Tekno Solution

Tekno Solution

Jumat, 06 April 2012

Askep GASTRITIS




A.  Konsep Medis
1.   Pengertian
Gastritis adalah peradangan lambung baik lokal atau menyebar pada mukosa lambung yang berkembang bila mekanisme protektif mukosa dipenuhi dengan bakteri atau bahan iritan lain (Reeves. J. Charlene). Umumnya gastritis dibedakan menjadi dua yaitu gastritis akut dan gastritis kronik.
Gastritis Akut
Gastritis akut adalah proses peradangan jangka pendek yang terkait dengan konsumsi agen kimia atau makanan yang mengganggu  dan merusak mukosa gastrik. Agen semacam ini mencakup bumbu, rempah-rempah, alkohol, obat-obatan, radiasi, kemoterapi dan mikroorganisme inefektif. Gastritis akut erosif adalah suatu peradangan permukaan mukosa lambung yang akut dengan kerusakan-kerusakan erosif. Erosif karena perlukaan hanya pada bagian mukosa.
Gastritis Kronik
Gastritis kronik adalah suatu peradangan bagian permukaan mukosa lambung yang menahun.. inflamasi lambung yang lama dapat disebabkan oleh ulkus benigna dan maligna dari lambung atau oleh bakteri Helicobacter pylory (H. pylory). Gastritis kronis dapat diklasifikasikan sebagai tipe A dan tipe B. Tipe A (sering disebut sebagai gastritis autoimun) diakibatkan dari perubahan sel pariental yang menimbulkan atrofi dan infiltrasi seluler. Anemia pernisiosa berkembang dengan proses ini dan terjadi pada fundus atau korpus dari lambung. Tipe B (kadang disebut sebagai gastritis H. pylory) mempengaruhi antrum dan pilorus (ujung bawah lambung dekat duodenum). Ini dihubungkan dengan bakteri H. pylory yang menimbulkan ulkus dinding lambung. Juga dikenal tiga bentuk gastritis kronik gastritis kronik superfisialis, gastritis kronik hipotrofik atau atrofi gaster dan gastritis kronik hipertrofikans.
2.   Anatomi Fisiologi
Saluran gastrointestinal (GI) adalah jalur panjang (panjang totalnya 23 – 26 kaki) yang berjalan melalui mulut melalui esofagus, lambung dan usus sampai anus. Esofagus terletak di mediastinum rongga torakal, anterior terhadap tulang punggung dan posterior terhadap trakea dan jantung. Selang yang dapat mengempis ini, yang panjangnya kira-kira 25 cm (10 inci), menjadi distensi bila makanan melewatinya.
Bagian sisa dari gastrointestinal terletak di dalam rongga peritoneal. Lambung ditempatkan di bagian atas abdomen sebelah kiri dari garis tengah tubuh, tepat dibawah diafragma kiri. Lambung adalah suatu kantung yang dapat berdistensi dengan kapasitas kira-kira 1500 ml. Inlet ke lambung disebut pertemuan esofago-gastrik. Bagian ini dikelilingi oleh cincin otot halus, disebut sfingter esofagus bawah (atau sfingter kardia), yang pada saat kontraksi, menutup lambung dari esofagus. Lambung dapat dibagi kedalam empat bagian anatomis : kardia (jalan masuk), fundus, korpus dan pilorus (outlet).
Lambung terdiri dari empat lapisan :
a.      Lapisan peritoneal luar yang merupakan lapisan serosa.
b.     Lapisan berotot yang terdiri atas tiga lapis, (a) serabut longitudinal, yang tidak dalam dan bersambung dengan otot usofagus, (b) serabut sirkuler yang paling tebal dan terletak di pilorus serta membentuk otot sfingter dan berada di bawah lapisan pertama dan (c) serabut oblik yang terutama dijumpai pada fundus lambung dan berjalan dari orifisium kardiak, kemudian membelok ke bawah melalui kurvatura minor (lengkung kecil).
c.      Lapisan submukosa yang terdiri atas jaringan areolar berisi pembuluh darah dan saluran limfe.
d.     Lapisan mukosa yang terletak di sebelah dalam, tebal dan terdiri atas banyak kerutan atau rugae yang hilang bila organ itu mengembang karena berisi makanan.
Membran mukosa dilapisi epitelium silindris dan berisi banyak saluran limfe. Semua sel-sel itu mengeluarkan sekret mukus. Permukaan mukosa ini dilintasi saluran-saluran kecil dari kelenjar-kelenjar lambung. Semua ini berjalan dari kelenjar lambung tubuler yang bercabang-cabang dan lubang-lubang yang salurannya dilapisi oleh epitelium silinder. Epitelium ini bersambung dengan permukaan mukosa dari lambung. Epitelium dari bagian kelenjar yang mengeluarkan sekret berubah-ubah dan berbeda-beda di beberapa daerah lambung.
Kelenjar kardia terletak paling dekat lubang yang ada di sebelah usofagus. Kelenjar di sini berbentuk tubuler, baik sederhana maupun bercabang dan mengeluarkan
sekret mukus alkali. Kelenjar dari fundus terdahulu bekerja; kelenjarnya tubuler dan berisi berbagai jenis sel. Beberapa sel, yaitu sel asam atau sel oxintik, menghasilkan asam yang terdapat dalam getah lambung. Dan yang lain lagi menghasilkan musin. Kelenjar pilorik. Kelenjar dalam saluran pilorik juga berbentuk tubuler. Terutama menghasilkan mukus alkali. Otot halus sirkuler di dinding pilorus membentuk sfingter piloris dan mengontrol lubang  diantara lambung dan usus halus. Secara ringkas, fungsi lambung antara lain :
a.      Lambung menerima makanan dan bekerja sebagai penampung untuk jangka waktu pendek.
b.     Semua makanan dicairkan dan dicampurkan dengan asam hidrokhlorida,dan dengan cara ini disiapkan untuk dicernakan oleh usus.
c.      Protein diubah menjadi pepton.
d.     Susu dibekukan dan kasein dikeluarkan.
e.      Pencernaan lemak dimulai dari lambung.
f.      Faktor antianemi dibentuk.
g.     Chime, yaitu isi lambung yang cair, disalurkan masuk duodenum.
Usus halus adalah segmen paling panjang dari saluran GI, yang jumlah panjangnya kira-kira dua pertiga dari panjang total saluran. Bagian ini membalik dan melipat diri yang memungkinkan kira-kira 7000 cm area permukaan untuk sekresi dan absorbsi. Usus halus dibagi ke dalam tiga bagian anatomik : bagian atas disebut duodenum, bagian tengah disebut jejenum dan bagian bawah disebut ileum. Duktus koledukus yang memungkinkan untuk pasase baik empedu dan sekresi pankreas, mengosongkan diri ke dalam duodenum pada ampula vater.
Pertemuan antara usus halus dan besar terletak di bagian bawah kanan duodenum. Ini disebut sekum. Pada pertemuan ini yaitu katup ileosekal, yang berfungsi untuk mengontrol pasase isi usus ke dalam usus besar dan mencegah refluks bakteri ke dalam usus halus. Pada tempat ini terdapat apendiks veriformis. Usus besar terdiri dari segmen asenden pada sisi kanan abdomen, segmen tranversum yang memanjang dari abdomen atas kanan ke kiri dan segmen desenden pada sisi kiri abdomen. Bagian ujung dari usus besar terdiri dari dua bagian : kolon sigmoid dan rektum. Tektum berlanjut pada anus. Jalan keluar anal diatur oleh jaringan otot lurik yang membentuk baik sfingter internal dan eksternal.
3.   Etiologi
Gastritis Akut
a.      Obat analgetik anti inflamasi (aspirin)
b.     Bahan kimia (lysol)
c.      Merokok
d.     Alkohol
e.      Stres fisis yang disebabkan oleh luka bakar, sepsis, trauma pembedahan, dll
f.      Refluks usus lambung
g.     Endotoksin
Bentuk terberat dari gastritis akut disebabkan oleh mencerna asam atau alkali kuat, yang dapat menyebabkan mukosa menjadi gangren atau perforasi. Pembentukan jaringan parut dapat terjadi, yang mengakibatkan obstruksi pilorus. Gastritis juga merupakan tanda pertama dari infeksi sistemik akut.
Faktor yang dapat menyebabkan rusaknya mukosa lambung adalah :
a.      Kerusakan mukosa barier sehingga difusi balik ion H+ meningkat
b.     Perfusi mukosa lambung terganggu
c.      Jumlah asam lambung meningkat
Faktor ini saling berhubungan, misalnya stres fisik yang dapat menyebabkan perfusi mukosa lambung terganggu sehingga timbul daerah-daerah infark kecil. Disamping itu, sekresi asam lambung juga terpacu. Pada gastritis refluks, gastritis karena bahan kimia, obat, mucosal barier rusak menyebabkan difusi balik ion H+ meningkat. Suasana asam yang terdapat pada lumen lambung akan mempercepat mucosal barier oleh cairan usus.
Gastritis Kronik
a.      Pada umumnya belum diketahui
b.   Sering dijumpai bersama dengan penyakit lain (anemia penyakit adisson dan gondok)
c.   ulkus lambung kronik atau oleh bakteri Helicobacter pylory (H. Pylory)
d.   Beberapa peneliti menghubungkan dengan proses imunologi
4.   Manifestasi Klinik
Gastritis Akut
a.   Muntah kadang disertai darah
b.   Nyeri epigastrium
c.   Nausea dan rasa ingin vomitus
Membran mukosa lambung menjadi edema dan hiperemik (kongesti dengan jaringan, cairan dan darah) dan mengalami erosi superfisial, bagian ini mensekresi sejumlah getah lambung yang mengandung sangat sedikit asam tetapi banyak mukus. Ulserasi superfusial dapat terjadi dan dapat menimbulkan hemoragi. Pasien dapat mengalami ketidaknyamanan, sakit kepala, malas, mual dan anoreksia, sering disertai dengan muntah dan cegukan. Beberapa pasien asimtomatik.
Mukosa lambung mampu memperbaiki diri sendiri setelah mengalami gastritis. Kadang-kadang, hemoragi memerlukan intervensi bedah. Bila makanan pengiritasi tidak dimuntahkan tetapi mencapai usus, dapat mengakibatkan kolik dan diare. Biasanya, pasien sembuh kira-kira sehari, meskipun napsu makan mungkin menurun selama 2 atau 3 hari kemudian.
Gastritis Kronik
a.   Sebagian asimtomatik
b.   Nyeri ulu hati
c.   Anoreksia
d.   Nausea
e.   Nyeri seperti ulkus peptik
f.    Anemia
g.   Nyeri tekan epigastrium
h.   Cairan lambung terganggu
i.    Aklorhidria
5.   Pemeriksaan Dignostik
Gastritis Akut
a.   Anamnesis
b.   Endoscopy dilanjutkan pemeriksaan biopsy
Gastritis Kronik
Pemeriksaan kadar asam lambung perlu dilakukan karena berhubungan dengan pengobatan. Pada gastritis kronik hipotropik dan atrofi gaster, kadar asam lambung menurun, sedang pada gastritis kronik superfisialis oleh hipertrofikan, kadar asam lambung normal atau meninggi. Foto rontgen dapat membantu yaitu dengan melihat gejala benda-benda sekunder yaitu hipersekresi, mukosa yang tebal dengan lipatan-lipatan tebal dan kasar, dll. Tetapi hal ini tidak memastikan diagnosis.
Gastritis tipe A dihubungkan dengan aklorhidria atau hipoklorhidria (kadar asam lambung klorida tidak ada atau rendah), sedangkan gastritis tipe B dihubungkan dengan hiperklorhidria (kadar tinggi dari asam hidroklorida). Diagnosis dapat ditegakkan dengan endoskopi, serangkaian pemeriksaan sinar-x gastrointestinal (GI) atas dan pemeriksaan histologis. Tindakan diagnostik untuk mendeteksi H. pylory mencakup tes serologis untuk antibody terhadap antigen H. pylory dan tes pernapasan.

6.   Penatalaksanaan
Gastritis Akut
Gastritis akut diatasi dengan menginstruksikan pasien untuk menghindari alkohol dan makanan yang mengganggu dan merusak mukosa gastrik sampai gejala berkurang. Bila pasien mampu makan melalui mulut, diet mengandung gizi dianjurkan. Bila gejala menetap, cairan perlu diberikan secara parenteral. Bila perdarahan terjadi, maka penatalaksanaannya serupa dengan prosedur yang dilakukan untuk hemoragi saluran gastrointestinal atas. Bila gastritis diakibatkan oleh mencerna makanan yang sangat asam atau alkali, pengobatan terdiri dari pengenceran dan penetralisasian agen penyebab.
a.   Untuk menetralisir asam digunakan antasida (mis, aluminium hidroksida) ; untuk menetral alkali digunakan jus lemon encer atau cuka encer.
b.   Bila korosi luas atau berat, emetic dan lavase dihindari karena bahaya perforasi.
Terapi pendukung mencakup intubasi, analgesic dan sedative, antasida serta cairan intravena. Endoskopi fiber-optik mungkin diperlukan. Pembedahan darurat mungkin diperlukan untuk mengangkat gangren atau jaringan perforasi. Gastrojejenostomi atau reseksi lambung mungkin diperlukan untuk mengatasi obstruksi pylorus.
Gastritis Kronik
Gastritis kronik diatasi dengan memodifikasi diet pasien, meningkatkan istirahat, mengurasi stress dan memulai farmakoterapi. H. pylory dapat diatasi dengan antibiotic (seperti tetrasiklin atau amoksisilin) dan garam bismut (pepto-bismol). Pasien dengan gastritis tipe A biasanya mengalami malabsorbsi vitamin B12 yang disebabkan oleh adanya antibody terhadap faktor intrinsik.
7.   Komplikasi
Gastritis Akut
a.   Perdarahan saluran cerna bagian atas berupa hematemesis dan melena, dapat berakhir sebagai syok hemoragik.
b.   Terjadi ulkus --> hebat
c.   Jarang terjadi perforasi
Gastritis Kronik
a.   Perdarahan saluran cerna bagian atas
b.   Ulkus
c.   Perforasi
d.   Anemia karena gangguan absorbsi vitamin B12
e.   Penyempitan daerah antrum pilorus
f.      Dihubungkan dengan ca lambung
B.  Konsep Asuhan Keperawatan
1.   Pengkajian
Selama mengumpulkan riwayat, perawat menanyakan tentang tanda dan gejala pada pasien. Apakah pasien mengalami nyeri ulu hati, tidak dapat makan, mual atau muntah ? Apakah gejala terjadi pada waktu kapan saja, sebelum atau sesudah makan, setelah mencerna makanan pedas atau pengiritasi atau setelah mencerna obat tertentu atau alcohol ? Apakah gejala berhubungan dengan ansietas, stress, alergi, makan atau minum terlalu banyak, atau makan terlalu cepat ? bagaimana gejala hilang ? Adakah riwayat penyakit lambung sebelumnya atau pembedahan lambung ? Riwayat diet ditambah jenis diet yang baru dimakan selama 72 jam, akan membantu. Riwayat lengkap sangat penting dalam membantu perawat untuk mengidentifikasi apakah kelebihan diet sembrono yang diketahui, berhubungan dengan gejala saat ini, apakah orang lain pada lingkungan pasien mempunyai gejala serupa, apakah pasien memuntahkan darah dan apakah elemen penyebab yang diketahui telah tertelan.
2.   Diagnosa Keperawatan
Berdasarkan semua data pengkajian, diagnosa keperawatan utama mencakup yang berikut :
a.   Ansietas berhubungan dengan pengobatan
b.   Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan masukan nutrien yang tidak adekuat
c.   Risiko kekurangan volume cairan berhubungan  dengan masukan cairan tidak cukup dan kehilangan cairan berlebihan karena muntah
d.   Kurang pengetahuan tentang penatalaksanaan diet dan proses penyakit
e.   Nyeri berhubungan dengan mukosa lambung teriritasi
3.   Perencanaan
a.   Ansietas berhubungan dengan pengobatan
      Tujuan : Klien akan menunjukkan rileks dan laporan ansietas menurun sampai tingkat dapat ditangani.
      Intervensi :
      Mandiri
      1).  Awasi respon fisiologis mis, takipnea, palpitasi, pusing, sakit kepala, dll.
            Rasional : Dapat menjadi indikatif derajat takut yang dialami pasien tetapi dapat juga berhubungan dengan kondisi fisik/ status syok.
      2).  Catat petunjuk perilaku contoh gelisah, mudah terangsang, kurang kontak mata, perilaku melawan/ menyerang.
            Rasional :  Indikator derajat takut yang dialami pasien mis, pasien akan merasa tak terkontrol terhadap situasi atau mencapai status panik.
      3).  Dorong pernyataan takut dan ansietas, berikan umpan balik.
            Rasional :  Membuat hubungan terapeutik. Membantu pasien menerima perasaan dan memberikan kesempatan untuk memperjelas kesalahan konsep.
      4).  Akui bahwa ini merupakan situasi menakutkan dan lainnya diekspresikan mirip dengan takut. Bantu pasien dalam menyatakan perasaan dengan mendengar dengan aktif.
            Rasional :  Bila pasien mengalami takut sendiri, validasi bahwa ini perasaan yang normal dapat membantu pasien merasa kurang terisolasi.
      5).  Berikan informasi akurat, nyata tentang apa yang dilakukan.
            Rasional :  Melibatkan pasien dalam rencana asuhan dan menurunkan ansietas yang tak perlu tentang ketidaktahuan.
      6).  Berikan lingkungan tenang untuk istirahat.
            Rasional :  Meningkatkan relaksasi, dapat meningkatkan ketrampilan koping.
      7).  Berikan kesempatan pada orang terdekat untuk mengekspresikan perasaan/ masalah. Dorong orang terdekat untuk memperlihatkan perilaku nyata positif.
            Rasional :  Membantu orang terdekat menerima kecemasan/ rasa takutnya sendiri yang dapat dipindahkan ke pasien. Meningkatkan perilaku dukungan yang dapat mempermudah penyembuhan.
      8).  Tunjukkan teknik relaksasi, contoh latihan napas dalam, bimbingan imajinasi
            Rasional :  Belajar cara untuk rileks dapat membantu menurunkan takut dan ansietas.
      Kolaborasi
      Berikan obat sesuai indikasi misal,
      1).  Diazepam (valium); klorazepat (tranxene); alprazolam (xanax).
            Rasional :  Sedatif/ tranquilizer dapat digunakan kadang-kadang untuk menurunkan ansietas dan meningkatkan istirahat, khususnya pada pasien ulkus.
      2).  Rujuk ke perawat psikiatrik/ penasehat agama
            Rasional :  Mungkin diperlukan bantuan tambahan selama penyembuhan untuk menerima konsekuensi kedaruratan situasi/ keputusan untuk perlunya/ kebutuhan perubahan pola hidup.
b.   Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan masukan nutrien yang tidak adekuat.
         Tujuan :    Klien akan menunjukkan berat badan stabil atau peningkatan berat badan sesuai sasaran dengan nilai laboratorium normal dan tak ada tanda malnutrisi.
      Intervensi :
      mandiri
      1).  Timbang berat badan tiap hari
            Rasional :  Memberikan informasi tentang kebutuhan diet/ keefektifan terapi.
      2).  Dorong tirah baring dan/ pembatasan aktivitas selam fase sakit akut.
            Rasional :  Menurunkan kebutuhan metabolik untuk mencegah penurunan kalori dan simpanan energi.
      3).  Berikan kebersihan oral.
            Rasional :  Mulut yang bersih dapat meningkatkan rasa makan.
      4).  Sediakan makanan dalam ventilasi yang baik, lingkungan menyenangkan dengan situasi tidak terburu-buru, temani.
            Rasional :  Lingkungan yang menyenangkan menurunkan stress dan lebih kondusif untuk makan.
      5).  Identifikasi makanan yang dapat menyebabkan iritasi gaster dan miningkatkan asam gaster misalnya coklat, makanan pedas, dll
            Rasional :  Membatasi/ menghindari makanan ini menurunkan risiko perdarahan gaster/ ulkus pada beberapa individu.
      Kolaborasi
      1).  Tambahkan diet sesuai indikasi misalnya, cairan jernih maju menjadi makanan yang dihancurkan, kemudian protein tinggi, tinggi kalori dan rendah serat sesuai indikasi.
            Rasional :  Memungkinkan saluran GI untuk mematikan kembali proses pencernaan. Protein perlu untuk penyembuhan integritas jaringan.  
      2).  Berikan obat sesuai indikasi, contoh :
            a).  Donnatal, natrium barbital dengan belladonna (Butibel); propantelen bromide (ProBanthine).
                  Rasional :  Antikolinergik diberikan 15 – 30 menit sebelum makan memberikan penghilangan kram, menurunkan motilitas gaster dan meningkatkan waktu untuk absorbsi nutrien.
            b).  Besi (Imeron yang disuntikan).
                  Rasional :  Mencegah/ mengobati anemia. Rute oral untuk tambahan besi tidak efektif karena gangguan usus yang berat menurunkan absorbsi.
            c).  Vitamin B12 (Crytimin, Rubisol).
                  Rasional :  Malabsorbsi Vitamin B12 akibat kerusakan lambung yang gagal mengeluarkan secret khusus. Penggantian mengatasi depresi sumsum tulang karena proses inflamasi lama, meningkatkan produksi SDM/ memperbaiki anemi.
            d).  Asam folat (Folvite).
                  Rasional :  Kekurangan folat sehubungan dengan penurunan masukan/ absorbsi, efek terapi obat (Azulfidine).
            e).  Berikan nutrisi parenteral total. Terapi IV sesuai indikasi.
                  Rasional :  Program ini mengistirahatkan saluran GI sementara memberikan nutrisi penting.
c.   Risiko kekurangan volume cairan berhubungan  dengan masukan cairan tidak cukup dan kehilangan cairan berlebihan karena muntah.
      Tujuan :    Klien akan menunjukkan perbaikan keseimbangan cairan.
      Intervensi :
      Mandiri
      1).  Catat karakteristik muntah dan atau drainase.
            Rasional :  Membantu dalam membedakan penyebab distress gaster. Kandungan empedu kuning kehijauan menunjukkan bahwa pylorus terbuka. Kandungan fekal menunjukkan obstruksi usus. Darah merah cerah menandakan adanya atau perdarahan arterial akut, mungkin karena ulkus gaster; darah merah gelap mungkin darah lama (tertahan dalam usus) atau perdarahan vena dari varises. Penampilan kopi gelap diduga sebagian darah tercerna dari area perdarahan lambat. Makanan tak tercerna menunjukkan obstruksi atau tumor gaster.
      2).  Awasi tanda vital; bandingkan dengan hasil normal pasien/ sebelumnya.
            Rasional :  Perubahan TD dan nadi dapat digunakan untuk perkiraan kasar kehilangan darah.
      3). Ukur CVP, bila ada
            Rasional :  Menunjukkan volume sirkulasi dan respon jantung terhadap perdarahan dan penggantian cairan; misal, nilai CPV antara 5 dan 20 cmH2O biasanya menunjukkan volume adekuat.
      4).  Awasi masukan dan haluaran dan hubungkan dengan perubahan berat badan. Ukur kehilangan darah/ cairan melalui muntah, penghisapan gaster/lavase dan defekasi.
            Rasional :  Memberikan pedoman untuk penggantian cairan.
      5).  Pertahankan tirah baring; mencegah muntah dan tegangan pada saat defekasi. Jadwalkan aktivitas untuk memberikan periode istirahat tanpa gangguan. Hilangkan rangsangan berbahaya.
            Rasional :  Aktivitas/ muntah meningkatkan tekanan intra-abdominal dan dapat mencetuskan perdarahan lanjut.
      6).  Tinggikan kepala tempat tidur selama pemberian antasida.
            Rasional :  Mencegah refluks gaster dan aspirasi antasida dimana dapat menyebabkan komplikasi paru serius.
      7).  Berikan cairan jernih/ lembut bila masukan dimulai lagi. Hindari kafein dan minuman berkabonat
            Rasional :  kafein dan minuman berkarbonat merangsang produksi asam hidroklorida, kemungkinan potensial perdarahan ulang.
      Kolaborasi :
      Berikan obat sesuai indikasi :
      1).  Antasida misal Amphojel, Maalox. Mylanta, Riopan.
            Rasional :  Antasida dapat digunakan untuk mempertahankan pH gaster pada tingkat 4,5 atau lebih tinggi untuk menurunkan risiko perdarahan ulang.
      2).  Antiemetik misal, metoklopramid (Reglan); proklorperazin (Compazin).
            Rasional :  Menghilangkan mual dan mencegah muntah.
      3).  Tambahan vitamin B12
            Rasional :  Pada gastritis atropik, factor intrinsic yang perlu untuk absorpsi B12 dari saluran GI tidak disekresi dan individu dapat mengalami anemia pernisiosa.
      4).  Antibiotik
            Rasional :  Mungkin digunakan bila infeksi penyebab gastritis kronik (Campilobacter pylory) atau ulkus (Helicobacter pylory).
d.   Kurang pengetahuan tentang penatalaksanaan diet dan proses penyakit.
      Tujuan :    Klien akan menyatakan pemahaman penatalaksanaan diet dan proses penyakit.
      Intervensi :
      Mandiri
      1).  Bantu pasien untuk mengidentifikasi hubungan masukan makanan dan pencetus termasuk menghindari iritan gaster misalnya, merica, kafein, alcohol, minuman karbonat, merokok, makanan pedas, dll.
            Rasional :  Kafein dan rokok merangsang keasaman lambung. Alkohol mendukung untuk erosi mukosa lambung. Makanan atau minuman tertentu meningkatkan sekresi lambung dan nyeri.
                        2).  Anjurkan makan sedikit tapi sering/ makanan kecil, mengunyah makanan dengan perlahan, makan pada waktu yang teratur dan menghindari makan “banyak”.
            Rasional :  Sering makan mempertahankan netralisasi HCl, melarutkan isi lambung pada kerja minimal asam mukosa lambung. Makan sedikit mencegah distensi gaster yang berlebihan.
      3).  Tentukan persepsi pasien tentang proses penyakit.
            Rasional :  Membuat pengetahuan dasar dan memberikan kesadaran kebutuhan belajar individu.
      4).  Berikan/ kaji ulang informasi tentang etiologi penyakit, penyebab/ efek hubungan perilaku pola individu dan cara menurunkan risiko/ fackor pendukung. Dorong untuk bertanya.
            Rasional :  Memberikan pengetahuan dasar dimana pasien dapat membuat pilihan informasi/ keputusan tentang masa depan dan kontrol masalah kesehatan.
      5).  Diskusikan pentingnya menghentikan merokok.
            Rasional :  Penyembuhan ulkus dapat melambat pada orang yang merokok. Merokok juga berhubungan dengan peningkatan risiko terjadinya/ berulangnya ulkus peptikum.
      6).  Rujuk ke kelompok pendukung/ konseling untuk perubahan/ penurunan pola hidup/ perilaku sehubungan dengan faktor risiko misalnya penyalahgunaan zat/ klinik berhenti merokol.
            Rasional :  Penggunaan alkohol mempunyai insiden lebih tinggi terjadi varises esofagus/ gastritis dan perokok sigaret sehubungan dengan ulkus peptikum dan melambatnya penyembuhan.
e.   Nyeri berhubungan dengan mukosa lambung teriritasi.
      Tujuan :    Klien akan menyatakan nyeri hilang.
      Intervensi :
      Mandiri
      1).  Catat keluhan nyeri, termasuk lokasi, lamanya, intensitas (skala 0 – 10).
            Rasional :  gejala nyeri pasien dapat membantu mendiagnosa etiologi perdarahan dan terjadinya komplikasi.
      2).  Kaji ulang faktor yang meningkatkan atau menurunkan nyeri.
            Rasional :  Membantu dalam membuat dignosa dan kebutuhan terapi.
      3).  Catat petunjuk nyeri nonverbal, contoh gelisah, menolak bergerak, berhati-hati dengan abdomen, takikardia, berkeringat. Selidiki ketidaksesuaian antara petunjuk verbal dan nonverbal.
            Rasional :  Petunjuk nonverbal dapat berupa fisiologis dan psikologis dan dapat digunakan dalam menghubungkan petunjuk verbal untuk mengidentifikasi luas/ beratnya masalah.
      4).  Berikan makan sedikit tapi sering sesuai indikasi untuk pasien.
            Rasional :  Makanan mempunyai efek penetralisir asam, juga menghancurkan kandungan gaster. Makan sedikit mencegah distensi dan haluaran gastrin.
      5).  Identifikasi dan batasi makanan yang menimbulkan ketidaknyamanan.
            Rasional :  Makanan khusus yang menyebabkan distres bermacam-macam antara individu. Penelitian menunjukkan merica berbahaya dan kopi (termasuk dekafein) dapat menimbulkan dyspepsia.
      6).  Bantu latihan rentang gerak aktif/ pasif.
            Rasional :  Menurunkan kekakuan sendi dan meminimalkan nyeri/ ketidaknyamanan.
      7).  Berikan peralatan oral sering dan tindakan kenyamanan, misalnya pijatan punggung, perubahan posisi.
            Rasional :  Napas bau karena tertahannya sekret menimbulkan tak napsu makan dan dapat meningkatkan mual. Gingivitis dan masalah gigi dapat meningkat.
      Kolaborasi
      1).  Berikan dan lakukan perubahan diet.
            Rasional :  Pasien mungkin dipuasakan pada awalnya. Bila masukan oral dimungkinkan, pilihan makanan akan tergantung pada dignosa dan etiologi perdarahan.
      2).  Gunakan susu biasa dari pada susu skim, bila susu dimungkinkan.
            Rasional :  Lemak pada susu biasa dapat menurunkan sekresi gaster; namun kalsium dan kandungan protein (khususnya susu skim) meningkatkannya.
      3).  Berikan obat sesuai indikasi, misalnya
            a).  Analgesik, misal morfin sulfat.
                  Rasional :  Mungkin pilihan narkotik untuk menghilangkan nyeri akut/ hebat dan menurunkan aktivitas peristaltik.
            b).  Aseaminofen (Tylenol).
                  Rasional :  Meningkatkan kenyamanan dan istirahat.
            c).  Antasida
                  Rasional :  Menurunkan keasaman gaster dengan absorbsi atau dengan menetralisir asam lambung.
            d).  Antikolinergik misalnya belladonna, atropine.
                  Rasional :  Diberikan pada waktu tidur untuk menurunkan motilitas gaster, menekan produksi asam, memperlambat pengosongan gaster dan menghilangkan nyeri nocturnal sehubungan dengan ulkus gaster.
4.   Evalusi
Hasil yang diharapkan :
a.   Menunjukkan berkurangnya ansietas.
b.   Menghindari makan makanan pengiritasi atau minuman yang mengandung kafein atau alkohol serta masukan nutrisi yang adekuat.
c.   Mempertahankan keseimbangan cairan.
d.   Mematuhi program pengobatan.
e.   Melaporkan nyeri berkurang.
           



Selasa, 28 Februari 2012

Kreasiku


                 Dalam manjalani kehidupan sehari-hari terkadang saya mengalami kepenatan ( Kekappuan), Maka untuk mengatasinya, saya iseng-iseng nyiptain lagu walaupun suara saya pas-pasan. Judul nya Cinta Palsu . Lagu ini menceritakan kisah asmara yang saya dapatkan selama ini, Mungkin saya memang tak pantas untuk di cintai. Silahkan dengar yah…ingat…!!!! Jangan ditertawakan… eh… jangan lupa komentarnya yah!






ini ada juga video amatir yang aku tapi bukan 100 persen karyaku













Ini ada juga foto kehidupaku








Tentang saya

Aku Bukanlah Insan Yang Sempurna.

NAMA : ALAMSYAH ARIS

TTL       : Maros, 31 Mei 1991 
Suku    :  Bugis 

                     Facebook  : alam on teruzz
                     Twitter      : @Alamsyah_Aris1


Riwayat pendidikan
SD Muhammadiyah 1 Maros (Tahun 1997-200)
SMPN 2 Maros (Tahun 2003-2006)
SMAN 1 Bantimurung(Tahun 2006-2009)
Akper Yapenas 21 Maros (angkatan ’09)

Saya lahir  di lingkungan keluarga sederhana Di Kabupaten Maros Sulawesi Selatan. Tepatnya Di Lingkungan Talamangape. 

Disanalah saya di besarkan oleh PNS tepatnya Ayah Saya  ( Drs.M.Aris Wahid) dan Guru Sekolah dasar Tepatnya Ibu Saya (ST Aisyah), Dengan 3 orang kakak (dr. M.Ikbal, Muh.Jamil S.si, Mubarak S.pd)  Dan Seorang Adik Bernama Muh. Tahri.  Tak bisa di pungkiri memang sulit untuk membesarkan dan menyekolahkan 5 Anak laki-laki yang super bandel, Tapi di raut wajah kedua orang tuaku Itu tak pernah ada kata mengeluh sehingga ketiga kakakku berhasil menjadi Sarjana.


Cita-citaku dari kecil cuman satu dan belum terwujud hingga sekarang, Yakni ingin meneteskan air mata kedua orang tuaku tapi air mata tersebut adalah air mata kebahagiaan melihat saya berhasil. Dibelakang seorang yang sukses pasti ada restu dan do’a orang tua untuk anaknya.


Motivasi saya untuk menekuni dunia blogger yakni ingin berbagi dan bertukar informasi dengan orang banyak, jadi tujuan utama saya bukanlah mencari materi.

Mungkin itulah data diri saya, kalau mau tau lebih dekat tentang saya silahkan add saya di facebook atau follow saya di twitter. Saya tunggu yah….




Senin, 27 Februari 2012

Perawat tercantik di Indonesia versi om google


Dalam lingkup pelayanan kesehatan, Agar pelayanannya terkesan menarik maka petugas kesehatannya harus mendukung dengan penampilan menarik pula, berikut foto-foto perawat tercantik versi om googgle. jangan ngiler yah...


yang ini nama nya Nuri Ekawati. 



Senin, 13 Februari 2012

ASKEP FARINGITIS



BAB I
KONSEP MEDIS

A.  PENGERTIAN
Faringitis adalah inflamasi febris yang disebabkan oleh infeksi virus yang tak terkomplikasi biasanya akan menghilang dalam 3 sampai 10 setelah awitan.
B.   ETIOLOGI
Penyebab dari faringitis dapat bervariasi dari organisme yang menghasilkan eksudat saja atau perubahan kataral sampai yang menyebabkan edema dan bahkan ulserasi. Organismeyang ditemukan termasuk streptokokus, pneumukokus, dan basilus influenza, diantara organisme yang lainnya.
C. PATOFISIOLOGI
Pada stadium awal, terdapat hiperemia, kemudian edama dan sekresi yang meningkat. Eksudat mula-mula serosa tapi menjadi menebal atau berbentuk mukus, dan kemudian cenderung menjadi kering dan dapat melekat pada dinding faring. Dengan hiperemia, pembuluh darah dinding faring menjadi melebar. Bentuk sumbatan yang berwarna putih, kuning, atau abu-abu terdapat dalam folikel atau jaringan limfoid. Tidak adanya tonsila,dan tampak bahwa folikel limfoid atau bercak-bercak pada dinding faring posterior,atau terletak lebih kelateral, mejadi meradang dan membengkak.
Dengan kemajuan dalam identifikasi virus, laporan masalah klinis yang berhubungan dengan penyebab virus menjadi lebih banyak. Penting untuk berhati-hati terhadap kemungkinan penyebab virus pada faring yang berhubungan dengan adenopati tidak adanya pembentukan membran faring folikularis. Pembentukan vesikel pada membran mukosa, seperti herpes, dugaan kuat penyebabnya adalah virus.
D. MENIFESTASI KLINIS
Penderita mengeluh rasa kering atau gatal pada tenggorok. Dinding faring kemerahan dan menjadi kering , gambaran seperti kaca dan dilapisi oleh sekresi mukus, jaringan limfoid biasanya tampak merah dan membengkak dan disertai dengan demam, malaise, dan sakit tenggorok juga bisa timbul, serak, batuk dan rhinitis.
Infeksi firus tidak terkomplikasi biasanya hilang dengan segera 3 sampai 10 hari. Namun faringitis yang disebabkan oleh bakteri yang lebih virulen seperti streptococcus group A adalah penyakit yg lebih parah selama fase akut dan jauh lebih penntina dari insiden bahaya komplikasi. Kultur tenggorok merupakan cara utama dalam menentukan organisme penyebab setelah diresepkan terapi yang sesuai. Usap nasal dan kultur darah dapat juga dilakukan untuk mengidentifikasi organisme.

E.   PENATALAKSANAAN
         Jika penyebabnya adalah bakterial maka pengobatan dapat mencakup agens antimikrobial untuk streptokokus group A, penisilin merupakan obat pilihan. Namun jika pasien elergi maka digunakan sepalosporin.
         Diet cair atau lunak diberikan selama tahap akut penyakit pada kondisi yang para cairan diberikan secara intravena dan pasien didorong untuk memperbanyak minum air untuk mencegah penyebaran infeksi diinstruksikan untuk menghindari kontak dengan orang lain sampai demam benar-benr menghilang.

BAB II
KONSEP KEPERAWATAN

A.    PENGKAJIAN
      INTEGRITAS EGO
Gejala :       Perasaan takut akan kehilangna suara
Kuatir bila pembedahan mempengaruhi hibungan keluarga, kemampuan kerja dan keuangan
Tanda      : ansietas, depresi

MAKANAN / CAIRAN
Gejala     :  kesulitan menelan
Tanda      :  kesulitan menelan , mudah tersedak, bengkak, inflamasi/drainase
Oral, kebersihan gigi buruk.

HYGIENE
Tanda      :  kemunduran kebersihan gigi
Kebutuhan bantuan perawatan dasar

NEUROSENSORI
Gejala     :  kesemutan, parestesia otot wajah
Tanda      : hemiparesis wajah (keterlibatan parotid dan sub mandibular)
Kesulitan menelan, kerusakan membran mukosa

NYERI/KENYAMANAN
Gejala     : Sakit tenggorok, penyebaran nyeri ketelingan dan wajah, nyeri lokal
Pada orofaring
Tanda      : Prilaku berhati hati, gelisah, nyeri wajah, gangguan tonus otot

PERNAPASAN
Gejala     : Riwayat merokok, penyakit paru kronis, batuk dengan/tanpa sputum
Tanda      : Dispnea, sputum, darah

KEAMANAN
Gejala     : Perubahan pendengaran

INTERAKSI SOSIAL
Gejala     :  Kurang dukungan sistem keluarga, masalah tentang kemampuan berkomunikasi, bergabung dalam interaksi sosial.
Tanda      : Bicara kacau, enggan untuk bicara

B.     DIAGNOSA
1.      Bersihan jalan napas tidak efektif berhubungan dengan sekresi berlebihan sekunder akibat proses inflamasi.
2.      Nyeri berhubungan dengan iritasi jalan napas`atas sekunder akibat infeksi
3.      Kerusakan komunikasi verbal berhubungan dengan iritasi jalan napas atas.
4.      Devfisit volumer cairan berhubungan dengan peningkatan kehilangan cairan sekunder akibat diaforesis yang berkaitan dengan demam.
5.      Kurang pengetahuan mengenai pencehgahan infeksi berhubungan dengan kurang terpajan tentang peyakit dan pengobatan serta prosedur perawatan.

C.    INTERVENSI
NDX I     :  Jalan napas tidak efektif berhubungan dengan sekresi yang berlebihan
Intervensi :
1.    Awasi frekuensi/kedalaman pernapasan, catat kemudahan bernapas, auskultasi bunyi napas, selidiki kegelisahan, dispnea, terjadinya sianosis.
R/ Perubahan pada pernapasan, penggunaan otot aksesori pernapasan atau adanya ronchi diduga karena retensi sekret.
2.   Tinggikan kepala 30 – 40 derajat
R/ Memudahkan drainase sekret, kerja pernapasan dan ekspansi paru.
3.   Dorong menelan bila pasien mampu
R/ Mencegah pengumpulan sekret untuk membersihkan oral, menurunkan resiko aspirasi.
4.   Dorong batuk efektif dan napas dalam
R/ Memobilisasi sekret umtuk membersihkan jalan napas atas dan membantu mencegah komplikasi pernapasan.

NDX 2    : Nyeri berhubungan dengan iritasi jalan napas atas akibat infeksi
Intervensi :
1.   Kaji nyeri, catat lokasi, karakteristik, skala dan selidiki serta laporkan perubahan nyeri yang tepat.
R/  Berguna dalam pengawasan keefektifan obat, kemajuan
2.   Pantau tanda vital
R/ Perubahan frekuensi jantung atau TD menunjukkan bahwa pasien mengalami nyeri.
3.      Berikan analgetik sesuai in dikasi
R/ Menghilangkan nyeri, mempermudah kerjasama dengan intervensi terapi lain.

NDX 3    :  Kerusakan komunikasi verbal berhubungan dengan iritasi jalan nafas atas.
Intervensi :
1.   Kaji kemampuan pasien untuk berkomunikasi
R/ Alasan untuk dukungan ventilator jangka panjang bermacam macam, pasien apat sadar dan beradaptasi pada penullisan.
2.   Tentukan apakah pasien mempunyai gangguan komunikasi lain contoh pendengaran, penglihatan.
R/ Adanya masalah lain akan mempengaruhi rencana untuk pilihan komunikasi
3.    Berikan cara yang tepat dan kontinyu untuk memanggil perawat, contoh bel pemanggil atau lampu
R/ Pasien memerlukan keyakinan bahwa perawat waspada dan akan bererspon terhadap panggilan.
4.    Berikan pilihan cara berkomunikasi yang tepat bagi kebutuhan pasien misalnya papan dan pensil, bahasa isyarat.
R/ Memungkinkan pasien untuk menyatakan kebutuhan/masalah
5.   Berikan komunikasi nonverbal, contoh sentuhan dan gerak fisik.
R/ Mengkomunikasikan masalah dan memenuhi kebutuhan kontak dengan orang
6.      Ingatkan pasien untuk tidak bersuara sampai dokter memberi izin.
R/ Meningkatkan penyembuhan pita suara dan membatasi potensial disfungsi pita permanen.

NDX IV   :  Defisit volume cairaengan berhubungan dengan peningkatan kehilangan cairan akibat diaforesia yang berkaitan dengan demam.


NDX V    :  kurang pengetahuan berhubungan dengan kurang terpajan tentang informasi penyakit dan pengobatannya.
Intervensi
1.      kaji potensial kerja sama dalam program pengobatan dirumah termasuk orang terdekat sesuai indikasi.
R/ orang terdekat memerlukan keterlibatan bila proses penyakit berat atau berubah untuk batasan kesembuhan.
2.      berikan informasi dalam bentuk-bentuk dan segmen yang singkat dan sederhana.
R/ menurunnya rentang perhatian pasien dapat menurunkan kemampuan untuk menerima /memproses dan mengingat/menyimpan informasi yang diberikan.
3.      diskusikan mengenai kemungkinan proses penyembuhan yang lama.
R/ proses pemulihan dapat berlangsung dalam beberapa minggu/bulan dan informasi yang dapat mengenai harapan dapat menolong pasien untuk mengatasi ketidak mampuannya dan juga menerima perasaan tidak nyaman yang lama.

D.    EVALUASI
Hasil yang diharapkan :
1.      mempertahankan jalan napas tetap paten dengan mengatasi sekresi
a.       melaporkan penurunan pada kongesti
b.       mengambil posisi terbaik untuk memudahkan drainase sekresi
2.      melaporkan perasaan lebih nyaman
a.       mengikuti tindakan untuk mencapai kenyamanan analgesic, kantung panas, kumur, istrahat.
b.       Memperagakan higyne mulut yang adekuat.
3.      menunjukan kemampuan untuk mengkomunikasikan kebutuhan, keinginan dan tingkat kenyamanan.
4.      mempertahankan masukan cairan yang adekuat.
5.      mengidentifikasi strategi untuk mencegah infeksi jalan napas atas dan reaksi alergi.
6.      menunjukan tingkat pengetahuan yang cukup dan melakukan perawatan diri secara adekuat.
7.      bebas dari tanda dan gejala infeksi:
a.       menunjukan tanda-tanda vital normal (suhu tubuh, frekuensi nadi dan pernapasan)
b.       tidak terdapat drainase plurelen
c.       bebas dari nyeri pada telinga, sinus, dan tenggorokan.
  

BAB III
PENUTUP

A.    Kesimpulan
          Faringitis adalah gangguan saluran pernafasan bagian atas, timbul akibat rangsangan dan infeksi pada faring karena terjadinya rinitis atrofi, sehingga udara pernapasan tidak diatur suhu dan kelembapannya.
          Rinitis kronik, sinusitis, inflasi kronik yang dialami perokok dan peminum alkohol, inhalasi uap yang merangsang infeksi, daerah berdebu, kebiasaan bernafas melalui mulut.
          Adapun keluhan dengan rasa gatal, kering, serta berlendir yang sukar dikeluarkan di tenggorokan, disertai batuk. Pada pemeriksaan tampak mukosa dinding posterior faring granular.
B.     Saran
Melalui makalah ini diharapkan :
©      Para pembaca dan masyarakat mampu memahami dan mengerti tentang penyakit faringitis ini
©      Para tenaga kesehatan mampu memberikan usulan keperawatan kepada pasien khususnya faringitis secara profesional
©      Disarankan agar masyarakat mampu menjaga kesehatan dengan menghindari alasan yang bisa mengakibatkan faringitis.




Sahabat Terbuang oleh Asmara



Cinta merupakan Sebuah anugerah yang diberikan oleh Tuhan. Kalau mau di lisankan, semua pulpen dan kertas yang ada di dunia ini akan habis apabila di gunakan untuk merangkum semua kata cinta di dunia ini.  Kalau bicara tentang Asmara, Pasti Tak bisa dipisahkan dengan kata pacar kalau bahasa bugisnya sih!!! Canring, Bahasa Inggrisnya!!! Honey. Tapi di jaman sekarang ini jalinan persahabatan sering terputus, dipisahkan asmara. Mana yang berharga, sahabat!! Atau pacar!!!. Tak usah dijawab yah. Saya akan mengulas ini lebih banyak, walaupun blog ku ini bertema keperawatan. 

Kata H. Rhoma Irama, Dunia ini tak berarti tanpa cinta. Tapi menurut saya Dunia Ini tak berarti tanpa sahabat. Pacar itu gampang dicarinya tapi, Untuk mencari sahabat sejati itu sangat susah. Mencari sahabat sejati itu bagaikan Mencari tetesan air mata yang jatuh di samudera atlantis. Hehe.Maka dari itu janganlah korbankan hubungan persahabatanmu karena asmara, Pintarlah membagi waktu. 

                Dalam potingan ini, bukannya saya mempengaruhi Anda untuk tidak berpacaran. Tapi Untuk mengingatkan Anda Untuk memperhatikan juga sahabat anda, Istilahnya Anda bisa membagi waktu Untuk pacar n sahabat. Karena disaat bagaimana pun sahabat sejati itu selalu ada baik disaat senang maupun duka. . Anda tak patut menangisi kehilangan pacar, yang patut ditangisi adalah kehilangan sahabat sejati.

                Mulai sekarang tulis di hati dan status facebook anda kalimat berikut, Me And My honey Always For my Best friend .
Atau kalimat bugis ini
Deggagga canring!!! biasami tu, Tapi rekko deggaga silong!!! De’ na biasa tu.
Artinya:
(tak ada pacar!!! Itu biasa, Tapi apabila tak ada sahabat!!! Itu Luar biasa)

Komentar dengan akun facebook

link

SEO Stats powered by MyPagerank.Net
Google PageRank Checker Powered by  MyPagerank.Net Yahoo bot last visit powered by MyPagerank.Net

 
Design by Alamsyah Aris | Bloggerized by Alamsyah design | Maros Indonesia