Tekno Solution

Tekno Solution
Tampilkan postingan dengan label ASKEP KMB. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label ASKEP KMB. Tampilkan semua postingan

Senin, 13 Februari 2012

ASKEP FARINGITIS



BAB I
KONSEP MEDIS

A.  PENGERTIAN
Faringitis adalah inflamasi febris yang disebabkan oleh infeksi virus yang tak terkomplikasi biasanya akan menghilang dalam 3 sampai 10 setelah awitan.
B.   ETIOLOGI
Penyebab dari faringitis dapat bervariasi dari organisme yang menghasilkan eksudat saja atau perubahan kataral sampai yang menyebabkan edema dan bahkan ulserasi. Organismeyang ditemukan termasuk streptokokus, pneumukokus, dan basilus influenza, diantara organisme yang lainnya.
C. PATOFISIOLOGI
Pada stadium awal, terdapat hiperemia, kemudian edama dan sekresi yang meningkat. Eksudat mula-mula serosa tapi menjadi menebal atau berbentuk mukus, dan kemudian cenderung menjadi kering dan dapat melekat pada dinding faring. Dengan hiperemia, pembuluh darah dinding faring menjadi melebar. Bentuk sumbatan yang berwarna putih, kuning, atau abu-abu terdapat dalam folikel atau jaringan limfoid. Tidak adanya tonsila,dan tampak bahwa folikel limfoid atau bercak-bercak pada dinding faring posterior,atau terletak lebih kelateral, mejadi meradang dan membengkak.
Dengan kemajuan dalam identifikasi virus, laporan masalah klinis yang berhubungan dengan penyebab virus menjadi lebih banyak. Penting untuk berhati-hati terhadap kemungkinan penyebab virus pada faring yang berhubungan dengan adenopati tidak adanya pembentukan membran faring folikularis. Pembentukan vesikel pada membran mukosa, seperti herpes, dugaan kuat penyebabnya adalah virus.
D. MENIFESTASI KLINIS
Penderita mengeluh rasa kering atau gatal pada tenggorok. Dinding faring kemerahan dan menjadi kering , gambaran seperti kaca dan dilapisi oleh sekresi mukus, jaringan limfoid biasanya tampak merah dan membengkak dan disertai dengan demam, malaise, dan sakit tenggorok juga bisa timbul, serak, batuk dan rhinitis.
Infeksi firus tidak terkomplikasi biasanya hilang dengan segera 3 sampai 10 hari. Namun faringitis yang disebabkan oleh bakteri yang lebih virulen seperti streptococcus group A adalah penyakit yg lebih parah selama fase akut dan jauh lebih penntina dari insiden bahaya komplikasi. Kultur tenggorok merupakan cara utama dalam menentukan organisme penyebab setelah diresepkan terapi yang sesuai. Usap nasal dan kultur darah dapat juga dilakukan untuk mengidentifikasi organisme.

E.   PENATALAKSANAAN
         Jika penyebabnya adalah bakterial maka pengobatan dapat mencakup agens antimikrobial untuk streptokokus group A, penisilin merupakan obat pilihan. Namun jika pasien elergi maka digunakan sepalosporin.
         Diet cair atau lunak diberikan selama tahap akut penyakit pada kondisi yang para cairan diberikan secara intravena dan pasien didorong untuk memperbanyak minum air untuk mencegah penyebaran infeksi diinstruksikan untuk menghindari kontak dengan orang lain sampai demam benar-benr menghilang.

BAB II
KONSEP KEPERAWATAN

A.    PENGKAJIAN
      INTEGRITAS EGO
Gejala :       Perasaan takut akan kehilangna suara
Kuatir bila pembedahan mempengaruhi hibungan keluarga, kemampuan kerja dan keuangan
Tanda      : ansietas, depresi

MAKANAN / CAIRAN
Gejala     :  kesulitan menelan
Tanda      :  kesulitan menelan , mudah tersedak, bengkak, inflamasi/drainase
Oral, kebersihan gigi buruk.

HYGIENE
Tanda      :  kemunduran kebersihan gigi
Kebutuhan bantuan perawatan dasar

NEUROSENSORI
Gejala     :  kesemutan, parestesia otot wajah
Tanda      : hemiparesis wajah (keterlibatan parotid dan sub mandibular)
Kesulitan menelan, kerusakan membran mukosa

NYERI/KENYAMANAN
Gejala     : Sakit tenggorok, penyebaran nyeri ketelingan dan wajah, nyeri lokal
Pada orofaring
Tanda      : Prilaku berhati hati, gelisah, nyeri wajah, gangguan tonus otot

PERNAPASAN
Gejala     : Riwayat merokok, penyakit paru kronis, batuk dengan/tanpa sputum
Tanda      : Dispnea, sputum, darah

KEAMANAN
Gejala     : Perubahan pendengaran

INTERAKSI SOSIAL
Gejala     :  Kurang dukungan sistem keluarga, masalah tentang kemampuan berkomunikasi, bergabung dalam interaksi sosial.
Tanda      : Bicara kacau, enggan untuk bicara

B.     DIAGNOSA
1.      Bersihan jalan napas tidak efektif berhubungan dengan sekresi berlebihan sekunder akibat proses inflamasi.
2.      Nyeri berhubungan dengan iritasi jalan napas`atas sekunder akibat infeksi
3.      Kerusakan komunikasi verbal berhubungan dengan iritasi jalan napas atas.
4.      Devfisit volumer cairan berhubungan dengan peningkatan kehilangan cairan sekunder akibat diaforesis yang berkaitan dengan demam.
5.      Kurang pengetahuan mengenai pencehgahan infeksi berhubungan dengan kurang terpajan tentang peyakit dan pengobatan serta prosedur perawatan.

C.    INTERVENSI
NDX I     :  Jalan napas tidak efektif berhubungan dengan sekresi yang berlebihan
Intervensi :
1.    Awasi frekuensi/kedalaman pernapasan, catat kemudahan bernapas, auskultasi bunyi napas, selidiki kegelisahan, dispnea, terjadinya sianosis.
R/ Perubahan pada pernapasan, penggunaan otot aksesori pernapasan atau adanya ronchi diduga karena retensi sekret.
2.   Tinggikan kepala 30 – 40 derajat
R/ Memudahkan drainase sekret, kerja pernapasan dan ekspansi paru.
3.   Dorong menelan bila pasien mampu
R/ Mencegah pengumpulan sekret untuk membersihkan oral, menurunkan resiko aspirasi.
4.   Dorong batuk efektif dan napas dalam
R/ Memobilisasi sekret umtuk membersihkan jalan napas atas dan membantu mencegah komplikasi pernapasan.

NDX 2    : Nyeri berhubungan dengan iritasi jalan napas atas akibat infeksi
Intervensi :
1.   Kaji nyeri, catat lokasi, karakteristik, skala dan selidiki serta laporkan perubahan nyeri yang tepat.
R/  Berguna dalam pengawasan keefektifan obat, kemajuan
2.   Pantau tanda vital
R/ Perubahan frekuensi jantung atau TD menunjukkan bahwa pasien mengalami nyeri.
3.      Berikan analgetik sesuai in dikasi
R/ Menghilangkan nyeri, mempermudah kerjasama dengan intervensi terapi lain.

NDX 3    :  Kerusakan komunikasi verbal berhubungan dengan iritasi jalan nafas atas.
Intervensi :
1.   Kaji kemampuan pasien untuk berkomunikasi
R/ Alasan untuk dukungan ventilator jangka panjang bermacam macam, pasien apat sadar dan beradaptasi pada penullisan.
2.   Tentukan apakah pasien mempunyai gangguan komunikasi lain contoh pendengaran, penglihatan.
R/ Adanya masalah lain akan mempengaruhi rencana untuk pilihan komunikasi
3.    Berikan cara yang tepat dan kontinyu untuk memanggil perawat, contoh bel pemanggil atau lampu
R/ Pasien memerlukan keyakinan bahwa perawat waspada dan akan bererspon terhadap panggilan.
4.    Berikan pilihan cara berkomunikasi yang tepat bagi kebutuhan pasien misalnya papan dan pensil, bahasa isyarat.
R/ Memungkinkan pasien untuk menyatakan kebutuhan/masalah
5.   Berikan komunikasi nonverbal, contoh sentuhan dan gerak fisik.
R/ Mengkomunikasikan masalah dan memenuhi kebutuhan kontak dengan orang
6.      Ingatkan pasien untuk tidak bersuara sampai dokter memberi izin.
R/ Meningkatkan penyembuhan pita suara dan membatasi potensial disfungsi pita permanen.

NDX IV   :  Defisit volume cairaengan berhubungan dengan peningkatan kehilangan cairan akibat diaforesia yang berkaitan dengan demam.


NDX V    :  kurang pengetahuan berhubungan dengan kurang terpajan tentang informasi penyakit dan pengobatannya.
Intervensi
1.      kaji potensial kerja sama dalam program pengobatan dirumah termasuk orang terdekat sesuai indikasi.
R/ orang terdekat memerlukan keterlibatan bila proses penyakit berat atau berubah untuk batasan kesembuhan.
2.      berikan informasi dalam bentuk-bentuk dan segmen yang singkat dan sederhana.
R/ menurunnya rentang perhatian pasien dapat menurunkan kemampuan untuk menerima /memproses dan mengingat/menyimpan informasi yang diberikan.
3.      diskusikan mengenai kemungkinan proses penyembuhan yang lama.
R/ proses pemulihan dapat berlangsung dalam beberapa minggu/bulan dan informasi yang dapat mengenai harapan dapat menolong pasien untuk mengatasi ketidak mampuannya dan juga menerima perasaan tidak nyaman yang lama.

D.    EVALUASI
Hasil yang diharapkan :
1.      mempertahankan jalan napas tetap paten dengan mengatasi sekresi
a.       melaporkan penurunan pada kongesti
b.       mengambil posisi terbaik untuk memudahkan drainase sekresi
2.      melaporkan perasaan lebih nyaman
a.       mengikuti tindakan untuk mencapai kenyamanan analgesic, kantung panas, kumur, istrahat.
b.       Memperagakan higyne mulut yang adekuat.
3.      menunjukan kemampuan untuk mengkomunikasikan kebutuhan, keinginan dan tingkat kenyamanan.
4.      mempertahankan masukan cairan yang adekuat.
5.      mengidentifikasi strategi untuk mencegah infeksi jalan napas atas dan reaksi alergi.
6.      menunjukan tingkat pengetahuan yang cukup dan melakukan perawatan diri secara adekuat.
7.      bebas dari tanda dan gejala infeksi:
a.       menunjukan tanda-tanda vital normal (suhu tubuh, frekuensi nadi dan pernapasan)
b.       tidak terdapat drainase plurelen
c.       bebas dari nyeri pada telinga, sinus, dan tenggorokan.
  

BAB III
PENUTUP

A.    Kesimpulan
          Faringitis adalah gangguan saluran pernafasan bagian atas, timbul akibat rangsangan dan infeksi pada faring karena terjadinya rinitis atrofi, sehingga udara pernapasan tidak diatur suhu dan kelembapannya.
          Rinitis kronik, sinusitis, inflasi kronik yang dialami perokok dan peminum alkohol, inhalasi uap yang merangsang infeksi, daerah berdebu, kebiasaan bernafas melalui mulut.
          Adapun keluhan dengan rasa gatal, kering, serta berlendir yang sukar dikeluarkan di tenggorokan, disertai batuk. Pada pemeriksaan tampak mukosa dinding posterior faring granular.
B.     Saran
Melalui makalah ini diharapkan :
©      Para pembaca dan masyarakat mampu memahami dan mengerti tentang penyakit faringitis ini
©      Para tenaga kesehatan mampu memberikan usulan keperawatan kepada pasien khususnya faringitis secara profesional
©      Disarankan agar masyarakat mampu menjaga kesehatan dengan menghindari alasan yang bisa mengakibatkan faringitis.




Minggu, 03 Juli 2011

ASKEP TRAUMA ESOFAGUS


BAB I

KONSEP MEDIK

A.   PENGERTIAN
            
         Trauma Esofagus adalah Trauma yang mengenai Esofagus yang disebabkan oleh Peradangan Esofagus. Dimana kita ketahui Esofagus adalah selang muskuler,dilapisi mukus yang membawa makanan dari mulut ke lambung. Esofagus berawal di dasar faring dan berakhir kira-kira 4 cm dibawah diagfragma.


B.    ETIOLOGI
        Refluk dari lambung ke Esofagus yang dapat disebabkan oleh tekanan intra gastrik yang lebih tinggi dari tekanan Esofagus. Tekanan Esofagus seharusnya minimal 3 mmHg. Bila kurang, maka akan terjadi refluk, Refluk ini akan mempengaruhi:
1.         Kemampuan spincter bawah untuk menahan refluk.
2.        Daya rangsang bahan refluk.
3.        Kepekaan selaput lendir esophagus terhadap bahan refluk Akibatrangsangan dari hasil refluk terhadap selaput lendir esophagus ini dapat menimbulkan peradangan dan menimbulkan Esofagitis.

C.    PATOFISIOLOGI
          Peradangan mukosa Esofagus dapat bersifat Akut atau Kronis, dan dijumpai dalam berbagai keadaan termasuk dalam gangguan motilitas yang baru dibicarakan. Suatu jenis Esofagitis yang tidak berbahaya dapat terjadi setelah menelan air panas. Sensasi panas substernal biasanya terjadi dalam waktu singkat dan spasme. Bentuk Esofagitis yang paling sering dijumpai disebabkan oleh refluk asam lambung, yang sering terjadi bersamaan Hernia hiatus.
          Bentuk Esofagitis berat yang akut dapat terjadi setelah menelan basa atau asam kuat. Basa kuat sering ditemukan pada sebagian rumah tangga dalam bentuk cairan pembersih, bila terminum akan menyebabkan terjadinya nekrosis kolikuativa berat pada mukosa. Terminumnya zat ini secara kebetulan paling sering terjadi pada anak kecil, tetapi kadang-kadang zat ini digunakan dalam percobaan bunuh diri. Gejala-gejala yang sering timbul adalah odinofagi,berat,demam,keracunan dan kemungkinan perforasi Esofagus disertai injeksi mediastinum dan kematian. Efek jangka panjang pada pasien adalah terbentuknya jaringan parut dan striktur Esofagus yang memerlukan dilatasi periodic dengan bougie selama sisa hidupnya.





D.   MANIFESTASI KLINIK
          
Gejala-gejala yang dapat ditimbulkan yaitu sebagai berikut:
1.         Pirosis (sensasi terbakar pada Esofagus), rasa panas yang terasa di belakang sternum bawah dan menjalar ke atas dank e atas epigastrium. Timbul setelah makan banyak, lebih nyeri lagi bila membungkukkan badan. Berbaring atau mengejang. Nyeri berkurang saat berdiri atau sesudah minum antacid.
2.        Pneumonitis/fibrosis paru. Dikarenakan hasil refluk teraspirasi saat klien tidur.


E.    PEMERIKSAAN DIAGNOSTIK

1.         Tes Bernstein, memberikan cairan NaCL melalui saluran yang dimasukkan lewat hidung menuju Esofagus. Apabilah nyeri/heart burn, berarti positif. Saat antacid dimasukkan melalui selang, maka nyeri akan hilang kembali.
2.        Esofagoskopi, Hiperemi beserta luka-luka kecil akan terlihat.
3.        Riwayat pasien membantu dalam mendapatkan diagnosis akurat. Tes diagnostik dapat mengcakup 12 sampai 36 jam pemantauan PH Esofagus untuk mengevaluasi derajat refluks asam; tes lain dapat meliputi Endoskopi atau menelan Barium.


F.    PENATALAKSANAAN
        Penatalaksanaan dimulai dengan penyuluhan pasien untuk menhindari beberapa factor:
     ü    Menghindari factor yang menurunkan tekanan stingfer Esofagus atau menyebabkan iritasi Esofagus.
     ü    Pasien di Instruksikan untuk makan diet rendah lemak, tinggi serat.
     ü    Menghindari kafein, tembakau, dan pepermin.
     ü    Memberi makan dengan jumlah sedikit tapi sering dan tidak makan lagi 2-3 jam sebelum tidur.
     ü    Posisi kapala ditinggikan  ± 60 cm saat tidur karena bila hanya menggunakan bantal saja justru dapat menyebabkan tekanan intra gaster meningkat dan menyebabkan refluk.
     ü    Mengurangi berat badan bagi yang obesitas untuk mengurangi tekanan
     ü    Bethanecol, meningkat tekanan SEB dan mempercepat pengosongan lambung.
     ü    Metoklopramid, meningkatkan tekanan SEB.
     ü    Simetidin,antagonis reseptor H2 mengurangi produksi asam lambung.
     ü    Mengurangi pekerjaan yang perlu mengangkat beban yang berat untuk mengurangi tekanan intra gaster.



BAB II

KONSEP KEPERAWATAN

A.   PENGKAJIAN
Observasi / temuan
*             Aktivitas / Istirahat
Gejala : ....... Kelemahan, kelelahan.
Tanda :......... takikardia, takipnea/hiperventilasi (respon terhadap aktivitas).

*             Sirkulasi
Gejala :......... Hipotensi (termasuk postural).
....................... Takikardia, distrimia (hipovolemia/hipoksemia).
....................... Kelemahan/nadi perifer lemah.
....................... Pengisian kapiler lambat/perlahan (vasokonstriksi).
........................... Warna kulit : pucat, sianosis (tergantung pada jumlah kehilangan darah).
........................... Kelembaban kulit/membran mukosa; berkeringat (menunjukkan status syok, nyeri akut, respons psikolog).


*             Integritas Ego

Gejala :........  . Faktor stress akut atau kronis (keuangan, hubungan, kerja).
.................. Perasaan tak berdaya.
Tanda :         Tanda ansietas, mis, gelisah, pucat, berkeringat, perhatian menyempit, gemetar, suara gemetar.

*             Eliminasi
Gejala :......... Riwayat perawatan di rumah sakit sebelumnya karena perdarahan GI atau masalah yang berhubungan dengan GI, mis.luka peptic/gaster,gastritis, bedah gaster, iradiasi area gaster. Perubahan pola defekasi/karakteristik feses.
Tanda :......... Nyeri tekan abdomen, distensi.

*             Makanan/Cairan
Gejala :......... Anoreksia, mual, muntah (muntah yang memanjang di duga obsruksi pilorik bagian luar sehubungan dengan luka duodenal).
....................... Masalah menelan; cegukan
....................... Nyeri ulu hati, sendawa bau asam, mual/muntah.
....................... Tidak toleran terhadap makanan, contoh makana pedas, coklat; diet khusus untuk penyakit ulkus sebelumnya.
Tanda :......... Muntah: warna kopi gelap atau merah cerah, dengan atau tanpa bekuan darah.
....................... Membran mukosa kering, penurunan produksi mukosa, turgor kulit buruk (perdarahan kronis).berat jenis urine meningkat.

*             Neurosensori
Gejala : ....... Rasa berdenyut, pusing/sakit kepala karena sinar, kelemahan,
....................... Status mental: Tingkat kesadaran dapat terganggu, rentang dari agak cenderung tidur, disorientasi/bingung, sampai pingsan dan koma (tergantung pada volume sirkulasi/oksigenasi).

*             Nyeri/Kenyamanan
Gejala :......... Nyeri, digambarkan sebagai tajam, dangkal, rasa terbakar, perih; nyeri hebat tiba-tiba dapat di sertai perforasi.
....................... Rasa ketidaknyamanan/distress samar-samar setelah makan banyak dan hilang dengan makan (gastritis akut).
....................... Tak ada nyeri (varises esofafageal) atau Gastritis).
....................... Faktor pencetus: Makanan, rokok, alcohol, penggunaan obat-obatan tertentu (salisilat, reserpin, antibiotic, ibuprofen), stresor psikologis.
Tanda :......... Wajah berkerut, berhati-hati pada area yang sakit, pucat berkeringat, perhatian menyempit.

*             Keamanan
Gejala :......... Alergi terhadap obat/sensitive, nis.,ASA
Tanda : ........ Peningkatan suhu
....................... Spider angioma, eritema palmar (menunjukkan sirosis/hipertensiportal).


B.    DIAGNOSA KEPERAWATAN

1.         Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan berhubungan dengan disfagia atau susah menelan.
2.        Ketakutan/Ansietas berhubungan dengan perubahan status kesehatan.
3.        Nyeri yang berhubungan dengan inflamasi Esofagus dan/atau nyeri ulu hati.
4.        Resiko infeksi berhubungan dengan adanya luka pada Esofagus.

C.   INTERVENSI KEPERAWATAN
1.         Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan berhubungan dengan disfagia atau susah menelan.
Tujuan : 1. Nafsu makan bertambah.
 2. Nutrisi terpenuhi dengan adekuat.


NDX I           :       Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh yang berhubungan dengan disfagia.
Intervensi :
1.   Berikan makanan dalam jumlah sedikit namun sering.
R/ Porsi makan sedikit tapi sering dapat memenuhi nutrisi dan mencegah muntah.
2. Anjurkan klien untuk mengunyah makanan dengan baik dan makan dengan Perlahan.
R/ memudahkan makanan masuk kedalam Esofagus.
3. Berikan perawatan oral teratur, sering, termasuk minyak untuk bibir.
R/ Mencegah ketidaknyamanan karena mulut dan bibir pecah yang disbabkan oleh pembatasan cairan dan selang NG.
4. Catat berat badan saat masuk dan bandingkan dengan saat berikutnya.
R/ Memberikan informasi tentang keadekuatan masukan diet/penentuan kebutuhan nutrisi.



2.        Ketakutan/Ansietas berhubungan dengan perubahan status kesehatan.
Tujuan : 1. Ansietas berkurang
2.Kecemasan teratasi

NDXII        :       Ketakutan /Ansietas berhubungan dengan perubahan status kesehatan.
     Intervensi :
3.     Awasi respon fisiologis mis, takipnea, palpitasi, pusing, sakit kepala, sensasi kesemutan.
R/ Dapat menjadi indikatif derajat takut yang dialami pasien tetapi dapat juga berhubungan dengan kondisi fisik/status syok.
4.     Catat petunjuk perilaku contoh gelisah, mudah terangsang, kurang kontak mata, perilaku melawan/menyerang.
R/ Indikator derajat takut yang dialami pasien mis.,pasien akan merasa tak terkontrol terhadap situasi atau mencapai status panik.
5.     Berikan informasi akurat, nyata tentang apa yang dilakukan, mis.,sensasi yang diharapkan, prosedur biasa.
R/ Melibatkan pasien dalam rencana asuhan dan menurunkan ansietas yang tak perlu tentang ketidaktahuan.
6.     Berikan lingkungan tenang untuk istrahat.
R/ Memindahkan pasien dari stresor luar meningkatkan relaksasi, dapat meningkatkan keterampilan koping.
7.     Berikan kesempatan pada orang terdekat untuk mengepresikan perasaan/masalah. Dorong orang terdekat untuk memperlihatkan perilaku nyata positif.
R/ Membantu orang terdekat menerima kecemasan/rasa takutnya sendiri yang dapat dipindahkan ke pasien. Meningkatkan perilaku
dukungan yang dapat mempermudah penyembuhan.

3.        Nyeri yang berhubungan dengan inflamasi Esofagus atau nyeri ulu hati.
Tujuan :    1. Menghilangkan Nyeri.

NDXIII      :       Nyeri berhubungan dengan inflamasi Esofagus atau nyeri ulu hati.
     Intervensi :
1.     Catat keluhan nyeri,termasuk lokasi, lamanya, intensitas (skala 0-10).
R/ Nyeri tidak selalu ada tetapi bila ada harus dibandingkan dengan gejala nyeri pasien sebelumnya dimana dapat membantu mendiagnosa etiologi pendarahan dan terjadinya komplikasi.
2.    Kaji ulang faktor yang meningkatkan atau menurunkan nyeri.
R/ Membantu dalam membuat diagnosa dan kebutuhan terapi.
3.    Identifikasi dan batasi makanan yang menimbulkan ketidaknyamanan.
R/ Makanan khusus yang menyebabkan distres yang bermacam-macam antara individu. Penelitian menunjukkan, merica berbahaya dan kopi (termasuk dekafein) dan dapat menimbulkan dispepsia.
4.    Bantu latihan rentang gerak aktif/pasif.
R/ Menurunkan kekakuan sendi, meminimalkan nyeri/ketidaknyamanan.

4.        Resiko infeksi berhubungan dengan adanya luka pada Esofagus
Tujuan : 1. Untuk mengurangi komplikasi.

NDXIV        :       Resiko infeksi berhubungan dengan adanya luka pada Esofagus.
     Intervensi :
1.     Auskultasi nadi apikal. Awasi kecepatan jantung/irama bila EKG kontinu ada.
R/ Perubahan distrimia dan iskemia dapat terjadi sebagai akibat hipotensi,hipoksia, asidosis, ketidakseimbangan elektrolit, atau pendinginan dekat area jantung bila lavase air dingin digunakan untuk mengontrol perdarahan.
2.    Kaji kulit terhadap dingin, pucat, berkeringat, pengisian kapiler lambat, dan nadi perifer lemah.
R/ Vasokontriksi adalah respon simpatis terhadap penurunan volume sirkulasi dan dapat terjadi sebagai efek samping pemberian vasopresin.
3.    Catat laporan nyeri abdomen, khususnya tiba-tiba, nyeri hebat atau nyeri menyebar kebahu.
R/ Nyeri di sebabkan oleh ulkus gaster sering hilang setelah perdarahan akut karena efek bufer darah. Nyeri berlanjut atau tiba-tiba dapat menunjukkan iskemia sehubungan dengan terapi vasokontriksi.
4.    Observasi kulit untuk pucat, kemerahan. Pijat dengan minyak. Ubah posisi dengan sering.
R/ Gangguan pada sirkulasi perifer meningkatkan resiko kerusakan kulit.


 EVALUASI
Hasil yang diharapkan :
1.     Mempertahankan nutrisi yang adekuat.
a.     Masukkan kalori dan cairan yang optimal
b.    Berat badan dipertahankan
2.    Kecemasan berkurang
a.     Menunjukkan rileks dan laporan ansietas menurun sampai tingkat dapat ditangani.
b.    Menyatakan rentang perasaan yang tepat.
3.    Melaporkan tak ada nyeri atau ketidaknyamanan setelah makan
a.      Menyatakan nyeri hilang
b.     Menunjukkan postur tubuh rileks dan mampu tidur/istirahat dengan tepat.
4.    Mempertahankan/memperbaiki perfusi jaringan dengan bukti tanda vital stabil, kulit hangat, nadi perifer teraba, GDA dalam batas normal, keluaran urine adekuat.
  



BAB III
PENUTUP

A.  Kesimpulan
Trauma Esofagus adalah Trauma dimana mukosa Esofagus mengalami peradangan,dapat terjadi secara akut atau kronik. Dimana kita ketahui Esofagus adalah selang muskuler,dilapisi mukus yang membawa makanan dari mulut ke lambung. Esofagus berawal di dasar faring dan berakhir kira-kira 4 cm dibawah diagfragma.
Gejala-gejala yang segera timbul adalah adinofagia berat, demam,keracunan dan kemungkinan perforasi esophagus disertai infeksi mediastinum dan kematian.
Adapun keluhan Trauma Esofagitis peptik: rasa terbakar di dada, nyeri di ulu hati, rasa mual. keluhan Trauma Esofagitis refluk basa pirosis, disfagia, adinofagia.

B.  Saran
Melalui makalah ini diharapkan :
©      Para pembaca dan masyarakat mampu memahami dan mengerti tentang penyakit Trauma Esofagus/Esofagitis ini.
©      Para tenaga kesehatan mampu memberikan usulan keperawatan kepada pasien khususnya Trauma Esofagus secara profesional.
©      Disarankan agar masyarakat mampu menjaga kesehatan dengan menghindari alasan yang bisa mengakibatkan Trauma Esofagus
.
 DAFTAR PUSTAKA

Brunner dan Suddarth. Keperawatan Medikal Bedah. Edisi 8 Volume 2. 1999. Penerbit Buku Kedokteran EGC. Jakarta.
Doengoes, Marilyn E. Rencana Asuhan Keperawatan Edisi 3. 1993. Penerbit Buku Kedokteran jakarta.
Inayah Iin, SKp. Asuhan Keperawatan Pada Klien Dengan Gangguan Sistem Pencernaan Edisi I. Penerbit Salemba Medika, Keperawatan. Jakarta.
Sylvia A. Price. Patofisiologi, Konsep Klinis Proses Penyakit. Volume I, Edisi 6. Penerbit Buku kedokteran, EGC. Jakarta.
Www. Internet Google.

·                              Beranda
·                              I LOVE YOU DALAM 99 BAHASA
·                              DOWNLOAD LAGU MARS PPNI
·                              SEJARAH KEPERAWATAN ISLAM
·                              VIDEO ZONE
·         
KONSEP BERMAIN PADA ANAK,ASKEP HIDROSEFALUS/HIDROCEFALUS,ASUHAN KEPERAWATAN KLIEN TRAUMA KAPITIS,ASKEP KLIEN DENGAN AMPUTASI,Omron Blood Pressure Monitor,TEORI STRESS DAN ADAPTASI,RENTANG RESPON KONSEP DIRI KLIEN
Hubungan/komunikasi Terapeutik Perawat dan Klien,ASKEP FARINGITIS,ASUHAN KEPERAWATAN (ASKEP) OSTEOSARCOMA,KESEHATAN REPRODUKSI MASA REMAJA,MENGGUGURKAN KANDUNGAN ( ABORSI),KANKER PAYUDARA ( CA. MAMMAE),KELUH - KESAH PERAWAT DI INDONESIA,MENJADI PERAWAT YANG LEBIH BAIK,PERAWATAN LUKA
ASKEP HARGA DIRI RENDAH (JIWA),ASKEP INFEKSI SALURAN KEMIH,ASKEP EFUSI PLEURA
ASKEP ASFIKSIA NEONATORUM,KELEBIHAN PERAWAT DARI DOKTER,MENJADIKAN PEKERJAAN SEBAGAI REKREASI,ASKEP TUMOR INTRACRANIAL (TUMOR OTAK)
ASKEP SINDROM CUSHING,ASUHAN KEPERAWATAN(ASKEP) PERILAKU BUNUH DIRI
ASUHAN KEPERAWATAN (ASKEP) TRAUMA ESOFAGUS,ASUHAN KEPERAWATAN OSTEOMILITIS
asuhan keperawatan dengan kanker serviks,ASUHAN KEPERAWATAN(ASKEP) HERNIA
ASUHAN KEPERAWATAN PADA PASIEN DENGAN “ LUKA BAKAR ‘’,ASUHAN KEPERAWATAN PADA KLIEN HIPERPARATIROIDISME.ASUHAN KEPERAWATAN DERMATITIS KONTAK
ASUHAN KEPERAWATAN PADA KLIEN dg Gangguan Kelenjar Adrenal
STANDAR ASUHAN KEPERAWATAN PADA BAYI DENGAN KELAINAN JANTUNG KONGENITAL
ASKEP PENYAKIT HIRSCPRUNG,ASUHAN KEPERAWATAN ENCEPHALITIS
ASUHAN KEPERAWATAN GLAUKOMA,askep pnemonia
INFARK MIOKARD AKUT,ASUHAN KEPERAWATAN DENGAN “ HERPES ZOSTER “(cacar air)
askep diare,kebutuhan cairan IWL dan SWL,askep hemoroiD, 
makalah hiv / aids,askep meningitis,askep hipertensi 












Komentar dengan akun facebook

link

SEO Stats powered by MyPagerank.Net
Google PageRank Checker Powered by  MyPagerank.Net Yahoo bot last visit powered by MyPagerank.Net

 
Design by Alamsyah Aris | Bloggerized by Alamsyah design | Maros Indonesia