia dapatan atau akuisita (acquisitus = didapat): yakni hernia yang timbul karena berbagai  faktor pemicu.

c. .Menurut sifatnya, hernia dapat disebut :
1. Hernia reponibel/reducible, yaitu bila isi hernia dapat keluar masuk. Usus keluar jika berdiri atau mengedan dan masuk lagi jika berbaring atau didorong masuk, tidak ada keluhan nyeri atau gejala obstruksi usus.
2. Hernia ireponibel, yaitu bila isi kantong hernia tidak dapat dikembalikan ke dalam rongga. Ini biasanya disebabkan oleh perlekatan isi kantong pada peri tonium kantong hernia. Hernia ini juga disebut hernia akreta (accretus =perlekatan karena fibrosis). Tidak ada keluhan rasa nyeri ataupun tanda sumbatan usus.
3. Hernia strangulata atau inkarserata (incarceratio =terperangkap, carcer = penjara), yaitu bila isi hernia terjepit oleh cincin hernia. Hernia inkarserata berarti isi kantong terperangkap, tidak dapat kembali ke dalamr rongga perut disertai akibatnya yang berupa gangguan pasase atau vaskularisasi. Secara klinis “hernia inkarserata” lebih di maksudkan untuk hernia ireponibel dengan gangguan pasase, sedangkan gangguan vaskularisasi disebut sebagai “hernia strangulata”. Hernia strangulata mengakibatkan nekrosis dari isi abdomen di dalamnya karena tidak mendapat darah akibat pembuluh pemasoknya terjepit. Hernia jenis ini merupakan keadaan gawat darurat karenanya perlu mendapat pertolongan segera.

C. ETIOLOGI
- Ketidak patensian rongga yang tidak sempurna.
- Anomaly kongenital atau karena sebab yang didapat.
- Adanya prosesus vaginalis yang terbuka
- Peninggian tekanan didalam rongga abdomen
- Kelemahan otot dinding abdomen
D. MANIFESTASI KLINIS
a. Berupa benjolan keluar masuk/keras.
b. Adanya rasa nyeri pada daerah benjolan
.
c. Terdapat gejala mual dan muntah atau distensi bila telah ada komplikasi
.
d. Terdapat keluhan kencing berupa disuria pada hernia femoralis yang berisi kandung     kencing.

E. PATOFISIOLOGI
Hernia berkembang ketika intra abdominal mengalami pertumbuhan tekanan seperti tekanan pada saat mengangkat sesuatu yang berat, pada saat buang air besar atau batuk yang kuat atau bersin dan perpindahan bagian usus kedaerah otot abdominal, tekanan yang berlebihan pada daerah abdominal itu tentu saja akan menyebabkan suatu kelemahan mungkin disebabkan dinding abdominal yang tipis atau tidak cukup kuatnya pada daerah tersebut dimana kondisi itu ada sejak atau terjadi dari proses perkembangan yang cukup lama, pembedahan abdominal dan kegemukan. Pertama-tama terjadi kerusakan yang sangat kecil pada dinding abdominal, kemudian terjadi hernia. Karena organ-organ  selalu saja melakukan pekerjaan yang berat dan berlangsung dalam waktu yang cukup lama, sehingga terjadilah penonjolan dan mengakibatkan kerusakan yang sangat parah.sehingga akhirnya menyebabkan kantung yang terdapat dalam perut menjadi atau mengalami kelemahan jika suplai darah terganggu maka berbahaya dandapat menyebabkan ganggren.

F. PENATALAKSANAAN MEDIS
a. Secara konservatif (non operatif)
1) Reposisi hernia
Hernia dikembalikan pada tempat semula bisa langsung dengan tangan.
2) Penggunaan alat penyangga dapat dipakai sebagai pengelolaan sementara, misalnya pemakaian korset.
b. Secara operatif
1) Hernioplasty
Memindahkan fasia pada dinding perut yang lemah, hernioplasty sering dilakukan pada anak-anak
2) Hernioraphy
Pada bedah elektif,  kanalis dibuka,  isi hernia  dimasukkan    kantong  diikat, dan dilakukan basiny plasty atau tehnik yang lain untuk   memperkuat  dinding belakang kanalis inguinalis. Ini sering dilakukan pada orang dewasa.
3) Herniotomy
Seluruh herni a dipotong dan diangkat lalu dibuang. Ini dilakukan  pada  klien dengan hernia yang sudah nekrosis.
Perawatan untuk post operasi
a. Hindari penyakit yang mungkin terjadi yaitu: Perdarahan, Syok, Muntah, Distensi,  Kedinginan, Infeksi, Dekubitus, Sulit buang air kecil.
b. Observasi keadaan klien.
c. Cek TTV.
d. Cuci luka dan ganti balutan operasi sesuai pesanan dokter.
e. Perhatikan drainase.
f. Penuhi nutrisi.
g. Mobilisasi diri
   - Perawatan tidur dengan sikap Fowler (sudut 450-600).
   - Hari kedua boleh duduk (untuk herniotomi hari ke-5).
   - Hari ketiga boleh jalan (untuk herniotomi hari ke-7).
h. Diet
   - Hari 0: Bila pengaruh obat anestesi hilang boleh diberi minum sedikit-sedikit
   - Hari 1: Diet Vloiher (herniotomi diet sama dengan post laparatomi)
   - Hari 2: Diet bubur saring
   - Hari 3: Berturut-turut diet ditingkatkan.

G. KOMPLIKASI
     Akibat
dari hernia dapat menimbulkan komplikasi sebagai berikut :
  1. Terjadi perlengketan antara isi hernia dengan dinding kantung hernia sehingga isi kantung hernia tidak dapat dikembalikan lagi, keadaan ini disebut hernia ingunalis lateralis ireponibins pada keadaan ini belum gangguan penyaluran isi usus, isi hernia yang menyebabkan ireponibilis adalah omentum, karena mudah melekat pada dinding hernia.
  2. Terjadi tekanan terhadap cincin hernia, akibat makin benyaknya usus yang masuk cincin hernia relatif semakin sempit dan menimbulkan gangguan isi perut, ini dsebut hernia inguinalis lateralis inkarserata.
  3. Bila hernia dibiarkan maka akan timbul edema dan terjadi penekanan pembuluh darah sehingga terjadi nekrosis keadaan ini disebut hernia ingunalis lateralis stranggulasi, terjadi karena usus berputar (melintar) pada keadaan inkarserasi dan stranggulasi maka timbul gejala illeusmuntah, kembung dan obstipasi pada stranggulasi nyeri hebat daerah tonjolan menjadi lebih merah dan penderita sangat gelisah.





I.  KONSEP ASKEP
A).Pengkajian
Pengkajian pasien Post operatif(Doenges, 1999) meliputi :
Sirkulasi:
Gejala :
riwayat masalah jantung, GJK, edemapulmonal, penyakit vascular perifer, atau stasisvascular (peningkatan risiko pembentukan trombus).
Integritas ego:
Gejala :
perasaan cemas, takut, marah, apatis ;factor-faktor stress multiple, misalnya financial,hubungan, gaya hidup.
Tanda :
Tidak dapat istirahat, peningkatan  ketegangan/peka rangsang ; stimulasi simpatis.

Makanan / cairan:
Gejala :
insufisiensi pancreas/DM, (predisposisi untuk hipoglikemia/ketoasidosis) ; malnutrisi (termasukobesitas) ; membrane mukosa yang kering(pembatasan pemasukkan / periode puasa praoperasi).

Pernapasan
Gejala :
infeksi, kondisi yang kronis/batuk, merokok.

Keamanan:
Gejala :
alergi/sensitive terhadap obat, makanan,plester, dan larutan.
Defisiensi immune(peningkaan risiko infeksisitemik dan penundaan penyembuhan) ; Munculnya kanker / terapi kankerterbaru ; Riwayat keluarga tentang hipertermiamalignant/reaksi anestesi ; Riwayat penyakit hepatic (efek dari detoksifikasi obat-obatan dandapat mengubah koagulasi) ; Riwayat transfuse darah / reaksi transfuse.
Tanda :
menculnya proses infeksi yang melelahkan ; demam.

Penyuluhan / Pembelajaran
Gejala : pengguanaan antikoagulasi, steroid,antibiotic, antihipertensi, kardiotonik glokosid,antidisritmia, bronchodilator, diuretic, dekongestan,analgesic, antiinflamasi, antikonvulsan atau tranquilizer dan juga obat yang dijual bebas, atauobat-obatan rekreasional. Penggunaan alcohol (risiko akan kerusakanginjal, yang mempengaruhi koagulasi dan pilihan anastesia, dan juga potensialbagi penarikan diri pasca operasi).
J. DIAGNOSA KEPERAWATAN
1.      Gangguan rasa nyaman (nyeri) berhubungan dengan diskontuinitas jaringan akibat tindakan operasi.
2.      Resiko terjadi infeksi berhubungan dengan luka insisi bedah/operasi.
3.      Gangguan pola tidur berhubungan dengan nyeri post operasi.
4.      Intoleransi aktivitas berhubungan dengan kelemahan umum.

K. RENCANA ASUHAN  KEPERAWATAN
1.      Gangguan rasa nyaman (nyeri) berhubungan dengan diskontuinitas jaringan akibat tindakan operasi.
Tujuan : Nyeri hilang atau berkurang

Kriteria Hasil
: - klien mengungkapkan rasa nyeri berkurang
   -tanda-tanda vital normal
 
 -pasien tampak tenang dan rileks.


INTERVENSI


RASIONAL

·         Pantau tanda-tanda vital, intensitas/skala  nyeri
·         Anjurkan klien istirahat ditempat  tidur

·         Atur posisi pasien senyaman mungkin

·         Ajarkan teknik relaksasi dan napas dalam.
·         Kolaborasi untuk pemberian analgetik.




·         Mengenal dan memudahkan dalam melakukan tindakan keperawatan.
·         Istirahat untuk mengurangi intesitas nyeri
·         posisi yang tepat mengurangi penekanan dan mencegah ketegangan otot serta mengurangi nyeri.
·         relaksasi mengurangi ketegangan dan membuat perasaan lebih nyaman
·         analgetik berguna untuk mengurangi nyeri sehingga pasien menjadi lebih nyaman.




2.      Resiko terjadinya infeksi berhubungan dengan luka insisi bedah/operasi.
Tujuan
: tidak ada infeksi
Kriteria hasil : -tidak ada tanda-tanda infeksi seperti pus.
                                - luka bersih tidak lembab dan kotor.
                                - Tanda-tanda vital normal

INTERVENSI

RASIONAL
·         Pantau tanda-tanda vital.





·         Lakukan perawatan luka dengan teknik aseptik.
·         Lakukan perawatan terhadap prosedur inpasif seperti infus, kateter, drainase luka, dll
·         Jika ditemukan tanda infeksi kolaborasi untuk pemeriksaan darah, seperti Hb danleukosit.

·         Kolaborasi untuk pemberian antibiotik.

.


·         Jika ada peningkatan tanda-tanda vital besarkemungkinan adanya gejala infeksi karena tubuhberusaha intuk melawan mikroorganisme asing yang masuk maka terjadi peningkatan tanda vital.
·         perawatan luka dengan teknik aseptic mencegah risiko infeksi.
·         untuk mengurangi risiko infeksi nosokomial.

·         penurunan Hb dan peningkatan jumlahleukosit dari normal membuktikan adanya tanda-tanda infeksi.
·         antibiotic mencegah perkembangan mikroorganisme patogen.





3).Gangguan pola tidur berhubungan dengan nyeri post operasi.
     Tujuan : pasien dapat tidur dengan nyaman
     Kriteria hasil :- pasien mengungkapkan kemampuan untuk tidur.
      - pasien tidak merasa lelah ketika bangun tidur- kualitas dan kuantitas tidur         normal.

INTERVENSI


RASIONAL

·         berikan kesempatan untuk beristirahat / tidursejenak, anjurkan latihan pada siang hari, turunkanaktivitas mental / fisik pada sore hari.

·         Hindari penggunaan ”Pengikatan” secara terus menerus

·         Evaluasi tingkat stress orientasi sesuai perkembangan hari demi hari.



·         lengkapi jadwal tidur dan ritoal secara teratur.Katakan pada pasien bahwa saat ini adalah waktu untuk tidur.



·         Berikan makanan kecil sore hari, susu hangat, mandi dan masase punggung
·         Turunkan jumlah minum pada sore hari. Lakukan berkemih sebelum tidur.

Kolaborasi
·         berikan obat sesuai indikasi : Antidepresi, sepertiamitriptilin (Elavil); deksepin (Senequan) dantrasolon (Desyrel).





·         Koral hidrat; oksazepam (Serax); triazolam (Halcion).



·         Hindari penggunaan difenhidramin (Benadry1).



·         Karena aktivitas fisik dan mental yang lama mengakibatkan kelelahan yang dapat mengakibatkan kebingungan, aktivitas yang terprogram tanpa stimulasi berlebihan yang meningkatkan waktu tidur
·          Risiko gangguan sensori, meningkatkan agitasi dan menghambat waktu istirahat.
·         Peningkatan kebingungan, disorientasi dan tingkah laku yang tidak kooperatif (sindromsundowner) dapat melanggar pola tidur yang mencapai tidur pulas.
·         Pengatan bahwa saatnya tidur dan mempertahankan kestabilan lingkungan.Catatan :Penundaan waktu tidur mungkin di indikasikan untuk memungkin pasien membuang kelebihan energi dan memfasilitas tidur.
·         Meningkatkan relaksasi dengan perasan mengantuk

·         Menurunkan kebutuhan akan bangun untuk pergi kekamar mandi/berkemih selama malam hari.


·         Mungkin efektif dalam menangani Pseudodimensia atau depresi, meningkatkan kemampuan untuk tidur, tetapi anti kolinergik dapat mencetuskan dan memperburuk kognitif dalam efeksamping tertentu (seperti hipotensi ortostatik) yang membatasi manfaat yang maksimal.
·         Gunakan dengan hemat, hipnotik dosis rendah mungkin efektif dalam mengatasi insomnia atau sindrom sundowner.

·         Bila digunakan untuk tidur, obat ini sekarang dikontraindikasikan karena obat ini mempengaruhi produksi asetilkon yang sudah dihambat dalam otak pasien dengan DAT ini.


4).Intoleransi aktivitas berhubungan dengan kelemahan umum.
     Tujuan : klien dapat melakukan aktivitas ringan atau total.
     Kriteria hasil :-perilaku menampakan kemampuan untuk memenuhi kebutuhan diri.
-pasien mengungkapkan mampu untuk melakukan beberapa aktivitas tanpa   dibantu.
-Koordinasi otot, tulang dan anggota gerak lainya baik.

INTERVENSI


RASIONAL
·         Rencanakan periode istirahat yang cukup.


·         Berikan latihan aktivitas secara bertahap.



·  Bantu pasien dalam memenuhi kebutuhan sesuai kebutuhan.

·         Setelah latihan dan aktivitas kaji respons pasien

·         mengurangi aktivitas yang tidak diperlukan,dan energi terkumpul dapat digunakan untuk aktivitas seperlunya secar optimal.
·         tahapan-tahapan yang diberikan membantu proses aktivitas secara perlahan dengan menghemattenaga namun tujuan yang tepat, mobilisasi dini.
·         mengurangi pemakaian energi sampai kekuatan pasien pulih kembali.


·         menjaga kemungkinan adanya respons abnormal dari tubuh sebagai akibat dari latihan.

Komentar dengan akun facebook

link

 
Design by Alamsyah Aris | Bloggerized by Alamsyah design | Maros Indonesia